TRIBUNSOLO.COM, SOLO – Kota Solo, Jawa Tengah, dikenal sebagai kota yang kaya akan kuliner tradisional.
Beragam makanan khas lahir dari perpaduan budaya Jawa dan Tionghoa yang telah berlangsung selama ratusan tahun.
Tak banyak yang tahu, sejumlah kuliner yang kini identik dengan Solo ternyata berakar dari hidangan Tiongkok.
Baca juga: Mengenang Kejayaan SD Pamardi Putri, Sekolah Elit Milik Keraton Solo yang Kini Tinggal Kenangan
Seiring waktu, resepnya mengalami penyesuaian sehingga lebih sesuai dengan selera masyarakat Jawa, namun tetap mempertahankan ciri khas aslinya.
Berikut tiga kuliner legendaris Solo yang memiliki jejak sejarah dari Negeri Tirai Bambu.
Timlo menjadi salah satu makanan yang wajib dicoba saat berkunjung ke Solo.
Kuah kaldu bening dengan isian sosis Solo, suwiran ayam, telur pindang, ati ampela, hingga jamur membuat hidangan ini memiliki cita rasa gurih yang khas.
Di balik kepopulerannya, timlo dipercaya berasal dari hidangan Tionghoa bernama kimlo, yaitu sup yang dahulu diperkenalkan para pedagang Tionghoa di Solo.
Pada awalnya, kimlo menggunakan daging babi sebagai bahan utama.
Namun, agar dapat dinikmati masyarakat yang lebih luas, resep tersebut dimodifikasi dengan mengganti daging babi menjadi ayam dan telur.
Dari proses adaptasi itulah lahir timlo yang kini dikenal sebagai kuliner khas Solo.
Bagi wisatawan, dua tempat menikmati timlo yang paling legendaris berada di kawasan Pasar Gede, yakni Timlo Sastro yang telah berdiri sejak 1952 di belakang Pasar Gede dan Timlo Pak Sur di Jalan Suryopranoto, depan Tugu Jam Pasar Gede.
Baca juga: Kenapa Banyak Bekas Pabrik Gula di Solo Raya? Ini Sejarah Panjang Kejayaan Industri Gula di Jawa
Tahok atau wedang tahu juga menjadi kuliner pagi yang melegenda di Solo.
Saat ini masyarakat mengenalnya sebagai sajian sari tahu lembut yang disiram kuah jahe manis dan hangat.
Padahal, bentuk aslinya di Tiongkok jauh berbeda.
Dahulu, semangkuk tahok berisi sari tahu yang dipadukan dengan kuah jahe, udang rebon, kecap asin, sayuran, daun bawang, hingga daun ketumbar sehingga lebih menyerupai makanan gurih.
Setelah masuk ke Solo, resep tersebut disederhanakan menjadi sajian manis yang cocok dinikmati saat cuaca dingin.
Tahok legendaris masih mudah ditemukan di sekitar Pasar Gede, salah satunya Tahok Pak Citro yang telah berjualan sejak 1968 serta Tahok Mas Among.
Penjual biasanya mulai melayani pembeli sejak pagi hari dengan harga sekitar Rp8.000 hingga Rp10.000 per porsi.
Baca juga: Sejarah Dawet, Minuman Tradisional yang Menjelma Jadi Kuliner Legendaris di Solo Raya
Kuliner ketiga adalah kue moho, jajanan tradisional yang identik dengan perayaan Imlek di Solo.
Sekilas tampilannya menyerupai bolu kukus, namun kue ini sebenarnya merupakan adaptasi dari kue Tionghoa bernama hwat kwee atau fa gao, yang melambangkan keberuntungan dan kemakmuran.
Di Solo, kue moho telah menjadi bagian dari tradisi kuliner masyarakat lintas etnis. Rasanya yang lembut dengan aroma fermentasi khas membuatnya tetap digemari meski kini mulai sulit ditemukan.
Saat ini, kue moho masih dijual di beberapa kawasan seperti Keprabon, Baluwarti, dan Pasar Gede. Salah satu penjual yang masih mempertahankan jajanan ini adalah Jajan Pasar Koh Deny di dalam Pasar Gede.
Harga kue moho berkisar Rp2.500 hingga Rp3.000 per buah.
(*)