Laporan Wartawan TribunSolo.com, Andreas Chris Febrianto
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Video pertengkaran dua kubu di lingkungan Keraton Kasunanan Solo yang viral di media sosial ternyata bermula dari persiapan upacara Wilujengan Hajad Dalem Parangkusumo.
Perbedaan pendapat saat penataan perlengkapan upacara memicu adu mulut yang akhirnya membuat prosesi adat molor sekitar satu jam.
Juru bicara Pakubuwono XIV Purboyo, KPA Singonagoro, membenarkan insiden yang terjadi di kawasan Keraton Solo tersebut.
Menurutnya, peristiwa bermula sekitar pukul 09.30 WIB saat Bupati Estri Anna Mujirahayu menyiapkan sesaji dan perlengkapan upacara di Sasana Parasediyo.
Sebelum kejadian, kata Singonagoro, sudah beredar kabar bahwa pintu Kamandungan tidak akan dibuka.
“Sebetulnya dari pagi sudah ada slentinfan-slentingan bahwa termasuk salah satunya Gusti Moeng itu tidak akan membukakan pintu Kamandungan. Akhirnya puncaknya sekira pukul 09.30 WIB, Mbak Anna, Bupati Estri-nya Sinuhun itu mau menatap sajen dan juga tempat untuk Wilujengan Hajad Dalem Parangkusumo,” ungkap Singonagoro.
Saat melakukan persiapan itulah, Bupati Estri Anna bertemu dengan Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta, GRAy Koes Moertiyah atau Gusti Moeng. Pertemuan tersebut kemudian berujung adu mulut.
“Di situ, Mbak Anna ketemu dengan Gusti Moeng dan Gusti Moeng sesuai dengan di video itu sempat ngata-ngatain segala macam itu, terus sempat ngosak-asik karpet yang mau dipakai Wilujengan di Sasana Parasediyo,” lanjutnya.
Baca juga: Fakta SD Kasatriyan Solo yang Kini Kekurangan Murid : Dibangun PB X, Dulu Ajarkan Bahasa Belanda
Menurut Singonagoro, situasi memanas karena Bupati Estri Anna merasa persiapan upacara terganggu. Perdebatan pun tak terhindarkan hingga akhirnya KPH Eddy Wirabhumi turun tangan untuk melerai.
“Memang dari pihak kita itu tidak pernah ngrusuhi mereka atau menghalang-halangi acara mereka. Lha tiba-tiba Gusti Moeng kembali berulah seperti itu akhirnya mbak Anna juga jengkel dan sempat adu mulut berdebat di situ dan akhirnya mbak Anna sempat memanggil Kanjeng Wira (KPA Eddy Wirabhumi) untuk nuturi istrinya agar tidak melakukan hal-hal seperti itu. Akhirnya Gusti Moeng dan Kanjeng Wira diajak turun itu,” urainya.
Insiden tersebut, lanjut Singonagoro, membuat rangkaian Wilujengan Hajad Dalem Parangkusumo tertunda sekitar satu jam dari jadwal semula.
“Ya acaranya sempat tertunda, kurang lebih kita molor sampai satu jam dari jam yang ditentukan. Jadi kita agak siangan berangkatnya ke Pantai Parangkusumo akhirnya,” sebutnya.
Tak hanya itu, rombongan utusan Keraton yang hendak menuju Pantai Parangkusumo juga disebut tidak bisa melewati pintu utama Kori Kamandungan sehingga harus menggunakan jalur samping.
Baca juga: Duduk Perkara Video Pertengkaran Dua Kubu di Keraton Solo, Diduga Berebut Karpet Merah untuk Upacara
“Kami tidak dibukakan pintu Kamandungan tengah, seperti yang sudah-sudah itu kan kami biasanya kan memang kalau utusan dalem itu kan harus lewat pintu yang tengah. Akhirnya kita lewat samping, karena pada prinsipnya kita kan mau menjaga marwah Keraton. Jadi kami tadi menyayangkan dengan adanya sikap Gusti Moeng yang terus-terusan dengan kita,” katanya.
Singonagoro juga membenarkan GKR Sekarjati atau Gusti Devi Leylana Dewi sempat berada di lokasi dan ikut terlibat adu mulut.
“Iya tadi Gusti Kanjeng Ratu Sekarjati ada di situ. Memang bersama-sama dengan Mbak Anna mengurusi itu, dan tadi sempat adu mulut,” jelasnya.
Atas kejadian tersebut, pihak kubu Pakubuwono XIV Purboyo menyayangkan insiden yang dinilai mengganggu jalannya prosesi adat di Keraton Solo.