FGD di Unimal Dorong Ekonomi Sirkular, Limbah Plastik Dinilai Jadi Peluang Ekonomi Baru
Yocerizal July 07, 2026 01:03 AM

 

SERAMBINEWS.COM, LHOKSEUMAWE – Katahati Institute bekerja sama dengan Fakultas Teknik Universitas Malikussaleh (Unimal) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Pengelolaan Lingkungan dan Pengolahan Limbah Plastik Berbasis Ekonomi Sirkular untuk Mendukung Pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) dan Green Community.

Kegiatan yang didukung Pegadaian Area Banda Aceh itu berlangsung di Aula Cut Meutia, Kampus Bukit Indah Universitas Malikussaleh, Kota Lhokseumawe, Senin (6/7/2026).

FGD tersebut mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, organisasi masyarakat, dan pegiat lingkungan.

Mereka berdiskusi membangun kolaborasi untuk menghadapi persoalan limbah plastik melalui pendekatan ekonomi sirkular.

Dalam sambutan Ketua Dekranasda Aceh, Marlina Muzakir, yang dibacakan Kepala Dinas Koperasi dan UKM Aceh, kegiatan tersebut diapresiasi sebagai forum strategis untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan.

Forum itu dinilai penting dalam mencari solusi atas persoalan sampah plastik yang semakin kompleks.

Dekranasda Aceh menilai ekonomi sirkular menawarkan paradigma baru dalam pengelolaan sumber daya.

Melalui pendekatan tersebut, sampah tidak hanya dikurangi, tetapi juga dimanfaatkan kembali, didaur ulang, dan diolah menjadi produk bernilai tambah.

Konsep itu diyakini mampu membuka peluang usaha, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama bagi pelaku UMKM dan industri kreatif.

Baca juga: VIDEO - Kim Jong Un Siagakan Kapal Perusak Baru, Korut Uji Rudal Jelajah dan Perkuat Armada Laut

Baca juga: Kemenkum Tetapkan SK Baru DPP Partai Aceh, Ketua DPRA Jabat Bendahara, Ini Daftar Lengkapnya

Narasumber dari Pascasarjana Universitas Syiah Kuala, Prof Dr Ichwana ST MP, mengatakan limbah plastik kini telah menjadi persoalan lingkungan yang serius.

Menurutnya, rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah dan mengelola sampah menyebabkan meningkatnya pencemaran lingkungan.

Selain itu, mikroplastik mulai masuk ke rantai makanan, pembakaran sampah menghasilkan zat berbahaya, dan saluran drainase yang tersumbat sampah memicu banjir perkotaan.

Meski demikian, Ichwana menilai limbah plastik memiliki nilai ekonomi apabila dikelola melalui pendekatan ekonomi sirkular.

Limbah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri, produk kreatif, hingga membuka lapangan kerja baru.

Ia menjelaskan Indonesia telah memiliki Peta Jalan SDGs Indonesia dan Peta Jalan Ekonomi Sirkular 2025–2045.

Melalui kebijakan tersebut, pemerintah menargetkan nol sampah plastik pada 2040 serta nol sampah dan nol emisi pada 2050 melalui penerapan strategi 9R, yaitu Refuse, Rethink, Reduce, Reuse, Repair, Refurbish, Remanufacture, Repurpose, dan Recycle.

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Ichwana juga menegaskan pengelolaan limbah plastik berkontribusi terhadap pencapaian sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan.

Di antaranya pengentasan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi yang inklusif, pembangunan kota berkelanjutan, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, hingga aksi menghadapi perubahan iklim.

Baca juga: Temui Pihak TNGL, Bupati Gayo Lues Bahas Pengembangan Kakao di Putri Betung

Baca juga: 12 Akademisi Minta MK Pertahankan Badan Bank Tanah, Dinilai Sesuai Konstitusi

Sementara itu, Dr Ir Rozanna Dewi ST MSc IPM dari Center of Excellence (CoE) TechnoPlast Universitas Malikussaleh memaparkan berbagai tantangan pengelolaan limbah plastik sekaligus peluang pengembangan inovasi plastik ramah lingkungan.

Ia menyebut tim peneliti Universitas Malikussaleh berhasil mengembangkan plastik degradable berbahan dasar pati sagu.

Produk tersebut dinilai berpotensi menjadi alternatif pengganti plastik konvensional yang lebih ramah lingkungan.

Inovasi itu kini dikembangkan melalui perusahaan rintisan PT Plastik Sago Teknologi (PST).

Pengembangannya juga mendapat dukungan kerja sama dari berbagai lembaga nasional, termasuk BATAN dan BPPT.

Ketua Badan Pengurus Katahati Institute, Chairul Muslim, mengatakan FGD tersebut menjadi langkah awal membangun ekosistem ekonomi sirkular di Kota Lhokseumawe.

"Pengelolaan limbah plastik tidak lagi hanya dipandang sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai peluang ekonomi baru yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat," ujarnya.

Menurut Chairul, forum itu menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis.

Di antaranya penyusunan rencana bisnis ekonomi sirkular di Kota Lhokseumawe, rekomendasi kebijakan bagi Pemerintah Kota Lhokseumawe, penguatan kemitraan antara perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha, serta pembentukan sekretariat bersama guna memastikan keberlanjutan program.

Baca juga: USK Kirim Ribuan Mahasiswa ke Kawasan Bencana untuk Jalani KKN

Baca juga: Mualem Yakini Irjen Pol Ruddi Setiawan Sosok yang Tepat Pimpin Polda Aceh

Ia menambahkan kegiatan tersebut juga bertepatan dengan peringatan 25 tahun berdirinya Katahati Institute.

"Di usia yang ke-25 tahun, Katahati merasa bersyukur dapat mempertemukan banyak pihak untuk membicarakan isu yang selama ini belum mendapatkan tempat yang penting untuk dibahas, yakni persoalan limbah plastik,"

"Kami berharap forum ini menjadi awal dari gerakan bersama menuju lingkungan yang lebih bersih, ekonomi yang lebih inklusif, dan masyarakat yang semakin peduli terhadap keberlanjutan," katanya.

Melalui FGD tersebut, para peserta berharap lahir berbagai inovasi dan langkah konkret dalam pengelolaan limbah plastik.

Selain mampu mengurangi pencemaran lingkungan, upaya tersebut juga diharapkan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat dan mendorong terwujudnya Green Community di Kota Lhokseumawe maupun Aceh secara umum.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.