Bos NASA Sebut AS dan China Bersaing Bangun Pangkalan Permanen di Bulan
Hasiolan Eko P Gultom July 07, 2026 01:18 AM

Bos NASA Sebut AS dan China Bersaing Bangun Pangkalan Permanen di Bulan

 

TRIBUNNEWS.COM - Administrator Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Jared Isaacman, mengatakan negaranya masih berada dalam perlombaan antariksa (space race) dengan China.

Menurutnya, kedua negara kini berpacu untuk kembali mendaratkan manusia di Bulan dan membangun pangkalan permanen sebagai batu loncatan menuju eksplorasi Mars.

Baca juga: NASA Konfirmasi Super El Nino, Indonesia Berpotensi Hadapi Musim Kemarau Lebih Kering

Dalam wawancara dengan program Face the Nation di CBS yang ditayangkan Minggu (6/7/2026), Isaacman menyebut program eksplorasi Bulan China berkembang dengan sangat cepat.

"China pasti akan mendaratkan taikonaut mereka di Bulan. Tidak ada keraguan mengenai hal itu. Program mereka bergerak dengan kecepatan yang luar biasa," kata Isaacman.

Ia menilai pertanyaan utamanya bukan lagi apakah China akan mencapai Bulan, melainkan apakah Amerika Serikat mampu kembali lebih dahulu dan membangun kehadiran jangka panjang di permukaan Bulan.

Selisih Target Hanya Beberapa Bulan

Menurut Isaacman, jadwal misi kedua negara kini semakin berdekatan.

NASA menargetkan pendaratan astronot di Bulan pada akhir 2028, sedangkan China diperkirakan menargetkan misi serupa sekitar 2029.

"Perbedaannya hanya hitungan bulan, bukan lagi bertahun-tahun," ujarnya.

Amerika Serikat sebelumnya telah mengirim awak Artemis II untuk melakukan penerbangan mengelilingi Bulan sebagai bagian dari persiapan misi pendaratan berikutnya.

Bangun Infrastruktur Permanen di Bulan

Isaacman mengungkapkan bahwa NASA tidak hanya menargetkan pendaratan manusia, tetapi juga mulai membangun infrastruktur permanen di Bulan.

Mulai 2027, NASA berencana mengirim berbagai peralatan pendukung, termasuk kendaraan penjelajah (lunar terrain vehicle), sehingga ketika astronot tiba pada misi berikutnya, fondasi awal pangkalan sudah tersedia.

Ia memperkirakan pada awal dekade 2030-an, aktivitas di Bulan akan menyerupai Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), dengan kru yang tinggal dalam waktu cukup lama untuk melakukan penelitian sekaligus mempersiapkan misi ke Mars.

Mengapa Bulan Kembali Menjadi Prioritas?

Perlombaan menuju Bulan kini bukan sekadar soal prestise seperti pada era Perang Dingin.

Banyak negara memandang Bulan sebagai laboratorium ilmiah sekaligus lokasi strategis untuk mengembangkan teknologi eksplorasi antariksa jarak jauh.

Gravitasi Bulan yang jauh lebih rendah dibanding Bumi membuatnya dinilai ideal sebagai titik keberangkatan misi menuju Mars.

Selain itu, berbagai misi telah mengidentifikasi kemungkinan keberadaan es air di kutub Bulan.

Jika dapat dimanfaatkan, air tersebut dapat diolah menjadi air minum, oksigen, bahkan bahan bakar roket melalui proses elektrolisis.

Karena itu, negara yang lebih dahulu membangun infrastruktur di Bulan berpotensi memperoleh keuntungan strategis dalam eksplorasi antariksa jangka panjang.

China Tolak Istilah "Space Race"

Berbeda dari pernyataan NASA, pemerintah China berulang kali menegaskan bahwa mereka tidak memandang eksplorasi luar angkasa sebagai ajang persaingan geopolitik.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, sebelumnya menyatakan bahwa antariksa merupakan ruang untuk kerja sama internasional, bukan arena kompetisi antarnegara besar.

"China akan terus bekerja sama secara terbuka dengan berbagai negara dalam eksplorasi antariksa demi kepentingan bersama umat manusia," ujarnya.

Kerja Sama AS-China Masih Terbatas

Meski China beberapa kali menawarkan kerja sama, NASA hingga kini masih dilarang melakukan kolaborasi langsung dengan Badan Antariksa China (CNSA).

Larangan tersebut berasal dari Wolf Amendment, undang-undang Amerika Serikat yang diberlakukan sejak 2011 karena pertimbangan keamanan nasional.

Sebaliknya, China justru memperkuat kemitraan dengan Rusia.

Pada 2021, kedua negara mengumumkan proyek International Lunar Research Station (ILRS), yakni rencana pembangunan pangkalan penelitian internasional di Bulan.

Rusia bahkan telah menyatakan target membangun pembangkit listrik untuk mendukung operasional pangkalan tersebut dalam dekade mendatang.

Dengan target pendaratan manusia yang kini hanya terpaut beberapa bulan, persaingan eksplorasi Bulan memasuki babak baru.

Jika pada era Apollo perlombaan berfokus pada siapa yang lebih dulu menginjakkan kaki di Bulan, kini persaingan bergeser pada siapa yang mampu membangun kehadiran permanen dan menjadikan Bulan sebagai pijakan menuju eksplorasi Mars.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.