Deretan Fakta soal Pemakaman Ali Khamenei, Jutaan Pelayat Ikut Hadir, Trump sampai Iri dan Nyinyir
Januar July 06, 2026 11:14 AM

TRIBUNJATIM.COM - Berikut ini adalah deretan fakta pemakaman Ayatollah Ali Khamenei.

Donald Trump sampai iri dan nyinyir.

Upacara pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dimulai di Teheran, Sabtu (4/7/2026), beberapa bulan setelah ia tewas dalam perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. 

Khamenei, yang memimpin Iran selama hampir empat dekade, tewas pada 28 Februari 2026 saat AS dan Israel melancarkan serangan bersama. Pemakamannya sempat ditunda karena perang masih berlangsung. 

Dilansir dari Kompas.com, upacara pemakaman Ali Khamenei digelar selama beberapa hari. Jenazahnya dijadwalkan diarak melintasi sejumlah kota di Iran hingga Irak. 

Pemakaman ini juga menjadi momen penting bagi rezim teokrasi Iran untuk menunjukkan kemampuannya menggalang dukungan publik, terutama setelah negara itu sebelumnya dilanda gelombang protes nasional terhadap pemerintahan Khamenei. 

\

Baca juga: Indonesia Ogah Kirim Delegasi Resmi ke Pemakaman Ali Khamenei, Dino Patti Djalal: Menyepelekan

Jenazah Khamenei disemayamkan di Teheran 

Jenazah Khamenei telah disemayamkan di Grand Mosalla Teheran pada Sabtu dan Minggu, dikutip dari AP News pada Senin (6/7/2026). 

Pada Senin, jenazahnya akan diarak melalui jalan-jalan ibu kota Iran sebelum dibawa ke Qom, kota seminari Syiah yang berjarak sekitar 120 kilometer di selatan Teheran. 

Di Qom, Khamenei akan mendapatkan penghormatan pada Selasa (7/7/2026). 

Setelah itu, pada Rabu, jenazah Khamenei akan dibawa ke Karbala, Irak. Kota tersebut menjadi salah satu tempat paling suci bagi umat Syiah karena terdapat makam Imam Hussein, cucu Nabi Muhammad. 

Hari Rabu juga bertepatan dengan peringatan protes terhadap pemerintahan Khamenei, yang sebelumnya berujung pada tewasnya ribuan orang akibat tindakan aparat keamanan. 

Dari Karbala, jenazah Khamenei kemudian akan dibawa ke Mashhad, kota terbesar kedua di Iran.


Akan dimakamkan di Makam Imam Reza 

Pemerintah Iran menyatakan Khamenei akan dimakamkan di kompleks makam Imam Reza di Mashhad, Kamis (9/7/2026). 

Imam Reza merupakan imam kedelapan dalam Islam Syiah. 

Makam tersebut setiap tahun dikunjungi jutaan peziarah dari berbagai wilayah. Dalam tradisi Syiah, makam Imam Reza memiliki kedudukan penting. 

Sebuah hadits menyebutkan bahwa orang yang berduka atau berdosa akan terbebas dari kesedihan setelah mengunjungi tempat tersebut. 

Sejumlah tokoh penting Iran juga dimakamkan di kompleks itu, termasuk mendiang Presiden Iran Ebrahim Raisi, yang tewas dalam kecelakaan helikopter pada 2024. 

Pemakaman Khomeini pernah diwarnai kekacauan 

Pemakaman Khamenei diperkirakan akan menarik perhatian besar, seperti halnya pemakaman Pemimpin Tertinggi pertama Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini, pada 6 Juni 1989. 

Saat itu, jutaan warga Iran turun ke jalan untuk mengantarkan jenazah Khomeini, tokoh utama Revolusi Islam 1979. 

Namun, prosesi tersebut berubah kacau. Massa pelayat menyerbu peti mati hingga jenazah Khomeini yang terbungkus kain putih jatuh ke kerumunan. 

Laporan awal saat itu menyebut sedikitnya delapan orang tewas dan sekitar 11.000 lainnya terluka. 

Kekhawatiran insiden serupa kembali muncul dalam pemakaman Khamenei, terutama jika jumlah pelayat mencapai jutaan orang. 

Iran juga pernah mengalami tragedi serupa saat pemakaman Jenderal Garda Revolusi Qassem Soleimani pada 2020. 

Desak-desakan dalam prosesi itu menewaskan sedikitnya 56 orang dan melukai lebih dari 2.000 orang. 

Jadi ujian bagi rezim Iran 

Pemakaman Ali Khamenei berlangsung di tengah situasi politik dan keamanan yang belum sepenuhnya stabil. 

Gencatan senjata yang rapuh dan kesepakatan sementara dengan Amerika Serikat membuka ruang bagi otoritas Iran untuk menggelar upacara pemakaman besar serta menghadirkan para pejabat tinggi. 

Namun, risiko keamanan tetap menjadi perhatian. Selama perang, Israel disebut membunuh sejumlah pemimpin senior Iran. 

Dalam setidaknya satu kasus, penampilan publik digunakan untuk melacak target. 

Belum jelas apakah Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, akan tampil di depan publik dalam rangkaian upacara ini. 

Mojtaba, putra Khamenei, diyakini terluka dalam serangan yang menewaskan ayahnya. Hingga kini, ia disebut masih bersembunyi. 

Kesepakatan sementara masih diuji 

Prosesi pemakaman Khamenei juga berlangsung saat kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang Iran masih menghadapi tantangan. 

Kesepakatan yang dicapai pada Juni 2026 itu memberikan waktu 60 hari bagi pihak-pihak terkait untuk merundingkan syarat akhir penghentian perang. Isu yang dibahas meliputi program nuklir Iran hingga masa depan Selat Hormuz. 

Pembicaraan teknis telah dimulai di Qatar pada pekan ini. 

Namun, proses tersebut berjalan rumit karena masih adanya perbedaan pandangan yang tajam. Ketegangan juga belum sepenuhnya mereda setelah terjadi baku tembak selama beberapa hari antara AS dan Iran terkait masa depan Selat Hormuz.


Nyinyiran Donald Trump

Di balik gemuruh seruan "Matilah Amerika" di Grand Mosalla, Teheran, dalam prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali membuat pernyataan kontroversial. 

Saat jutaan rakyat Iran yang mengiringi jenazah Ayatollah Ali Khamenei diselimuti duka mendalam pada Sabtu (5/7/2026), Trump secara terbuka mengakui keterkejutannya melihat ribuan warga Iran menangisi kepergian pemimpin mereka.

Selama ini, narasi yang dibangun di Washington adalah bahwa kepemimpinan Khamenei tidak didukung oleh rakyatnya. Namun, yang terlihat malah sebaliknya.

Kendati demikian, Trump mempertanyakan ketulusan emosi tersebut.

"Mungkin air mata palsu," kata Trump dalam wawancara dengan Axios.

Sumpah Balas Dendam

Berbanding terbalik dengan keraguan Trump, suasana di Teheran justru menunjukkan loyalitas yang militan.

Ribuan pelayat membawa bendera merah, simbol syahid dan janji pembalasan dalam tradisi Syiah, bersumpah akan menuntut balas atas serangan udara 28 Februari lalu yang merenggut nyawa Khamenei.

Nuansa revolusi terasa sangat kental. Warga dari berbagai kalangan tampak bersiap mengikuti garis komando dari pemimpin baru, Mojtaba Khamenei, untuk membalas tindakan tersebut.

Provokasi di Tengah Duka

Di tengah prosesi berkabung, Trump justru kembali melontarkan ancaman. Ia mengeklaim bahwa posisi para pejabat tinggi Iran yang berkumpul di satu tempat saat pemakaman sebenarnya adalah sasaran empuk.

"Mereka semua ada di sana. Satu tembakan dan kami bisa menghabisi mereka semua. Tetapi kami tidak akan melakukan itu karena nanti tidak ada lagi yang bisa diajak bernegosiasi," klaim Trump.

Pernyataan ini menambah panas suhu di kawasan. Meski Trump mengklaim kedua pihak sepakat untuk melakukan jeda selama sepekan untuk rangkaian pemakaman, pernyataan keras dari kedua belah pihak menunjukkan bahwa konflik masih jauh dari padam. 

Sementara itu, Pemerintah Iran telah menetapkan hari berkabung nasional hingga Senin mendatang, dengan perkiraan 10 juta orang akan berpartisipasi dalam prosesi di seluruh negeri.

Iringan jenazah Khamenei dijadwalkan melalui Teheran sebelum dibawa ke situs suci di Qom, Najaf, dan Karbala.

Perjalanan terakhir ini akan berakhir dengan pemakaman di kota kelahirannya, Mashhad, pada Kamis mendatang.


Informasi lengkap dan menarik lainnya baca di TribunJatim.com

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.