Sihir Messi dan Magis Ramang: Romantisme ‘Si Kancil’ di Panggung Piala Dunia 2026
Abdul Azis Alimuddin July 06, 2026 10:07 PM

Oleh: Hidayat Marmin Tayjeb
Dosen Universitas Bosowa

TRIBUN-TIMUR.COM - Hari ini, jagat raya sepak bola bergerak di bawah komando sihir Lionel Messi.

Jutaan pasang mata terhipnotis oleh liukan magis sang megabintang, mengagumi bagaimana tubuh mungilnya mampu mengobrak-abrik pertahanan raksasa modern, sebuah tontonan elite yang kini merajai hiruk-pikuk Piala Dunia 2026.

Namun, jauh sebelum dunia mengenal gocekan magis dari Messi, publik Lapangan Karebosi di Makassar dan benteng pertahanan dunia sudah lebih dulu dibuat ternganga oleh takdir yang serupa.

Tujuh dekade silam, seorang pria bertubuh kecil asal Barru bernama Andi Ramang, telah mempertontonkan level kejeniusan akrobatik yang sama.

Di era ketika sepak bola dimainkan dengan nyali dan sepasang sepatu kanvas usang, ‘Si Kancil’ bukan hanya sekadar mencetak gol, ia adalah penyihir pertama yang membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah halangan untuk mengguncang panggung dunia.

Kehebatan Andi Ramang sebagai legenda pemain sepak bola dunia bahkan mendapat pengakuan dari FIFA sebagai salah satu pemain terhebat era tahun 1950an.

Saat 25 tahun wafatnya sang maestro pada tahun 2012 diperingati FIFA dengan tema Indonesian Who Inspired ’50s Meridian (Orang Indonesia yang Menginspirasi Puncak Sukses Tahun 1950-an).

Jika hari ini dunia takjub melihat Lionel Messi meliuk-liuk di antara bek lawan yang bertubuh kekar, sejarah mencatat Andi Ramang telah melakukan trik yang sama jauh lebih awal.

Berpostur hanya sekitar 156 sentimeter, Ramang adalah representasi nyata dari julukannya, ‘Si Kancil’.

Di tengah kepungan pemain belakang lawan yang tinggi besar, Ramang tidak pernah gentar.

Kecepatan murni, dikombinasikan dengan tendangan salto akrobatik yang menjadi ciri khasnya, membuat lini belakang terbaik di dunia frustrasi.

Baik Messi maupun Ramang membuktikan satu tesis sepak bola yang abadi: kecerdasan spasial dan kelincahan selalu bisa meruntuhkan tembok pertahanan fisik yang kokoh.

Puncak sihir Messi mungkin tertuang di Stadion Lusail, Qatar saat ia mengangkat trofi emas Piala Dunia pada 18 Desember 2022, bahkan tidak menutup kemungkinan momen itu kembali terulang dan mengukir sejarah pada Piala Dunia 2026 ini.

Namun bagi Indonesia, puncak magis Ramang terjadi di Stadion Melbourne pada kualifikasi perempat final Olimpiade 1956.

Lawan mereka saat itu adalah Uni Soviet, raksasa menakutkan yang dipimpin oleh kiper legendaris Lev Yashin, satu-satunya penjaga gawang pemenang Ballon’Or dalam sejarah sepak bola dunia.

Di atas kertas, Indonesia diprediksi akan menjadi bulan-bulanan.

Namun, Ramang mengubah prediksi itu menjadi salah satu kejutan terbesar.

Sepanjang 120 menit, pergerakan Ramang memaksa Yashin jatuh bangun menyelamatkan gawangnya.

Skor 0-0 malam itu bukan sekadar angka, melainkan itu adalah bukti bahwa seorang anak Barru mampu membuat kiper terbaik sepanjang masa bernapas lega saat peluit panjang dibunyikan.

Kini, di tahun 2026, ketika hiruk-pikuk Piala Dunia kembali menyapa dan publik sepak bola kita tengah bermimpi melihat Garuda terbang tinggi di panggung dunia, nama Ramang kembali memanggil dari ruang sejarah.

Messi tengah menuntaskan tugasnya menjadi dewa sepak bola modern bagi Argentina.

Sementara bagi Indonesia, Ramang adalah pengingat abadi bahwa kita tidak pernah kekurangan bakat alami.

Menatap persaingan sepak bola modern yang semakin taktikal dan mengandalkan teknologi ilmiah, spirit “Si Kancil” yang bermain dengan kegembiraan, ketulusan, dan harga diri bangsa adalah kepingan puzzle yang selalu dirindukan oleh publik Makassar dan pencinta sepak bola nasional di setiap generasi.

Pada akhirnya, waktu boleh saja terus berjalan, memisahkan era sepatu kanvas usang Andi Ramang dengan era sepatu berteknologi tinggi Lionel Messi.

Namun, romantisme sepak bola akan selalu menemukan jalannya untuk pulang ke tempat yang sama: sebuah kekaguman atas bakat murni manusia yang menolak tunduk pada keterbatasan.

Di tengah hiruk-pikuk Piala Dunia 2026, ketika seluruh dunia memuja magis Messi yang berada di senjakala karier indahnya, publik Makassar punya cara sendiri untuk merayakannya.

Kita tidak hanya sedang menonton turnamen sepak bola terbesar di planet bumi, tetapi juga sedang merawat ingatan.

Bahwa jauh sebelum layar kaca kita dipenuhi oleh sihir dari Messi, dari tanah Sulawesi Selatan ini, ‘Si Kancil’ telah lebih dulu menitipkan sebuah pesan abadi bagi Ibu Pertiwi: bahwa Garuda pernah, dan akan selalu bisa, menantang dunia dengan kepala tegak.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.