Dinas Pertanian Lombok Timur Rehabilitasi Lahan Kebun Kopi untuk Genjot Produktivitas
Wahyu Widiyantoro July 06, 2026 10:04 AM

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Rozi Anwar 

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TIMUR - Dinas Pertanian Lombok Timur menyoroti masih minimnya produktivitas kopi di wilayah Sembalun. 

Para pekebun diminta mengevaluasi sistem penanaman serta merehabilitasi kebun mereka sebagai langkah strategis guna mendongkrak hasil panen.

Kepala Bidang Perkebunan Distan Lotim, Mirza Sofian, mengungkapkan bahwa capaian produksi saat ini hanya berkisar 1 hingga 1,5 ton per hektare. 

Ia menilai hal ini erat kaitannya dengan intensitas perawatan yang belum maksimal oleh para petani.

Selain perawatan, metode tanam yang diterapkan juga dinilai kurang ideal. 

Baca juga: Desa Tepal Ditargetkan Jadi Kawasan Agrowisata, 2.500 Pohon Kopi dan Durian Ditanam

Mirza menjelaskan, sistem tumpang sari yang diterapkan kerap membuat satu lahan dipenuhi terlalu banyak jenis tanaman. 

Tak jarang, pohon kopi hanya ditanam secara asal tanpa adanya pemeliharaan yang serius. 

Padahal, pemerintah telah menyediakan kuota pupuk subsidi yang dapat dimanfaatkan. 

Ia merekomendasikan agar petani beralih ke pola monokultur atau setidaknya membatasi jumlah tanaman sela demi hasil yang lebih optimal.

"Kami berharap petani mau merehabilitasi lahannya terlebih dahulu, mengatur jarak tanam, dan tidak mencampurnya dengan terlalu banyak jenis tanaman lain," katanya pada Minggu (5/7/2026). 

Mirza mencontohkan, saat ini banyak petani yang menanam kopi berdampingan dengan pisang.

Namun justru tanaman pisang yang tumbuh subur dan mengganggu pertumbuhan kopi.

Menurutnya, jika digarap secara sungguh-sungguh, maka produktivitas akan naik dan berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan petani. 

Ia menambahkan, jenis kopi yang ditanam tidak harus seragam yang terpenting adalah penerapan teknik budidaya yang benar. 

"Soal rasa dan aroma, kuncinya ada pada pengolahan pascapanen. Pembeli pun akan menerima berbagai jenis, baik arabika maupun robusta," tegasnya.

Mirza mencatat adanya tren positif di Sembalun terkait minat menanam kopi kembali meningkat. 

Bahkan, tak sedikit petani sayur yang kini beralih profesi menjadi petani kopi, didorong oleh kenaikan harga komoditas ini dalam beberapa tahun terakhir. 

Saat ini, harga kopi robusta di tingkat petani menyentuh angka Rp75 ribu per kilogram.

Sementara kopi arabika bubuk sudah menembus lebih dari Rp100 ribu per kilogram. 

Namun, ia menyoroti kualitas panen yang masih asal-asalan. 

"Untuk kopi ekspor, kualitas sangat ditentukan saat panen. Hanya biji yang benar-benar merah yang harus dipetik. Tapi petani kita masih melakukannya dengan sembarangan, dan itu merusak kualitas," keluhnya.

Bantuan Bibit

Sebagai upaya pengembangan, tahun ini Distan Lotim menerima bantuan bibit kopi arabika dari pemerintah pusat yang dialokasikan untuk lahan seluas 490 hektare dan setiap hektare akan mendapat seribu bibit. 

Penyebaran bantuan dilakukan di beberapa kecamatan seperti Montong Gading, Aikmel, Suela, Lenek, dan porsi terbesar diberikan kepada Kecamatan Sembalun seluas 198 hektare. Petani juga difasilitasi biaya upah tanam.

Mirza menyatakan bahwa Lombok Timur memiliki potensi lahan yang sangat besar untuk komoditas kopi. 

Pasalnya, kopi tidak terbatas pada dataran tinggi, dataran rendah pun cukup prospektif. 

"Kopi robusta bisa tumbuh di dataran rendah. Sementara arabika idealnya di ketinggian 1.000 mdpl, tapi di ketinggian 600 mdpl seperti di Desa Sajang, juga terbukti bisa tumbuh dengan baik," pungkasnya.

Petani kopi Desa Beririjarak, Kecamatan Wanasaba, Lombok Timur Saopian menyebut daerahnya bisa menjadi calon kekuatan baru di industri kopi Lombok Timur khusus  kopi jenis robusta.  

Masyarakat menanam kopi seluas kurang lebih 50 hektare dan masih bisa bertambah.

"Ini tentu menjadi usulan kami, agar pemerintah juga mendukung kami yang sudah mulai berbuat di lahan kami di sini," tutupnya.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.