SRIPOKU.COM, KAYUAGUNG – Di tengah maraknya penggunaan material bangunan modern seperti bata ringan (hebel), usaha pembuatan batu bata merah tradisional di Desa Celikah, Kecamatan Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, kian tergerus.
Dari sekitar 10 perajin yang pernah beroperasi, kini hanya satu yang masih bertahan.
Perajin tersebut adalah Dani, warga Dusun I Desa Celikah, yang telah menggeluti usaha pembuatan batu bata merah selama kurang lebih 20 tahun.
"Dulu ada hampir 10 pembuat batu bata di desa ini, tapi sekarang hanya tinggal saya seorang yang bertahan," ujar Dani saat ditemui Sripoku.com di lokasi usahanya, Senin (6/7/2026).
Menurut Dani, tantangan terbesar saat ini adalah meningkatnya biaya produksi, terutama harga bahan baku tanah liat dan kayu bakar.
Jika dahulu tanah liat dapat diperoleh secara gratis di sekitar rumah, kini ia harus mendatangkannya dari luar daerah.
"Sekarang tanah liat sudah harus beli. Dulu tinggal ambil di belakang rumah, sekarang satu truk harganya Rp350 ribu," katanya.
Selain tanah liat, ia juga harus mengeluarkan biaya sekitar Rp350 ribu untuk satu mobil pikap kayu bakar. Sementara ongkos pembuatan mencapai Rp100 per buah batu bata.
Dengan modal tersebut, Dani mampu memproduksi sekitar 3.000 batu bata dalam satu kali proses. Namun, keuntungan bersih yang diperoleh hanya sekitar Rp400 per bata.
"Keuntungan bersih sekarang tinggal sekitar Rp400 per buah," ungkapnya.
Dalam proses produksi, Dani dibantu tiga orang pekerja. Namun, aktivitas pembuatan batu bata tidak berlangsung setiap hari karena para pekerja juga berprofesi sebagai petani.
Saat musim tanam padi tiba, mereka lebih memilih bekerja di sawah dan kembali membuat batu bata setelah pekerjaan pertanian selesai.
"Saya harus menunggu sampai tiga bulan agar terkumpul sekitar 20 ribu bata sebelum dilakukan pembakaran," jelasnya.
Meski menghadapi berbagai kendala, permintaan batu bata merah masih cukup tinggi. Bahkan, Dani mengaku lebih sering kehabisan stok daripada kekurangan pembeli karena keterbatasan kapasitas produksi.
Saat ini harga batu bata merah yang dijualnya mencapai Rp1.000 per buah untuk pembelian di lokasi produksi. Sementara harga menjadi Rp1.100 per buah untuk pengiriman jarak dekat dan Rp1.300 per buah untuk wilayah yang lebih jauh seperti Kecamatan Tanjung Lubuk dan Teluk Gelam.
Harga tersebut meningkat signifikan dibandingkan saat awal ia merintis usaha sekitar dua dekade lalu, yang hanya berkisar Rp400 hingga Rp500 per buah.
Bagi Dani, usaha batu bata merah bukan sekadar mata pencaharian. Dari hasil usaha itu, ia berhasil membesarkan, menyekolahkan, hingga menikahkan enam anaknya.
"Alhamdulillah, usaha batu bata ini bisa menghidupi keluarga saya dan menyekolahkan enam anak sampai mereka mandiri," tutupnya.