Tidak menjadi rahasia lagi bahwa Honda telah secara aktif menjajaki kemitraan dengan Nissan — dan Presiden Honda, Toshihiro Mibe, baru-baru ini mengatakan kepada para pemegang saham bahwa kesepakatan tersebut hampir rampung. Setelah dua tahun penuh rumor mengenai rencana merger dan kesepakatan yang batal, tiga raksasa otomotif Jepang kini tampaknya siap untuk benar-benar bekerja sama.
Seperti dilaporkan oleh Reuters, Mibe menjelaskan dalam rapat umum pemegang saham tahunan Honda bahwa kemitraan tersebut "sudah berada pada tahap yang cukup jauh, dengan beberapa aspek hampir siap diumumkan." Rincian kerja sama ini berfokus pada pengembangan sistem ECU bersama yang akan digunakan pada model-model masa depan dari Honda, Nissan, dan Mitsubishi. Namun, masih ada pembahasan terkait pendanaan pengembangan dan ketentuan hukum. Menurut laporan Nikkei Asia, kesepakatan ini kemungkinan hanya berjarak beberapa minggu dari pengumuman resmi.
Otak elektronik bersama untuk ketiga pabrikan mobil Jepang ini diperkirakan akan hadir paling cepat pada tahun 2029 atau 2030, menurut Mibe. Setelah resmi beroperasi, sistem ECU bersama tersebut akan menyederhanakan pengembangan perangkat lunak dan dinamika kendaraan bagi para produsen. Tidak mengejutkan bila para eksekutif Honda memilih waktu ini untuk membicarakan pengembangan bisnis baru, mengingat pabrikan asal Jepang itu mencatat kerugian bersih tahunan pertamanya pada bulan Maret, dengan penurunan laba sebesar 2,7 miliar dolar AS.
Bagian dari penurunan tersebut, jelas Mibe, disebabkan oleh lambatnya Honda dalam mengadopsi kendaraan listrik. Tidak hanya kehilangan pendapatan dari konsumen awal, Honda juga harus menanggung biaya infrastruktur yang tinggi untuk mengejar ketertinggalan. Lebih buruk lagi, penghapusan insentif pajak bagi pengemudi kendaraan listrik serta penerapan tarif di pasar Amerika Utara semakin menekan keuntungan Honda. Pada bulan Maret, Honda telah memperingatkan para investornya bahwa perusahaan akan menanggung biaya terkait kendaraan listrik sebesar 15,7 miliar dolar AS tahun ini.
Berbagi biaya pengembangan dengan Nissan dan Mitsubishi akan menjadi langkah strategis besar bagi Honda, namun ketiga pabrikan Jepang ini mungkin harus terlebih dahulu meyakinkan Renault untuk melonggarkan pengaruhnya terhadap Nissan dan Mitsubishi. Sejak tahun 1999, Nissan, Mitsubishi, dan Renault telah menjadi bagian dari sebuah aliansi yang berfokus pada pembagian biaya pengembangan serta fasilitas produksi. Menurut laporan Carscoops, keinginan Honda untuk bergabung dalam aliansi tersebut dikabarkan tidak disambut baik oleh Renault, yang diduga menekan para pemegang saham agar menolak langkah Nissan tersebut.
Meski demikian, tampaknya semua pihak menyadari betapa pentingnya situasi ini. Nissan mencatat peningkatan penjualan domestik kurang dari satu persen hingga tahun 2025, sementara Mitsubishi mengalami penurunan penjualan sebesar 13,7 persen dibanding tahun sebelumnya. Mibe menegaskan bahwa Honda harus "mengalahkan kekuatan baru yang muncul dalam tiga tahun ke depan," jika tidak, bisnis roda empat perusahaan akan menghadapi masa sulit. Seberapa dalam keterlibatan antara Honda dan Nissan nantinya memang belum jelas, namun kemitraan potensial ini hampir pasti akan mengguncang industri otomotif global.