Siapa Fredik Risya? Pengendara Ninja yang Pukul Pemotor di Jagakarsa, Ternyata Asal Kediri
Putra Dewangga Candra Seta July 07, 2026 07:32 AM

 

SURYA.co.id – Sosok pengendara Kawasaki Ninja yang viral usai diduga melakukan aksi pemukulan terhadap pengendara lain di Jagakarsa, Jakarta Selatan, akhirnya berhasil diamankan polisi.

Peristiwa yang terekam video dan beredar luas di media sosial itu tidak hanya memicu kecaman publik, tetapi juga mengundang perhatian terhadap identitas pelaku serta kronologi kejadian yang terjadi di tengah lalu lintas padat.

Video tersebut memperlihatkan seorang pria yang mengendarai motor sport Kawasaki Ninja tanpa mengenakan helm.

Ia diduga berulang kali memukul pengendara motor lain yang tetap memakai helm dan kacamata.

Meski mendapat pukulan berkali-kali, korban memilih tidak membalas dan terus melaju sambil berusaha menghindari pelaku.

Insiden yang terjadi pada Sabtu (4/7/2026) siang di kawasan Jagakarsa itu dengan cepat menjadi viral karena dinilai membahayakan keselamatan pengguna jalan sekaligus memperlihatkan tindakan kekerasan di ruang publik.

Sosok Pengendara Ninja yang Viral, Fredik Risya Samuel

Hasil penyelidikan kepolisian mengungkap bahwa pengendara Kawasaki Ninja dalam video tersebut adalah Fredik Risya Samuel (37).

Pria yang diketahui lahir di Kediri, Jawa Timur, itu berprofesi sebagai wiraswasta.

Ia ditangkap aparat kepolisian di kediamannya di kawasan Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Minggu (5/7/2026), sehari setelah video kejadian ramai diperbincangkan di media sosial.

Penangkapan berlangsung tanpa perlawanan.

Dalam rekaman saat diamankan, Fredik tampak tersenyum dan tidak memperlihatkan ekspresi panik maupun penyesalan. 

Polisi kemudian membawa yang bersangkutan ke Polsek Jagakarsa untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Berawal dari Teguran Usai Diduga Terjadi Benturan

Kapolsek Jagakarsa, AKP Nurma Dewi, menjelaskan bahwa insiden bermula ketika korban bernama Aziz merasa sepeda motornya mengalami benturan di bagian belakang.

Korban kemudian menegur pengendara Ninja yang saat itu diketahui tidak mengenakan helm.

Namun, teguran tersebut justru memicu emosi pelaku.

"Bukannya meminta maaf pelaku malah melakukan pemukulan terhadap korban," ujar AKP Nurma Dewi, Senin (6/7/2026), dikutip SURYA.co.id dari Tribunnews.

Korban memilih tidak terpancing emosi. Ia berusaha menjauh dari pelaku sambil menyalakan kamera ponselnya agar aksi kekerasan tersebut dapat terdokumentasi.

Rekaman itulah yang kemudian menyebar luas di berbagai platform media sosial hingga akhirnya membantu proses penyelidikan polisi.

Polisi Lakukan Tes Urine dan Pemeriksaan Intensif

Setelah berhasil mengamankan Fredik Risya Samuel, penyidik langsung melakukan serangkaian pemeriksaan.

Selain meminta keterangan, polisi juga melakukan tes urine untuk memastikan ada atau tidaknya pengaruh zat berbahaya yang mungkin dikonsumsi pelaku saat kejadian berlangsung.

"Kemudian kami sudah menangkap yang diduga pelaku yang melakukan penganiayaan."
Hasil pemeriksaan lanjutan akan menjadi dasar bagi penyidik untuk menentukan proses hukum berikutnya.

Kasus ini menjadi contoh bagaimana rekaman video dari korban maupun masyarakat dapat membantu aparat mengidentifikasi pelaku tindak kekerasan di jalan raya.

Dalam video yang beredar, kondisi lalu lintas terlihat cukup padat. Meski demikian, aksi pemukulan tetap terjadi di tengah kendaraan lain yang sedang melintas.

Sikap korban yang memilih menghindari konflik dan mendokumentasikan kejadian dinilai membantu mempercepat proses identifikasi hingga pelaku akhirnya berhasil diamankan.

Peristiwa di Jagakarsa kembali menunjukkan bahwa konflik kecil di jalan raya dapat berkembang menjadi persoalan pidana ketika emosi tidak terkendali. Dugaan benturan kendaraan yang semestinya dapat diselesaikan melalui komunikasi justru berubah menjadi tindakan kekerasan yang disaksikan banyak orang dan terekam kamera.

Di era media sosial, setiap tindakan di ruang publik berpotensi menjadi konsumsi publik dalam hitungan menit. Rekaman digital kini tidak hanya membentuk opini masyarakat, tetapi juga dapat menjadi petunjuk penting dalam proses penyelidikan aparat penegak hukum.

Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bagi seluruh pengguna jalan bahwa menjaga emosi, mematuhi aturan keselamatan seperti menggunakan helm, dan mengedepankan penyelesaian secara baik merupakan langkah yang jauh lebih bijak dibandingkan tindakan kekerasan yang justru dapat berujung pada proses hukum.

Videonya Viral

Kasus ini mencuat setelah sebuah video yang memperlihatkan pemukulan terhadap seorang pengendara motor di Jalan Raya Jagakarsa viral di media sosial.

Video tersebut diunggah korban melalui akun Instagram @ahmadabdulazis21.

Dalam unggahannya, korban mengaku menjadi sasaran penganiayaan oleh seorang pria yang tidak dikenalnya saat melintas di lokasi kejadian. 

"Saya telah menerima penganiayaan terhadap seseorang yang tidak saya kenal di jalan, tepatnya di Jalan Raya Jagakarsa," demikian keterangan dalam video yang diunggah korban.

Korban menjelaskan, peristiwa itu bermula ketika arus lalu lintas sedang macet.

Menurut dia, pelaku yang mengendarai sepeda motor berwarna hijau sempat menabrakkan kendaraannya dari belakang sebelum menghampiri dan berbicara dengan nada yang tidak jelas.

Saat korban menegur pelaku, pria tersebut diduga langsung menamparnya sebanyak tiga kali.

Korban kemudian menjauh untuk mengambil telepon genggam yang berada di dasbor sepeda motornya dan merekam kejadian tersebut.

Dalam rekaman video yang beredar, pelaku terdengar menantang korban sambil meminta membuka helm dan penutup wajah.

"Lu buka helm lu. Lu enggak kenal sama gua? Ayo minggir dulu sama gua," ujar pelaku.

Korban mengaku memilih menghindari pelaku karena hendak berangkat bekerja. Ia kemudian berusaha mencari kantor polisi terdekat untuk meminta bantuan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.