KUTUKAN di stadion Azteca, Meksiko, dipatahkan.
Inggris menang 3-2 atas Meksiko dalam pertandingan babak 16 besarPiala Dunia 2026 di stadion angker tersebut, Senin (6/7/2026).
Meksiko tak pernah kalah dalam 10 kali pertandingan Piala Dunia pada 1970 dan 1986 di stadion tersebut.
Di stadion itu pula, pada 1986, Inggris takluk 2-1 dari Argentina melalui dua gol dari sang dewa bola Diego Armando Maradona.
Gol "tangan Tuhan" dari Maradona layaknya kutukan bagi Inggris, hingga the Three Lions tak pernah menjuarai turnamen besar meski selalu punya pemain besar.
Dan bukan Dukun Ghana yang memecahkan kutukan tersebut akibat "balas jasanya" pernah "mengunci" Harry Kane dalam pertandingan melawan Ghana.
Sosok penghancur kutukan itu adalah Thomas Tuchel.
Kata kata penyemangat dari bibir pria botak ini bak mantra yang mengubah para pemain Inggris menjadi gerombolan Singa.
Tuchel bukan hanya menghasilkan strategi yang piawai, dengan menyuruh pemain Inggris agar tak grasa grusu di babak pertama; tapi ia menyuntikkan mental Jerman ke tubuh para singa ini.
Selama ini, pemain Inggris dikenal punya status bintang namun bermental tempe serta "berhati Rinto".
Mereka sering tampil tanpa semangat juang, kurang greget, tak konsisten, nol determinasi, tiada kebanggaan serta mudah goyah.
Inilah penyebab mengapa generasi emas Inggris di masa Steven Gerrard, Frank Lampard, Wayne Rooney, Rio Ferdinand, John Terry, Michael Owen, David Beckham dan Paul Scholes tak pernah meraih apa-apa.
Yang muncul bukan prestasi, tapi drama opera sabun.
Menyaksikan pertandingan Inggris Vs Meksiko di salah satu rumah kopi di Manado, saya merasa seperti tengah melihat tim Panzer Jerman.
Inggris tampil dengan nyali, pantang menyerah, tak mau kalah, ngotot dan penuh determinasi.
Declan Rice dan kawan kawan tampil pelan, tapi terorganisir hingga punya kuasa menggilas.
Saat bek kanan Inggris Jarell Quansah kena kartu merah, keadaan begitu kritis.
Meksiko terus menekan setelah sebelumnya berhasil memperkecil kedudukan.
Inggris yang lama pasti terteror dan goyah.
Namun Inggris di era Tuchel malah kian ganas.
Singa yang terluka lebih berbahaya dan sekawanan Singa gemuk.
Di momen itulah Inggris berhasil mempertebal keunggulan lewat gol penalti Harry Kane.
Dalam keadaan sisa 10 pemain dan terus ditekan Meksiko, para pemain Inggris berubah dari Singa menjadi Ksatria yang melindungi benteng hingga titik darah penghabisan.
Harry Kane dan Bellingham, dua pencetak gol Inggris tampil sebagai bek yang berhasil menghalau bola dari kotak penalti secara dramatis.
"Kalian harus punya kebanggaan, kalian adalah pemain besar, kalian harus sadar itu," itulah kata kata Tuchel yang selalu diucapkan Tuchel pada para pemain Inggris.
Tuchel memilih untuk tidak membawa pemain hebat seperti Cole Palmer, Trent Alexander Arnold serta Phil Foden.
Mungkin karena ia sudah punya profil sendiri mengenai para Ksatria Inggris.
Pada akhirnya apa yang dilakukan Tuchel hanya membangkitkan memori masa lalu bangsa itu dan mengajak para pemain timnas Inggris macam Harry Kane, Jude Bellingham, Gordon,
Saka, Anderson, Guehi serta Nick O Relly untuk menghidupinya di masa kini.
Saya ingat kisah perang Dunia ke dua.
Saat seluruh negara takluk di bawah Nazi, hanya Inggris yang berani melawan.
Saat Nazi membom Inggris dalam kisah pertempuran Battle of Britain, masa depan Inggris bergantung pada sekelompok anak muda.
Merekalah para pilot Royal Air Force (RAF) yang tampil mati matian menghalau musuh dari langit London.
Mudah mudahan Harry Kane dan kawan kawan bisa terus demikian. Bermain dengan hati dan penuh kebanggaan.