– Wakil Ketua DPD RI Yorrys Raweyai menyoroti kinerja intelijen dan meminta adanya penguatan sistem deteksi dini guna mencegah berulangnya aksi kekerasan di Papua dalam konferensi pers di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (6/7/2026).
Yorrys Raweyai menilai aparat intelijen seharusnya mampu bekerja secara profesional dan memberikan peringatan dini serta sinyal awal mengenai daerah-daerah yang berpotensi terjadi gangguan keamanan, sehingga pemerintah dapat bertindak lebih cepat secara antisipatif dan responsif dibandingkan hanya reaktif setelah insiden terjadi.
Sorotan ini mencuat menyusul maraknya aksi kekerasan akhir-akhir ini di tanah Papua, termasuk insiden penembakan yang menewaskan seorang ibu yang sedang hamil tujuh bulan bernama Melkiana Duwitau bersama janin dalam kandungannya di Sugapa, ibu kota Kabupaten Intan Jaya, Provinsi Papua Tengah pada Kamis (2/7/2026) malam.
Melkiana Duwitau dilaporkan tewas tertembus peluru yang diduga ditembakkan dari arah pos militer, yang berjarak sekira 50 meter dengan rumah korban di kawasan Jaringan (J2) Kota Sugapa.
Selain itu, insiden kekerasan lain yang terjadi adalah aksi pembakaran pesawat milik Associated Mission Aviation (AMA) di Bandara Perintis Balinggama, Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo yang diduga dilakukan kelompok TPNPB OPM Yahukimo Pimpinan Elkius Kobak.
Dalam aksi tersebut, para pelaku turut menembak pilot pesawat yang diketahui bernama Nicholas F. Goselin, seorang warga negara Amerika Serikat (AS), hingga tewas.
Terkait penembakan yang menewaskan pilot di Papua tersebut, Yorrys menyatakan bahwa pihak KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata) secara terbuka telah mengakui aksi mereka melalui siaran pers (press release), sehingga kini yang terpenting adalah bagaimana respons pemerintah terhadap masalah keamanan di lapangan.
Melalui penguatan fungsi intelijen, Yorrys berharap potensi ancaman keamanan di Papua dapat diidentifikasi sejak awal agar peristiwa serupa tidak terus-menerus berulang dan memicu situasi saling menyalahkan setelah kejadian.(*)