SURYA.co.id, SURABAYA - Momentum Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2026 yang diperingati setiap akhir Juni, dimanfaatkan oleh PKS Jatim dengan menggelar pelatihan bagi ratusan konsultan keluarga dari seluruh kabupaten/kota se-Jawa Timur pada, Minggu (5/7/2026).
Kegiatan ini digelar oleh Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (Bipeka) DPW PKS Jawa Timur.
Agenda yang berlangsung secara hybrid ini, disebut menjadi bagian dari ikhtiar memperkuat ketahanan keluarga sebagai pondasi pembangunan bangsa.
"Ini merupakan bentuk kepedulian PKS terhadap semakin besarnya tantangan yang dihadapi keluarga Indonesia," kata Ketua Bipeka DPW PKS Jawa Timur, Nurul Arbaati dalam keterangannya kepada SURYA.co.id, Senin (6/7/2026).
Pelatihan tersebut menghadirkan Muhammad Iqbal, seorang psikolog sekaligus Ketua Bidang Pelatihan dan Pengembangan Kepemimpinan Partai DPP PKS, serta Iis Istiqomah yang merupakan Sekretaris Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga DPP PKS. Agenda ini berlangsung di Surabaya.
Selain Diklat Konsultan Keluarga, PKS Jawa Timur dalam kesempatan itu juga meluncurkan Sekolah Keluarga Indonesia (SKI), Pos Pemberdayaan Ekonomi Keluarga (PPEK), serta Halo Rumah Keluarga Indonesia (Halo RKI), layanan call center konsultasi keluarga yang diharapkan mampu menjadi ruang pendampingan bagi masyarakat.
Sementara itu, Ketua DPW PKS Jawa Timur, Bagus Prasetia Lelana, menegaskan rangkaian kegiatan Harganas bukan sekadar menjalankan program organisasi.
Namun lebih jauh, juga sebagai bentuk untuk membangun sebuah gerakan sosial guna memperkuat keluarga Indonesia.
"Karena keluarga adalah sekolah pertama kehidupan. Di sanalah karakter dibentuk, akhlak ditanamkan, dan masa depan bangsa dipersiapkan," tegas Bagus dalam keterangan yang sama.
Dalam pandangan PKS Jatim, keluarga merupakan investasi paling strategis bagi masa depan Indonesia.
Sebab, keluarga menjadi tempat pertama lahirnya karakter, akhlak, dan kepemimpinan generasi penerus bangsa.
Meskipun demikian, tantangan yang dihadapi keluarga di era saat ini tentu juga semakin kompleks.
Mulai dari perubahan gaya hidup, derasnya arus media digital, tekanan ekonomi, hingga menurunnya kualitas komunikasi dalam rumah tangga menjadi persoalan yang harus dijawab bersama. Ini menjadi tantangan kekinian.
Di sisi lain, PKS Jatim juga menyoroti karena masih tingginya angka perceraian.
Sebab, termasuk di Jawa Timur angkanya pun masih cenderung tinggi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Provinsi Jawa Timur masih menjadi salah satu provinsi dengan angka perceraian tertinggi di Indonesia. Ini dinilai sebagai alarm penting untuk pentingnya penguatan ketahanan keluarga.
Menurut Bagus, fakta tersebut menjadi pengingat bahwa keluarga membutuhkan pendampingan yang nyata.
"Kita tidak boleh hanya datang ketika masalah sudah terjadi, tetapi harus hadir sejak awal melalui edukasi, konsultasi dan pemberdayaan keluarga," terangnya.
Lebih jauh, Bagus menegaskan bahwa kehadiran konsultan keluarga di seluruh daerah menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem keluarga yang sehat dan tangguh.
"Kita ingin PKS hadir bukan hanya menjelang pemilu, tetapi hadir setiap saat ketika masyarakat membutuhkan," ucapnya.