Perjalanan bersejarah Meksiko di Piala Dunia berakhir dengan kekecewaan di Stadion Azteca, ketika Julián Quiñones tampil gemilang dan Raúl Jiménez sempat memberi harapan bagi El Tri sebelum Jude Bellingham membawa Inggris menang dramatis 3-2.
Inggris dan Meksiko menampilkan salah satu laga terbaik di Piala Dunia kali ini, namun hasil akhirnya menyakitkan bagi El Tri setelah The Three Lions lolos dari Estadio Azteca dengan kemenangan 3-2.
Raúl Jiménez dan Julián Quiñones mencetak gol untuk Meksiko, tetapi Jude Bellingham membalikkan keadaan dalam waktu dua menit yang menghancurkan, menghukum periode paling rapuh El Tri di turnamen ini. Bintang Real Madrid itu mencetak gol ketiganya dan keempatnya di Piala Dunia secara beruntun, membalikkan permainan sebelum Meksiko sempat bernapas.
Jordan Pickford, yang sebelumnya sudah enam kali dibobol Jiménez di Liga Premier, melakukan dua penyelamatan gemilang terhadap striker veteran tersebut untuk menjaga keunggulan Inggris 2-1 di babak pertama. Namun, ia tak mampu menahan tendangan penalti Jiménez di menit akhir, ketika Meksiko terus menekan hingga penghujung laga.
Meskipun kalah, ini tetap menjadi Piala Dunia yang bersejarah bagi El Tri. Meksiko mencatat rekor nasional untuk jumlah kemenangan terbanyak dalam satu turnamen (empat), poin terbanyak (12), gol terbanyak (10), nirbobol terbanyak (empat), dan assist terbanyak oleh satu pemain Meksiko di satu Piala Dunia, dengan Roberto Alvarado mencatat tiga assist. Bahkan dalam kekalahan, tim ini meninggalkan warisan penting.
GOAL memberikan penilaian untuk para pemain Meksiko setelah kekalahan mereka melawan Inggris di Estadio Azteca...
Kiper & Pertahanan
Raúl Rangel (6/10):
Seharusnya lebih sigap pada momen yang mengawali gol ketiga Inggris, terutama saat The Three Lions bermain dengan sepuluh pemain. Meski begitu, ia bukan alasan utama Meksiko kehilangan kendali selama dua menit yang menentukan itu.
Jorge Sánchez (6/10):
Tekanan yang ia berikan di area pertahanan Inggris menimbulkan masalah dan membantu Meksiko merebut bola di area berbahaya. Namun di sisi pertahanan, ia kesulitan setiap kali Anthony Gordon menghadapinya dalam situasi satu lawan satu.
César Montes (6/10):
Hampir menyamakan kedudukan sebelum jeda, tetapi Bellingham datang menyelamatkan Inggris. Ia tampil cukup tenang saat menguasai bola, namun ketika Inggris unggul 2-0, ia gagal memberikan kestabilan pertahanan yang dibutuhkan Meksiko.
Johan Vásquez (7/10):
Menutup turnamen yang berkesan dengan penampilan solid lainnya. Vásquez memberi El Tri kestabilan di lini belakang sepanjang Piala Dunia, dan distribusi bolanya kembali menonjol saat melawan Inggris.
Jesús Gallardo (5/10):
Sering maju di sisi kiri dan memberi lebar serangan untuk Meksiko, tetapi umpannya kerap tidak akurat. Banyak umpan silangnya yang gagal menemui sasaran.
Gelandang
Érik Lira (7/10):
Salah satu pemain yang paling bersinar bagi Meksiko di Piala Dunia ini. Penampilannya seharusnya membuka peluang untuk bermain di Eropa, tempat ia bisa terus mengembangkan diri sebagai gelandang penting bagi klub dan tim nasional. Duel individunya dengan Bellingham menjadi salah satu pertarungan paling menarik di laga ini.
Luis Romo (6/10):
Berperan dalam beberapa serangan awal Meksiko, tetapi mulai menghilang seiring berjalannya pertandingan. El Tri membutuhkan kendali lebih di lini tengah, dan Romo gagal memberikannya secara konsisten.
Gilberto Mora (6/10):
Sebelum kehilangan bola yang menyebabkan gol kedua Inggris, Mora tampil cukup impresif dengan kerja keras defensif dan sentuhan cerdas saat menguasai bola. Yang paling menonjol adalah reaksinya: setelah Meksiko memperkecil menjadi 2-1, ia kembali tenang dan berusaha memengaruhi permainan lagi — tanda kedewasaannya semakin matang.
Penyerang
Roberto Alvarado (7/10):
Piala Dunia-nya akan dikenang karena kontribusinya di kedua sisi lapangan. Tanpa pergerakan, umpan, dan kerja defensif Alvarado, Meksiko tidak akan mencapai level permainan menyerang seperti ini sepanjang turnamen.
Raúl Jiménez (7/10):
Aguirre mempertahankannya di lapangan dibandingkan Quiñones karena keandalannya dalam mengeksekusi penalti, dan Jiménez menunaikan tugasnya dengan baik untuk memperkecil skor menjadi 3-2. Sebelumnya, Pickford dua kali menggagalkan upayanya lewat penyelamatan gemilang.
Julián Quiñones (8/10):
Pemain paling berbahaya bagi Meksiko malam itu. Tanpa Quiñones, pertandingan ini mungkin tidak akan menjadi laga klasik yang mendebarkan. Pengaruhnya mulai berkurang ketika Aguirre mengandalkan serangan udara di akhir laga, dan keputusannya menarik Quiñones justru menghilangkan ancaman terbesar Meksiko.
Pemain Pengganti & Pelatih
Edson Álvarez (6/10):
Masuk menggantikan Montes yang cedera di babak kedua dan butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan tempo permainan. Tetap berusaha terlibat, terutama dalam situasi bola mati.
Santiago Giménez (5/10):
Mendapat beberapa kesempatan sebagai pemain pengganti selama Piala Dunia, tetapi tidak pernah terlihat benar-benar percaya diri dalam pergerakan maupun penyelesaiannya. Laga ini pun menjadi penampilan sulit baginya.
Brian Gutiérrez (7/10):
Membawa energi ketika masuk dan langsung menunjukkan keberanian menyerang lini belakang Inggris. Larinya memaksa Harry Kane melakukan pelanggaran yang menghasilkan penalti bagi Jiménez. Pengalaman di Piala Dunia ini akan sangat berharga bagi masa depannya bersama El Tri.
Álvaro Fidalgo (6/10):
Mengambil alih tanggung jawab distribusi bola Meksiko di akhir laga, tetapi gagal menemukan umpan akhir yang bisa menghasilkan gol penyama. Kehadirannya menunjukkan bahwa Meksiko mungkin membutuhkan kendalinya sejak awal.
Guillermo Martínez (5/10):
Keputusan Aguirre cukup jelas: menambah pemain tinggi di kotak penalti untuk mencari gol penyama. Namun menarik keluar Quiñones, pemain terbaik Meksiko di laga ini, sulit untuk dibenarkan.
Javier Aguirre (7/10):
Kekalahan ini tentu menyisakan beberapa pertanyaan bagi Aguirre. Meksiko mungkin membutuhkan gelandang pengatur permainan seperti Fidalgo sejak awal menggantikan Romo, dan di akhir laga, menarik Quiñones adalah keputusan berisiko. Tidak seharusnya pemain dengan lima kontribusi gol di turnamen dilepas ketika tim sangat membutuhkan gol. Meski begitu, Aguirre meninggalkan Piala Dunia ini dengan membawa Meksiko melalui salah satu perjalanan paling berkesan dalam sejarah tim nasional.