Kasus Demam Berdarah Turun, Dinkes PPKB Trenggalek Tetap Waspadai dengan Jaga Kebersihan
Rendy Nicko July 06, 2026 09:50 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, TRENGGALEK - Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kabupaten Trenggalek mencatat penurunan kasus demam berdarah dengue (DBD) di wilayahnya sepanjang semester pertama tahun 2026.

Berdasarkan data kumulatif dari Januari hingga Juni 2026, tercatat hanya ada 54 penderita DBD.

Angka ini turun signifikan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Dinkes PPKB meminta masyarakat tidak lengah dan tetap mewaspadai potensi lonjakan kasus dengan menjaga kebersihan lingkungan.

Plt Kepala Dinkes PPKB Trenggalek, drg. Andiek Muarifin mengungkapkan tren penurunan ini linier dengan siklus penyebaran DBD yang biasa terjadi dalam kurun waktu 3 hingga 5 tahun sekali.

Baca juga: Film Dokumenter Sunghai Angkat Prasasti Kamulan Trenggalek, Jadi Lebih Menarik Media Edukasi

"Alhamdulillah, untuk kondisi penyakit DBD di Kabupaten Trenggalek di awal tahun 2026, data mulai Januari sampai dengan Juni tercatat sebesar 54 penderita. Kalau kita lihat trennya, terjadi penurunan yang signifikan," ujar drg. Andiek saat dikonfirmasi, Senin (6/7/2026).

Beliau memaparkan riwayat gelombang kasus DBD di Trenggalek. Pada tahun 2023, Dinkes mencatat ada 129 kasus. 

Angka tersebut melesat tajam dan mencapai puncaknya pada tahun 2024 dengan total 1.070 penderita. 

"Tren mulai melandai pada tahun 2025 dengan 539 kasus, hingga akhirnya menyentuh angka puluhan pada pertengahan tahun ini," paparnya.

Meski grafik menunjukkan penurunan, drg. Andiek menegaskan upaya promosi kesehatan, kebersihan lingkungan, serta kolaborasi lintas sektor dan lintas program harus tetap ditingkatkan.

Sebagai langkah antisipasi yang paling utama, Dinkes PPKB Trenggalek mengimbau masyarakat untuk menjaga ketat kebersihan di lingkungan tempat tinggal masing-masing melalui gerakan 'Satu Rumah Satu Jumantik' (Juru Pemantau Jentik).

"Masyarakat harus tetap waspada dimulai dari rumahnya masing-masing. Harus ada satu orang yang ditunjuk sebagai jumantik, bisa ayah, ibu, atau anggota keluarga lain. Tugasnya mengecek bak kamar mandi dan selokan seminggu sekali," pesannya.

Ia menambahkan, gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan metode 3M Plus juga wajib dioptimalkan.

Selain menguras, menutup, dan mengubur, poin 'plus' yang dimaksud meliputi tindakan menghindari penumpukan baju di gantungan.

"Serta meniadakan media yang memicu air tergenang, seperti vas bunga atau potongan bambu/kayu yang cekung," paparnya.

Menanggapi kondisi cuaca saat ini yang mulai memasuki musim kemarau dan fenomena bediding (suhu udara dingin di malam hingga pagi hari), drg. Andiek menyebut hal itu berkorelasi positif dengan penurunan kasus.

Dikatakannya, Nyamuk Aedes aegypti umumnya berkembang biak secara masif saat curah hujan tinggi karena banyaknya genangan air bersih.

Perihal peta kerawanan di 14 kecamatan yang ada di Kabupaten Trenggalek, beliau memetakan bahwa kawasan padat penduduk masih memuncaki risiko penularan tertinggi.

"Melihat riwayat sebelumnya, saat angka DBD tinggi, biasanya terpusat di wilayah yang padat penduduk seperti Kecamatan Trenggalek (Kota) dan sekitarnya," jelasnya.

Namun, drg. Andiek mengingatkan agar warga di kawasan dataran tinggi atau pegunungan tidak abai. 

Sebab, di area hutan pinus kerap ditemukan batok (tempurung kelapa) penampung getah yang berpotensi menjadi tempat genangan air dan sarang baru bagi nyamuk pembawa virus dengue tersebut.

(Madchan Jazuli/TribunMataraman.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.