Tiga Jam Bertemu Nasaruddin Umar, KH Iman Jazuli Bahas Muktamar NU hingga Masa Depan PBNU
Muh Hasim Arfah July 06, 2026 06:07 PM

 

TRIBUN-TIMUR.COM, CIREBON – Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH Iman Jazuli, mengungkap isi pertemuannya dengan Menteri Agama RI Prof KH Nasaruddin Umar yang berlangsung selama kurang lebih tiga jam.

Prof KH Nasaruddin Umar adalah Rais Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa khidmat 2022-2027. 

Dalam pertemuan itu, keduanya membahas berbagai persoalan strategis, mulai dari dinamika menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, kepemimpinan PBNU, hingga arah pembangunan organisasi ke depan.

KH Iman Jazuli mengatakan, pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban meski Prof Nasaruddin Umar datang bersama sejumlah pejabat Kementerian Agama, di antaranya Kepala Kanwil Kemenag DKI Jakarta dan Jawa Barat, Direktur Direktorat Pesantren, serta beberapa kepala kantor Kemenag.

"Pembicaraan berlangsung sekitar tiga jam, sejak ba'da zuhur hingga menjelang asar. Hampir seluruh waktunya digunakan untuk berdiskusi mengenai NU dan berbagai persoalan keumatan," kata KH Iman Jazuli.

Menurut dia, Prof Nasaruddin Umar yang saat ini menjabat Rais Syuriyah PBNU mengaku tidak memiliki ambisi pribadi untuk menjadi Ketua Umum PBNU.

Bahkan, kata KH Iman Jazuli, Menag menyampaikan bahwa amanah sebagai Menteri Agama sudah lebih dari cukup baginya.

Baca juga: 4 Kader Nahdlatul Ulama Bersyarat Maju Calon Ketua PCNU Bulukumba

Meski demikian, dalam beberapa waktu terakhir banyak tokoh, baik dari kalangan struktural maupun kultural NU, datang meminta Prof Nasaruddin Umar bersedia maju dalam Muktamar NU ke-35.

Dorongan tersebut, menurut KH Iman Jazuli, muncul karena banyak warga Nahdliyin menginginkan figur yang mampu menyatukan organisasi sekaligus membawa NU semakin maju.

Dalam perbincangan itu, Prof Nasaruddin Umar sempat meminta pandangan KH Iman Jazuli.

"Bagaimana menurut dinda baiknya?" tanya Prof Nasaruddin Umar, sebagaimana diceritakan KH Iman Jazuli.

Menanggapi hal itu, KH Iman Jazuli menilai dorongan tersebut bukan sekadar dukungan politik organisasi, melainkan panggilan untuk berkhidmah kepada NU.

"Itu panggilan khidmah. Kerinduan dari struktural dan kultural NU terhadap sosok kepemimpinan yang adem, merangkul, visioner, dan berorientasi pada kemajuan harus direspons dengan tepat. Jika kanda menolaknya, itu bisa menjadi kezaliman terhadap amanah umat," ujar KH Iman Jazuli.

Ia mengatakan Prof Nasaruddin Umar hanya menganggukkan kepala saat mendengar pandangan tersebut.

Menurutnya, kegundahan itulah yang membuat Prof Nasaruddin Umar hingga kini belum mendeklarasikan diri sebagai calon Ketua Umum PBNU.

Selain membahas kepemimpinan, keduanya juga mendiskusikan sejumlah agenda besar NU ke depan.

KH Iman Jazuli menilai kepemimpinan KH Yahya Cholil Staquf telah menghasilkan berbagai capaian positif.

Namun, menurutnya, masih banyak pekerjaan besar yang harus diselesaikan demi memperkuat jam'iyah terbesar di Indonesia itu.

Beberapa agenda yang menjadi pembahasan antara lain pentingnya menyatukan seluruh elemen NU tanpa sekat kelompok, membangun kepengurusan berbasis kompetensi dan profesionalisme, memperkuat pendidikan, kesehatan, dakwah Islam rahmatan lil alamin, hingga pemberdayaan ekonomi warga Nahdliyin.

Ia juga menekankan pentingnya NU membangun hubungan yang harmonis dengan pemerintah dan berbagai kekuatan politik yang memiliki komitmen terhadap kemaslahatan umat.

"NU harus menjadi mitra strategis pemerintah dalam pembangunan bangsa, tetapi tetap berpihak pada kepentingan umat," ujarnya.

Di akhir pertemuan, kedua tokoh saling bertukar cenderamata.

Prof Nasaruddin Umar menyerahkan 10 buku terbaru terbitan Kementerian Agama kepada KH Iman Jazuli.

Sebaliknya, KH Iman Jazuli menghadiahkan keris sepuh Pandawa Cinarita, pusaka khas Cirebon yang disebut melambangkan keseimbangan, keteguhan moral, dan kewibawaan seorang pemimpin.

"Semangat, Bismillah Kanda. Niati semua ini sebagai khidmah lil ummah," pesan KH Iman Jazuli kepada Prof Nasaruddin Umar.

Menurut KH Iman Jazuli, pertemuan tersebut menjadi salah satu sinyal semakin dinamisnya pembahasan menjelang Muktamar NU ke-35.

Ia berharap NU ke depan mampu menjadi organisasi yang semakin profesional, merangkul seluruh warganya, serta hadir memberikan manfaat nyata bagi umat dan bangsa.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.