TRIBUNPADANG.COM, PADANG – PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional (Divre) II Sumatera Barat menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan akibat kondisi jalan di Perlintasan Sebidang JPL 21 Km 20+0/1 petak jalan Tabing-Duku, kawasan Lubuk Buaya, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang.
KAI menegaskan terus berupaya mempercepat penanganan perlintasan tersebut melalui koordinasi dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan guna meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api maupun pengguna jalan.
Kepala Humas KAI Divre II Sumatera Barat, Reza Shahab, mengatakan pihaknya memahami harapan masyarakat agar kondisi perlintasan segera diperbaiki.
"Kami memahami harapan masyarakat agar kondisi perlintasan dapat segera tertangani. Untuk itu, KAI terus menjalin komunikasi dan koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan agar penanganan di Perlintasan Sebidang Lubuk Buaya dapat segera direalisasikan demi kenyamanan dan keselamatan bersama," kata Reza melalui keterangan resminya, Senin (6/7/2026).
Baca juga: Sumbar Siap Jadi Tuan Rumah Muktamar PBNU 2026, Tim Survei Datang ke Padang
Menurut Reza, upaya meningkatkan keselamatan di perlintasan sebidang tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja.
Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, instansi terkait, aparat, hingga masyarakat sebagai pengguna jalan.
"Kami meyakini bahwa kolaborasi yang baik menjadi kunci dalam menghadirkan perlintasan sebidang yang semakin aman. Oleh karena itu, KAI akan terus memperkuat sinergi dengan seluruh stakeholder agar setiap permasalahan yang ada dapat ditangani secara cepat, tepat, dan berkelanjutan," ujarnya.
Ia menambahkan, selain mendorong percepatan penanganan infrastruktur, KAI juga secara rutin melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai keselamatan di perlintasan sebidang.
Kegiatan tersebut dilakukan melalui sosialisasi keselamatan, kampanye tertib berlalu lintas di sekitar rel kereta api, serta koordinasi berkelanjutan dengan instansi terkait untuk meminimalkan potensi kecelakaan.
Baca juga: Galeri Seni Hotel Santika Premiere Padang Diminati Kolektor Mancanegara
KAI Divre II Sumatera Barat juga mengimbau seluruh pengguna jalan agar meningkatkan kewaspadaan saat melintasi perlintasan sebidang, khususnya di kawasan Lubuk Buaya.
Reza mengingatkan, pengendara sepeda motor perlu lebih berhati-hati, terutama ketika hujan turun. Kondisi permukaan jalan yang licin serta posisi perlintasan yang tidak tegak lurus dengan rel berpotensi meningkatkan risiko kendaraan tergelincir.
Pengguna jalan diminta mengurangi kecepatan saat mendekati perlintasan, memperhatikan rambu-rambu dan marka jalan, berhenti sejenak untuk memastikan kondisi aman sebelum melintas, serta selalu mendahulukan perjalanan kereta api.
"Kedisiplinan dan kewaspadaan seluruh pengguna jalan menjadi faktor penting dalam menciptakan keselamatan di perlintasan sebidang," katanya.
Baca juga: Pemko Padang Kebut Pembangunan Huntap di Padang, 523 Rumah Ditargetkan Rampung Tahun 2027
KAI berharap kolaborasi yang semakin erat antara seluruh pemangku kepentingan dapat mempercepat upaya peningkatan keselamatan di Perlintasan Sebidang Lubuk Buaya sehingga masyarakat dapat menikmati perjalanan yang lebih aman dan nyaman.
"Kami mengajak seluruh pihak untuk terus menjaga semangat kebersamaan dalam mewujudkan perlintasan sebidang yang aman. Dengan kolaborasi yang kuat serta kepedulian seluruh elemen masyarakat, kami optimistis keselamatan perjalanan kereta api maupun pengguna jalan akan terus meningkat," tutup Reza.
Perlintasan yang berjarak sekitar 600 meter dari Pasar Lubuk Buaya itu disebut menjadi titik rawan kecelakaan, terutama saat hujan turun.
Pantauan reporter TribunPadang.com, Fajar Alfaridho Herman di lokasi, Minggu (5/7/2026) sekitar pukul 18.40 WIB, kondisi jalan di perlintasan rel tersebut tampak rusak parah.
Belasan lubang menganga di sela-sela rel dengan ukuran bervariasi, mulai sekitar 10 hingga 60 sentimeter dan kedalaman mencapai 5 hingga 20 sentimeter.
Baca juga: Bank Nagari Hadirkan Promo Tahun Ajaran Baru 2026, Nasabah Berpeluang Dapat Cashback
Kerusakan terlihat memanjang sekitar 100 meter. Selain lubang yang cukup dalam, permukaan tanah di antara rel tampak lebih rendah dibandingkan besi rel sehingga kendaraan harus melewati permukaan rel yang menonjol.
Situasi menjadi lebih berbahaya ketika hujan mengguyur kawasan tersebut. Genangan air menutupi lubang sehingga sulit terlihat oleh pengendara, sementara permukaan besi rel menjadi licin.
Selama pemantauan, sejumlah mobil tampak menghantam lubang di sekitar rel hingga terdengar bunyi benturan keras saat ban masuk ke dalam lubang.
Sementara pengendara sepeda motor terlihat memperlambat laju kendaraan dan berusaha mencari jalur yang lebih aman agar tidak terjatuh.
Seorang pemilik warung di dekat lokasi, Uncu, mengatakan kondisi tersebut telah lama menjadi keluhan masyarakat. Menurutnya, setiap kali hujan turun, kecelakaan di lokasi hampir selalu terjadi.
"Kalau dihitung sejak hujan sekitar pukul 15.00 WIB sampai pukul 18.00 WIB ini saja sudah sekitar 20 orang lebih pengendara motor yang jatuh. Kalau mobil yang masuk lubang juga sudah puluhan," kata Uncu kepada TribunPadang.com.
Ia mengatakan kecelakaan memang tetap terjadi saat cuaca cerah, namun jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan ketika hujan.
Baca juga: Update Harga TBS Sawit di Dharmasraya Hari Ini Senin 6 Juli 2026: PT AWB Tembus Rp 3.810 per Kg
"Itu kalau hujan pasti banyak yang jatuh. Kalau tidak hujan ada juga yang jatuh, tapi tidak sebanyak waktu hujan," ujarnya.
Menurut Uncu, kerusakan di perlintasan tersebut bukan kali pertama terjadi. Jalan di sekitar rel sudah beberapa kali diperbaiki, namun kembali rusak dalam waktu yang relatif singkat.
"Mungkin karena getaran kereta api, jadi aspal di samping rel cepat rusak dan berlubang. Padahal sudah sering diperbaiki," katanya.
Ia menyebut perlintasan itu terakhir diperbaiki pada awal tahun 2026. Namun, beberapa bulan kemudian kondisinya kembali berlubang.
"Baru awal tahun kemarin diaspal lagi, sekarang sudah rusak lagi," ucapnya.
Baca juga: Update Harga TBS Sawit di Dharmasraya Hari Ini Senin 6 Juli 2026: PT AWB Tembus Rp 3.810 per Kg
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Wit. Ia mengatakan kondisi jalan rusak diperparah dengan lampu penerangan jalan yang sudah lama tidak berfungsi.
Akibatnya, saat malam hari lubang-lubang di sekitar rel sulit terlihat sehingga risiko kecelakaan semakin tinggi.
"Lampu penerangannya sudah lama tidak hidup. Kalau malam itu gelap sekali di sini. Lubang-lubang tidak kelihatan, kadang orang melaju kencang saja sehingga sering terjatuh," katanya.
Menurutnya, warga sudah beberapa kali menyampaikan keluhan terkait kondisi tersebut. Namun hingga kini belum ada penanganan yang mampu mengatasi kerusakan secara permanen.
"Sudah pernah dilaporkan, tapi begitulah. Sepertinya kalau tidak viral tidak direspons. Lebih baik diviralkan saja supaya cepat diperbaiki dan tidak ada korban lagi," ujarnya.
Warga berharap instansi terkait segera melakukan perbaikan menyeluruh terhadap perlintasan rel tersebut, sekaligus memperbaiki lampu penerangan jalan agar keselamatan pengguna jalan dapat lebih terjamin, terutama saat hujan dan pada malam hari. (*)