Laporan Wartawan TribunSolo.com, Anang Ma'ruf
TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Dugaan penipuan berkedok kursus bahasa Mandarin di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, diduga diawali dengan upaya terduga pelaku membangun kedekatan emosional dengan para peserta.
Korban mengaku kerap diajak makan bersama, jalan-jalan, hingga diperlakukan layaknya keluarga sebelum akhirnya ditawari berbagai program yang berujung kerugian.
Setelah berhasil mendapatkan kepercayaan para peserta, terduga pelaku diduga mulai menawarkan beragam program tambahan, mulai dari investasi, kelas internasional, hingga peluang bekerja di perusahaan China dengan iming-iming penghasilan besar.
Salah seorang korban, H, warga Medan, mengungkapkan bahwa tawaran dari terduga pelaku tidak hanya sebatas program kursus.
Setelah hubungan dengan para peserta semakin dekat, pelaku mulai menawarkan investasi pembukaan cabang kelas daring di Jakarta dengan janji keuntungan sebesar Rp5 juta setiap bulan.
Selain itu, pelaku juga menawarkan program belajar yang diklaim bekerja sama dengan sebuah universitas di Beijing. Program tersebut disebut akan mempertemukan peserta dengan pelajar internasional selama enam bulan.
Tak hanya itu, peserta juga dijanjikan kesempatan bekerja secara work from home (WFH) di perusahaan China dengan gaji antara Rp8 juta hingga Rp15 juta per bulan apabila memiliki kemampuan bahasa Mandarin yang baik.
Menurut H, seluruh penawaran tersebut mudah dipercaya karena sebelumnya terduga pelaku telah berhasil membangun hubungan yang akrab dengan para peserta.
"Pelaku pintar mengambil hati para murid. Kami sering diajak makan, jalan-jalan, bahkan diperlakukan seperti keluarga. Karena itu kami percaya dengan semua program yang ditawarkan," katanya.
Korban lainnya, PF, mengatakan dirinya pertama kali tertarik mengikuti kursus setelah melihat promosi di Instagram yang menawarkan biaya belajar lebih murah dibandingkan tempat kursus lainnya.
Sebelum mendaftar, PF mengaku sempat mendatangi lokasi kursus untuk memastikan kegiatan belajar benar-benar berlangsung. Saat itu, terduga pelaku juga menunjukkan dokumen legalitas berupa sertifikat CV perusahaan ketika ditanya mengenai izin operasional.
Hal tersebut membuat PF yakin untuk mengikuti program yang ditawarkan.
Baca juga: Dugaan Penipuan Kursus Mandarin di Sukoharjo: Korban Tergiur Harga Murah hingga Janji Kerja di China
"Karena tempatnya ada, orangnya jelas, dan pelaku menunjukkan legalitas perusahaan, saya percaya. Awalnya proses belajar juga berjalan normal," ujarnya.
Namun, seiring berjalannya waktu, proses pembelajaran mulai terganggu. Terduga pelaku yang juga berperan sebagai pengajar disebut semakin sering meliburkan kelas dengan alasan sedang menyiapkan program baru berupa kelas camp.
Akibatnya, materi yang diterima peserta tidak lagi sesuai dengan yang dijanjikan. Ketika beberapa peserta meminta pengembalian sebagian biaya kursus karena merasa program tidak berjalan efektif, permintaan tersebut ditolak.
Sebagai gantinya, peserta ditawari mengikuti kelas secara daring dengan alasan proses belajar tetap dapat dilanjutkan.
Sebelum menghilang, terduga pelaku sempat menunjuk seorang pengacara untuk memediasi persoalan dengan para peserta.
Baca juga: Alasan di Balik Korban Ngebet Kasus Penipuan Kursus Mandarin di Sukoharjo Naik Penyidikan
Namun belakangan, pengacara tersebut justru mengabarkan bahwa pelaku telah pergi tanpa memberikan informasi kepada para korban.
Hingga kini, para korban telah melaporkan dugaan penipuan tersebut ke Polres Sukoharjo.
Mereka berharap kepolisian segera memproses laporan itu sekaligus mengambil langkah agar terduga pelaku tidak meninggalkan Indonesia sebelum proses hukum berjalan.