Kadistanbun Bireuen: Saluran Irigasi Rusak dan Dipenuhi Sedimen Segera Ditangani
Ansari Hasyim July 06, 2026 04:24 PM

Laporan Yusmandin Idris | Bireuen

SERAMBINEWS.COM, BIREUEN – Sejumlah saluran induk Irigasi Pante Lhong, Peusangan, Kabupaten Bireuen, yang mengalami kerusakan dan dipenuhi endapan sedimen segera ditangani melalui bantuan tanggap darurat dari Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi Aceh.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Kadistanbun) Bireuen, Mulyadi SE MM. Menurutnya, penanganan darurat pada Bendung Irigasi Pante Lhong telah selesai dilakukan. Namun, masih banyak saluran irigasi yang rusak sehingga menghambat distribusi air ke lahan persawahan.

Mulyadi mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas SDA Provinsi Aceh beberapa hari lalu. Menindaklanjuti koordinasi tersebut, tim teknis dari Dinas SDA telah turun langsung ke lapangan untuk meninjau kondisi saluran irigasi.

"Penanganan tahap pertama akan difokuskan pada saluran yang rusak di wilayah Kecamatan Juli, Jeumpa, dan Kota Juang. Selain memperbaiki saluran yang rusak, sedimen yang mengendap juga akan dikeruk. Ini merupakan harapan para petani dan segera akan dilaksanakan," ujarnya.

Baca juga: Perbaikan Darurat Bendungan Irigasi Pante Lhong Peusangan-Bireuen Rampung, Ini Kendala Lainnya

Ia menjelaskan, hasil peninjauan tim teknis menunjukkan banyak saluran irigasi mengalami kerusakan. Selain itu, endapan sedimen juga cukup tebal sehingga berpotensi menghambat aliran air ketika pintu irigasi dibuka.

"Kalau saluran tidak segera diperbaiki, air yang dialirkan dikhawatirkan terbuang percuma karena bocor di sejumlah titik saluran yang rusak," katanya.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Operasi dan Pemeliharaan Irigasi Pante Lhong Dinas SDA Wilayah III Provinsi Aceh, Suherman, kepada Serambinews.com mengatakan, penanganan darurat pada bagian selatan bendung telah selesai.

Menurut Suherman, air sungai sudah masuk ke mercu bendung atau melimpas, tetapi belum dapat dialirkan sepenuhnya ke jaringan irigasi. Penyebabnya, banyak saluran yang rusak dan dipenuhi sedimen sehingga debit air yang terbatas dikhawatirkan tidak mampu menjangkau seluruh areal persawahan.

"Dengan kondisi debit sungai saat ini dan hasil penanganan darurat yang telah dilakukan, distribusi air diperkirakan baru mampu mengairi sekitar 2.000 hektare sawah di tiga kecamatan, yakni Juli, Jeumpa, dan Kota Juang," jelasnya. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.