Catatan Sepak Bola Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM - Dua wakil benua Amerika berguguran di babak 16 besar. Brasil dan tuan rumah Meksiko. Tersisa Argentina dan Kolombia sampai catatan ini saya racik pukul 20.00 Wita hari Senin 6 Juli 2026.
Brasil mati kutu melawan tim dari negeri permai di Semenanjung Skandinavia dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tertinggi.
Norwegia membuktikan bahwa di lapangan bola mereka kali ini lebih baik dibandingkan Brasil.
"Saya bukan fans Brasil tapi inginkan mereka lolos ke perempat final. Tetapi melihat permainan Norwegia, Brasil memang layak dihukum," kata Marsel Tabe (38), pria kelahiran Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.
Baca juga: Selebrasi Lokal 2026, Fans Brasil Akui Norwegia Layak Melangkah ke Final Piala Dunia
Marsel menggemari klub Barcelona terutama karena gaya tiki-takanya yang menawan. Kalau tim nasional, dia sejak lama jatuh cinta pada Belanda. Belanda sudah out duluan di babak 32 besar.
"Brasil main jelek sekali hari ini," kata Marsel yang saya hubungi via telepon tak lama setelah Neymar menangis di Stadion New Jersey, Amerika Serikat. Neymar pun memutuskan pensiun dari sepak bola internasional.
Permainan Brasil melawan Norwegia memang terasa hambar. Jauh amat dari jogo bonito alias sepak bola indah yang menjadi ciri khas tim Samba.
Brasil dua kali dapat penalti. Bruno Guimaraes gagal mengeksekusi penalti pertama.
Masih untung Neymar sukses pada penalti kedua meskipun gagal selamatkan Brasil dari kekalahan. Gol Neymar Jr datang terlambat yaitu pada menit 90+10.
Norwegia bermain sangat dinamis. Atraktif. Koordinasi antarlini sangat rapi. Transisi pemain berlangsung mulus. Disiplin tinggi. Secara keseluruhan, Norwegia unggul dalam penguasaan bola. Sementara Brasil asuhan Carlo Ancelotti malah cenderung defensif.
Dua gol Erling Haaland sangat berkelas. Tetapi selebrasinya begitu sederhana. Dia hanya tersenyum, tidak ada gerakan tubuh berlebihan. Dia memborong brace cantik hasil sundulan kepala dan tembakan kaki. Gol bersih.
Sejauh ini Haalad sudah mencetak tujuh gol di Piala Dunia 2026. Koleksinya sama dengan Kylian Mbappe dan maestro bola Argentina, Lionel Messi.
Timnas Norwegia dan para fansnya kembali mewarnai laga Piala Dunia dengan ritual Norwegian Row atau Kayuhan Norwegia di Stadion New Jersey.
Bisa dikatakan bahwa Kayuhan Norwegia merupakan atraksi paling menarik selama FIFA World Cup 2026. Ritual khas suku Viking itu sangat menghibur. Warganet sejagat mulai familiar dengan yel-yel berikut.
Dam, dam, dam, Ro!
Dam, dam, dam, Ro!
Dam, dam, dam, Ro!
Bagi Timnas Brasil, kekalahan dari Norwegia dalam laga perdelapan final Piala Dunia 2026 memperpanjang nirgelar selama 24 tahun.
Terakhir kali Brasil bersinar di Korea Selatan-Jepang 2002. Waktu itu, Neymar Jr baru berumur 10 tahun. Sampai pensiun Neymar tidak pernah merasakan pesta juara Piala Dunia.
Tahun ini Brasil mencatatkan pencapaian terburuk selama 36 tahun terakhir, yakni terhenti di perdelapan final. Terakhir kali Brasil tersingkir di babak 16 besar terjadi pada tahun 1990 di Italia.
Jika saat itu mereka ditumbangkan sesama raksasa, Argentina, kali ini tim Samba ditekuk Norwegia. Pasukan Viking unggul segalanya selama 90 menit. Opta mencatat, Norwegia menguasai 66 persen bola, sedangkan Brasil hanya 34 persen.
Baca juga: Selebrasi Lokal 2026, Tanjung Verde Buat Fans Argentina Senam Jantung 120 Menit
Operan pun dikuasai Norwegia yaitu 680 berbanding 329 milik Brasil atau lebih dari dua kali lipat. Dari jumlah itu, akurasi operan Norwegia mencapai 90,7 persen, sedangkan Brasil hanya 84,8 persen.
Statistik tembakan ke arah gawang, Brasil lebih unggul, yakni 14 berbanding 9. Namun, dari jumlah itu, Brasil hanya empat kali yang tepat sasaran, sementara Norwegia memiliki lima peluang tepat sasaran.
Hitung-hitungan kualitas peluang yang dihasilkan kedua tim pun menunjukkan Norwegia lebih efektif. Angka xG (gol yang diharapkan) Brasil mencapai 2,73.
Artinya, berdasarkan statistik, peluang-peluang yang diperoleh seharusnya bisa menghasilkan minimal dua gol. Sebaliknya, Norwegia yang hanya mencatatkan nilai xG 0,73 bisa menjebol dua kali.
Setelah kegagalan di Piala Dunia 2026, nasib Carlo Ancelotti masih misteri. Pelatih asal Italia itu masih terikat kontrak hingga Piala Dunia 2030.
Brasil asuhan Don Carlo Ancelotti tidak memiliki jenderal lapangan tengah yang andal. Brasil hanya mengandalkan Bruno Guimaraes dan Casemiro. Keduanya kalah bersaing dengan para pemain Norwegia yang tampil solid.
Kepada wartawan seusai laga melawan Norwegia, Ancelotti menegaskan kekalahan ini bukan akhir dari Brasil. ”Kami akan pakai ini sebagai ’bahan bakar’ untuk melangkah ke depan,” ujar mantan pelatih Real Madrid selama dua periode tersebut.
*
Selain Brasil, wakil benua Amerika yang juga gugur adalah tuan rumah Meksiko. Bermain di hadapan pendukung sendiri di Stadion Azteca, Meksiko kalah tipis 2-3 atas Inggris.
Pertandingan yang sempat tertunda satu jam akibat cuaca buruk di stadion ikonik, Senin (6/7/2026) pagi Wita, terasa spesial bagi Inggris. Harry Kane dkk bersukaria di akhir pertandingan.
Inggris yang tertekan pada awal pertandingan bisa keluar dari tekanan dan berbalik memukul tuan rumah. Dalam tempo dua menit, Jude Bellingham mencetak dua gol yaitu menit ke-36 dan ke-38.
Meksiko memperkecil skor lewat gol Julián Quiñones pada menit ke-42. Awal babak kedua, Inggris kehilangan seorang pemain. Bek kanan Jarell Quansah diusir wasit karena tekel keras Jesús Gallardo pada menit ke-54.
Pada menit ke-60 Inggris malah cetak gol ketiga lewat tendangan penalti Harry Kane. Wasit memberikan penalti setelah kiper Raúl Rangel melanggar Anthony Gordon.
Tim tuan rumah memperkecil ketinggalan 2-3 sembilan menit kemudian. Tekanan tinggi dari para pemain Meksiko berbuah pelanggaran Kane di kotak terlarang. Raul Jimenez sukses mengeksekusi penalty. ”Itu pertandingan yang gila,” kata Kapten Timnas Inggris, Harry Kane, dikutip dari BBC Sport.
Kemenangan Inggris sangat istimewa mengingat Stadion Azteca dikenal sebagai benteng angker bagi lawan. Dalam sepuluh laga Piala Dunia, Meksiko tak pernah kalah, termasuk menyapu bersih kemenangan di Piala Dunia 2026 tanpa kebobolan satu gol pun.
Inggris juga punya kelangan pahit di stadion tersebut. Empat puluh tahun silam di Azteca, Inggris menangis saat bintang Argentina Diego Armando Maradona mencetak "Gol tangan Tuhan" dan ”Gol Abad Ini”. Inggris kalah 1-2 di babak perempat final Piala Dunia 1986.
Itulah sebabnya Pelatih Thomas Tuchel sangat senang timnya berjaya di Azteca.
”Ini Azteca, ini Meksiko, pertandingan yang gila. Kami sudah memberikan segalanya. Tim ini benar-benar serius. Ketika keadaan menjadi sulit, mereka tidak pernah menyerah, tidak kehilangan kepercayaan," kata Tuchel kepada BBC Sport.
Pelatih Meksiko, Javier Aguirre menyatakan, para pemainnya ceroboh dan melakukan kesalahan fatal. ”Kami melakukan tiga kesalahan dan membayar mahal atas kesalahan itu,” kata Javier Aguirre.
Meski demikian Aguirre menyebut pemainnya meninggalkan Piala Dunia 2026 dengan kepala tegak. ”Saya berterima kasih kepada mereka semua,” kata Aguirre, yang mundur dari jabatannya setelah kekalahan dari Inggris.
Inggris akan berhadapan dengan Norwegia di babak perempat final Piala Dunia 2026 tanggal 12 Juli mendatang.
Kita menanti apakah Inggris akan terus melaju sampai jauh atau malah menjadi korban Norwegia berikutnya. Salam bola! (*)