Emak-emak di Parepare Sumringah, Harga Bumbu Dapur Turun Drastis Imbas MBG Libur
Ansar July 06, 2026 12:22 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, PAREPARE -- Harga sejumlah komoditas bumbu dapur di Kota Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel) mengalami penurunan drastis.

Dari pantauan Tribun-Timur.com di Pasar Lakessi, Kecamatan Soreang, Parepare, Senin (6/7/2026) pagi, aktivitas jual beli terlihat ramai.

Pasar Lakessi adalah pasar tradisional terbesar dan menjadi pusat perdagangan utama di Kota Parepare.

Pasar ini menjadi tempat transaksi berbagai kebutuhan pokok, sekaligus pusat distribusi hasil pertanian, perikanan, dan perdagangan dari sejumlah daerah di wilayah seperti Sidrap, Pinrang, Barru, Enrekang, hingga Kabupaten Wajo.

Sejumlah warga terlihat antusias membeli komoditas seperti cabai, bawang merah dan tomat di pasar berjarak sekitar 2 kilometer dari pusat pemerintahan Kota Parepare itu.

Tak hanya itu, antrean pembeli di lapak ayam potong juga ramai.

"Beli ayam potong, murah ini Rp 35 ribu satu ekor. Tapi ada juga yang Rp 60 ribu, besar kalau itu," kata seorang warga Parepare, Nurmi sambil menenteng kresek belanjaannya.

Nurmi mengungkapkan, dirinya senang melihat sejumlah komoditas mengalami penurunan harga.

Pasalnya menurutnya, beberapa bulan terakhir harga bahan pokok di Parepare terlampau mahal.

"Senanglah, lombok kecil (cabai rawit) ini sudah Rp 30 ribu per kilo (Kg). Kemarin mahal sekali, sampai Rp 60 ribu per kilo," ungkapnya.

Komoditas bumbu dapur seperti bawang merah, tomat, dan cabai, mengalami penurunan drastis hingga 50 persen dalam sepekan terakhir.

Libur panjang sekolah serta jedanya aktivitas dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi pemicu melimpahnya pasokan di tingkat pedagang.

Salah seorang pedagang Pasar Lakessi bernama Nurfia mengungkapkan, penurunan harga mulai terjadi secara bertahap sejak satu minggu yang lalu, bertepatan dengan dimulainya masa libur semester sekolah.

"Kemarin, setelah Lebaran (Idul Adha), harga-harga berada di puncaknya. Sekarang, karena hari libur dan anak-anak tidak sekolah, harga turun drastis," ungkapnya.

Nurfia merincikan, penurunan paling signifikan terjadi pada cabai rawit dan bawang merah. Cabai rawit yang sebelumnya menyentuh harga Rp 60.000 per kilogram kini anjlok ke kisaran Rp 35.000 per kilogram.

Penurunan serupa terjadi pada bawang merah, dari Rp60.000 menjadi Rp30.000 hingga Rp35.000 per kilogram.

Sementara itu, cabai merah keriting disalurkan seharga Rp35.000 dari sebelumnya Rp50.000 per kilogram.

Komoditas tomat bahkan mengalami penurunan hingga setengah harga, dari Rp20.000 menjadi Rp10.000 per kilogram.

Dampak MBG

Selain faktor musiman libur sekolah, Nurfia mengatakan, adanya pengaruh dari berhentinya sementara pasokan untuk program MBG selama masa libur sekolah.

Berkurangnya serapan dari dapur-dapur MBG membuat para petani mengalihkan seluruh hasil panennya langsung ke pasar.

"Mungkin karena MBG juga sedang libur. Jadi, karena berkurang ke dapur, semua (pasokan) ke pasar. Iye, banyak barang, harga turun," jelasnya.

Sebagai pedagang eceran, Nurfia penurunan harga ini justru memulihkan penjualan yang sempat lesu.

Kata dia saat harga tinggi, masyarakat membatasi pembelian karena hanya sekedar memenuhi kebutuhan harian yang mendesak.

"Alhamdulillah, sekarang pembeli banyak. Kalau kemarin pas mahal, kasihan, orang cuma beli sedikit-sedikit. Sekarang, warga sudah bisa beli langsung satu kilo atau setengah kilo," ujarnya.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.