Keterampilan Berbicara
Abdul Azis Alimuddin July 06, 2026 10:07 PM

Oleh: Syamril
Direktur Sekolah Islam Athirah

TRIBUN-TIMUR.COM - Berbicara merupakan keterampilan yang penting dikuasai oleh siapapun.

Lebih penting lagi bagi pemimpin di setiap tingkatan dan jenis organisasi.

Apalagi bagi pemimpin tertinggi seperti Presiden di suatu negara.

Apa yang disampaikan pasti berdampak positif jika tepat isi dan cara.

Hati-hati, akan berdampak negatif jika sebaliknya.

Tepat isi ukurannya dua yaitu benar dan manfaat.

Benar artinya tidak berbohong, bukan hoax, sesuai kenyataan.

Benar karena punya dasar, dalil dan pijakan yang kuat.

Bermanfaat maksudnya yang disampaikan bisa membuat lebih paham, lebih tenang, lebih yakin, dan juga mendorong berbuat baik, atau menjauhi keburukan.

Tepat cara ukurannya juga dua yaitu jelas dan baik.

Ada dua aspek yaitu pikiran dan perasaan.

Pikiran terkait dengan kejelasan pemahaman.

Apa yang disampaikan terpahami oleh audiens.

Perasaan terkait dengan kondisi emosi pendengar.

Apa yang disampaikan tidak melukai hati.

Lugas tanpa menyinggung perasaan.

Lebih bagus lagi jika menginspirasi dan memotivasi.

Pada aspek pikiran, ada empat level dari terburuk menuju terbaik.

Level 1 yaitu bertele-tele dan tidak jelas.

Penjelasannya panjang lebar, berputar-putar.

Kalimatnya tidak efektif.

Akibatnya audiens tidak mengerti.

Tidak menangkap pesan yang disampaikan.

Hindari tipe ini.

Naiklah minimal ke level dua yaitu bertele-tele, tapi jelas.

Meskipun penjelasannya panjang, audiens masih menangkap inti dari pesan yang ingin disampaikan.

Biasanya karena masih kurang jam terbang sehingga kalimatnya belum efektif, masih perlu diperjelas dan diringkas.

Seiring waktu teruslah naik ke level tiga yaitu singkat dan jelas.

Kalimatnya tepat, padat, tidak bertele-tele.

Juga pesannya jelas dan mudah dipahami.

Pemilihan katanya pas, artikulasinya jelas, gesture dan bahasa tubuhnya juga sesuai.

Lebih baik lagi jika bisa naik ke level empat yaitu singkat, jelas dan inspiratif.

Apa yang disampaikan tidak hanya dipahami tapi juga mencerahkan dan menggerakkan. 

Membuat lebih semangat dan siap berbuat menjadi lebih baik.

Pada aspek perasaan juga ada empat level dari yang terburuk menuju yang terbaik.

Level satu yaitu aktif - agresif.

Komunikasi bukan untuk membuat paham, tapi menyerang argumen untuk menunjukkan keunggulan secara kasar.

Dampaknya menyakiti dan menyinggung perasaan.

Hindari tipe ini.

Kalaupun harus menyerang gunakan level dua yaitu pasif - agresif.

Menyerang tidak frontal tapi melalui satire dan sindiran.

Tentu lebih baik lagi jika bisa naik ke level tiga yaitu asertif.

Lugas, tegas, tanpa melukai perasaan.

Dapat menyampaikan pesan dengan jelas, dan tetap tenang serta rasional.

Bicara dengan kepala dingin.

Artikulasi tetap normal, tidak pakai nada tinggi.

Lebih bagus lagi jika naik ke level empat yaitu asertif - empatik.

Lugas, jelas, tenang, tidak melukai perasaan dan memahami kondisi emosi lawan bicara.

Dapat berempati dan merasakan perasaan orang lain.

Itulah keterampilan berbicara yang perlu diperhatikan.

Semoga kita dapat menjadi pembicara yang baik.

Pastikan isi yang disampaikan benar dan manfaat (qaulan sadidan).

Cara penyampaian juga jelas dan baik (qaulan ma'rufan).

Diterima oleh pikiran karena singkat, padat, jelas dan inspiratif (qaulan balighan).

Juga diterima oleh perasaan karena asertif - empatik.

Lugas, tidak melukai, bahkan dapat memahami perasaan audiens (qaulan layyinan).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.