Yang Dibangun Bersama Akan Dijaga Bersama
Abdul Azis Alimuddin July 06, 2026 10:07 PM

Oleh: Aminul Arif
Guru SIT Al-Biruni Mandiri School

TRIBUN-TIMUR.COM - Sekolah mengajarkan banyak hal tentang tanggung jawab, tetapi belum tentu berhasil menumbuhkan rasa memiliki terhadap komunitasnya.

Berbagai aturan, program, dan kebijakan dirancang untuk menciptakan lingkungan belajar yang ideal.

Namun, pertanyaan yang jarang kita ajukan adalah apakah semua rancangan itu juga mampu membuat guru, siswa, orang tua, dan warga sekolah merasa bahwa sekolah ini adalah milik bersama?

Sebab, sulit menumbuhkan komitmen jika mereka hanya menjadi pelaksana, bukan ikut mengambil bagian dalam proses membangunnya.

Pertanyaan itu terus mengusik saya ketika mendampingi siswa menyelesaikan proyek penulisan buku.

Tidak seorang pun meminta mereka memperlakukan buku itu dengan penuh kebanggaan, tetapi mereka melakukannya.

Mereka antusias menceritakan proses kreatifnya kepada teman-teman, seolah-olah nilainya jauh melampaui kualitas isinya, dari situ juga terasa bahwa apa yang dihasilkan siswa dari usahanya memiliki kedekatan emosional tersendiri.

Sejak saat itu saya mulai mempertanyakan kembali, mungkinkah yang selama ini kurang dari sekolah bukanlah aturan atau program baru, melainkan kesempatan bagi setiap orang untuk ikut membangunnya?

Saya ingin mengaitkan hal ini dengan teori psikologi prilaku yang dikenal sebagai IKEA Effect.

Melalui serangkaian eksperimen, para peneliti menemukan bahwa manusia cenderung memberi nilai lebih tinggi pada sesuatu yang mereka bangun sendiri dibandingkan benda identik yang dibuat oleh orang lain.

Menariknya, yang membentuk penghargaan itu bukan sekadar besarnya usaha, melainkan keberhasilan menyelesaikan proses tersebut.

Usaha yang berhenti di tengah jalan tidak menghasilkan efek yang sama dan yang mengubah hubungan seseorang dengan hasil karyanya adalah pengalaman berhasil menuntaskannya.

Namun, IKEA Effect baru menjelaskan mengapa seseorang mencintai hasil karyanya.

Ia belum menjelaskan bagaimana kecintaan terhadap sebuah karya dapat berkembang menjadi kepedulian terhadap sebuah komunitas.

Di sinilah konsep Psychological Ownership memberikan penjelasan yang lebih utuh.

Dalam Psychological Ownership menggambarkan keadaan ketika seseorang merasa, “Ini milik saya” atau “Ini milik kami” meskipun tidak memiliki kepemilikan secara hukum.

Rasa memiliki itu lahir karena seseorang telah menginvestasikan waktu, tenaga, gagasan, dan sebagian identitas dirinya ke dalam sesuatu yang ia bangun.

Ketika hubungan psikologis itu terbentuk, komitmen tidak lagi bergantung pada pengawasan. 

Orang akan menjaga sesuatu karena ia merasa dirinya ada di dalamnya.

Bagi saya, dua konsep tersebut membuka cara pandang baru terhadap pendidikan.

Selama ini sekolah sering berbicara tentang pentingnya partisipasi.

Guru diminta melibatkan siswa.

Kepala sekolah diminta melibatkan guru.

Orang tua diundang menghadiri berbagai kegiatan sekolah akan tetapi, partisipasi ternyata tidak selalu melahirkan rasa memiliki.

Ada perbedaan mendasar antara dilibatkan dan ikut membangun.

Seseorang dapat hadir dalam rapat tanpa merasa memiliki keputusan yang dihasilkan.

Siswa dapat mengikuti proyek tanpa pernah merasa bahwa karya itu benar-benar lahir dari dirinya.

Guru dapat menjalankan program sekolah tanpa pernah menganggap program tersebut sebagai bagian dari visi yang ia perjuangkan.

Justru yang melahirkan rasa memiliki adalah pengalaman menciptakan sesuatu hingga selesai.

Barangkali karena itu budaya sekolah yang kuat tidak pernah dibangun semata-mata melalui aturan.

Aturan memang mampu menciptakan keteraturan, tetapi belum tentu menghasilkan komitmen.

Komitmen tumbuh ketika warga sekolah melihat jejak tangan mereka sendiri pada sekolah yang mereka huni.

Seorang siswa yang ikut merancang kesepakatan kelas akan lebih terdorong menjaganya daripada siswa yang sekadar diminta mematuhinya.

Guru yang ikut merumuskan sebuah program akan lebih gigih mengembangkannya daripada guru yang hanya menerima instruksi pelaksanaan.

Orang tua yang sejak awal diajak memikirkan arah pendidikan sekolah akan lebih mudah menjadi mitra daripada sekadar penerima informasi.

Jika melihat hal ini yang dibutuhkan sekolah, barangkali bukan hanya ruang untuk berpartisipasi, melainkan ruang untuk berkarya bersama.

Sebab melalui proses itulah setiap orang dapat mengalami keberhasilan, melihat kontribusinya bermakna.

Sesungguhnya, gagasan ini bukanlah sesuatu yang asing bagi kebudayaan Indonesia.

Tradisi gotong royong telah lama mengajarkan bahwa orang cenderung menjaga apa yang pernah mereka bangun bersama.

Sederhananya adalah jalan kampung, rumah ibadah dan kegiatan pesta rakyat yang mengharuskan masyarakat bekerja secara kolektif, hal tersebut tidak bertahan hanya karena fungsinya, tetapi karena masyarakat merasa memiliki bagian di dalam proses Pembangunan dan merawatnya.

Psikologi modern memberi penjelasan ilmiah terhadap pengalaman yang telah lama hidup dalam kebudayaan kita.

Ketika saya melihat siswa-siswa itu memeluk buku karya mereka sendiri, saya akhirnya memahami bahwa mereka tidak sedang menjaga sekumpulan kertas yang tercetak rapi melainkan mereka sedang menjaga jejak dari usaha, kegagalan, revisi, dan keberhasilan yang pernah mereka alami bersama.

Buku itu menjadi penting bukan semata-mata karena berhasil tercetak dan memiliki bentuk fisik, melainkan karena di dalamnya tersimpan sebagian dari diri mereka.

Mungkin demikian pula sekolah. Ia tidak menjadi rumah karena apa yang dimilikinya, melainkan karena siapa saja yang merasa menjadi bagian darinya.

Ketika seseorang dapat memandang sekolah dan berkata, “Ada bagian dari diri saya yang ikut membangun tempat ini” saat itulah komitmen tumbuh.

Bukan karena kewajiban, melainkan karena rasa memiliki.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.