Arkeolog Ungkap Rahasia Prasasti Kamulan, Benteng Kemiliteran Kuno & Pusat Peradaban Maju Trenggalek
Sudarma Adi July 07, 2026 01:14 AM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Madchan Jazuli

TRIBUNJATIM.COM, TRENGGALEK – Prasasti Kamulan bukan sekadar peninggalan batu bertulis biasa, melainkan sebuah dokumen otentik yang menjadi tonggak sejarah sekaligus legitimasi berdirinya Kabupaten Trenggalek.

Dalam agenda diseminasi kebudayaan bertajuk 'Prasasti Kamulan Dalam Ingatan Kolektif Visualisasi Dan Diskursus Identitas Trenggalek', Arkeolog kawakan Dr. Mudzakir Dwi Cahyono mengupas tuntas tabir sejarah yang menyelimuti situs legendaris tersebut. 

Kehadiran Dosen Sejarah Universitas Negeri Malang (UM) ini bertindak sebagai pemberi garis merah masa lalu dalam forum yang didukung oleh pendanaan (funding) film dokumenter 'Sunghai' dari Kementerian Kebudayaan melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur. 

Dalam paparannya, alumni Magister Arkeologi Universitas Indonesia ini menjelaskan bahwa kawasan Kamulan (kini masuk Kecamatan Durenan, Trenggalek) menyimpan segudang tinggalan arkeologis berharga. Mulai dari struktur penampung air (water reservoir) kuno di Semarum, Candi Brongkah di Kedunglurah, hingga jejak historis di Kendalrejo. 

Baca juga: Film Dokumenter Sunghai, Medium Audio Visual Baru Penjaga Sejarah Hari Jadi Trenggalek

"Kita juga menemukan sejumlah temuan baik itu berupa benda-benda dari logam ya, entah itu perunggu, bahkan logam mulia ataupun mata uang-mata uang kepeng," ulas Mudzakir Dwi Cahyono, Senin (6/7/2026). 

Temuan lain berupa arca Ganesha, arca Durga Mahisasuramardini, saluran air bawah tanah (arung), hingga keramik asing memperkuat bukti bahwa Kamulan adalah kawasan perkotaan yang maju pada zamannya. 

Benteng Pertahanan Militer Kerajaan Kadiri

Cahaya sejarah Kamulan kian benderang di masa akhir pemerintahan Kerajaan Kadiri atau Panjalu di bawah kepemimpinan Raja Kertajaya (Dandang Gendis). Ketika kerajaan tersebut diguncang oleh gerakan disintegrasi dari berbagai arah, masyarakat Kamulan berdiri tegak mendukung sang raja. 

Atas kesetiaan dan jasa besarnya, Kamulan kemudian dijadikan sebagai benteng pertahanan militer strategis Kerajaan Kadiri untuk memblokade potensi serangan yang datang dari arah Ponorogo Selatan. 

Lebih jauh, pria kelahiran 28 Juli 1962 ini melontarkan sebuah hipotesis menarik terkait eksistensi Kerajaan Hasin—sebuah kerajaan bawahan Mataram Kuno yang tercatat pernah menyerang ibu kota Mataram di era Dharmawangsa. Diduga kuat, nama "Hasin" memiliki kemiripan fonetis dengan Sungai Ngasinan yang membelah Trenggalek. 

"Kamulan yang memiliki jejak-jejak perkotaan di masa lalu itu boleh dipertimbangkan untuk melokasikan pusat pemerintahan atau kadatuan Hasin itu di tempat yang kemudian kita kenal dengan nama Kamulan," jelasnya. 

Hak Istimewa Desa Perdikan dan Sejarah Nama yang Abadi

Tepat pada tahun 1194 Masehi (1116 Saka), Raja Kertajaya menganugerahkan status swatantra kepada Kamulan sebagai desa perdikan (sima) yang bebas dari kewajiban pajak tertentu atas jasa militernya.

Menariknya, sebutan "Kamulan" terbukti sebagai nama kuno (archaic name) yang sukses bertahan selama hampir seribu tahun hingga tetap digunakan menjadi nama desa hari ini. Namun, wilayah "Tani Kamulan" di masa lampau diproyeksikan jauh lebih luas, mencakup desa sekitarnya seperti Notorejo hingga Semarum. 

Perjalanan fisik Prasasti Kamulan sendiri sempat berpindah tangan. Karena wilayah Durenan dahulu sempat masuk ke dalam administrasi Tulungagung, prasasti ini bertahun-tahun disimpan di Pendopo Kabupaten Tulungagung, lalu dipindahkan ke Museum Wajak Kensis (kini Museum Daerah Tulungagung). 

Mengingat signifikansi nilainya yang krusial bagi garis keturunan sejarah Trenggalek, beberapa tahun lalu batu prasasti bertarikh 31 Agustus 1194 M ini akhirnya resmi diboyong kembali pulang ke tanah Trenggalek sebagai penanda utama hari jadi kabupaten. 

"Prasasti Kamulan ini punya alasan yang sangat kuat bahwa lokasi asalnya di satu tempat yang bernama Kamulan," tegas pria kelahiran Tulungagung ini, sembari menyebut bahwa situs ini berada di DAS Kali Ngasinan—sebuah 'sungai peradaban' utama yang mengalirkan rekam jejak kebudayaan tinggi di sepanjang alirannya

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.