TRIBUNSTYLE.COM, KARANGANYAR - Kenaikan harga BBM Pertamax benar-benar dirasakan dampaknya oleh Aji Hermanto, seorang karyawan swasta yang tinggal di Gedongan, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah. Sejak harga Pertamax melonjak menjadi Rp16.250 per liter pada 10 Juni 2026 atau naik sekitar Rp4.000 per liter, ia mengaku isi dompetnya terasa jauh lebih cepat terkuras.
Bagi Aji, kenaikan harga tersebut bukan sekadar angka di papan informasi SPBU. Setiap kali menarik uang dari dompet untuk mengisi bahan bakar, ia merasakan beban pengeluaran yang terus membengkak. Pengeluaran yang sebelumnya masih bisa ditoleransi kini perlahan menggerus anggaran rumah tangga.
Ia menghitung, sepeda motor yang digunakan untuk beraktivitas sehari-hari rata-rata harus mengisi BBM di SPBU sebanyak tiga kali dalam sepekan. Dengan kenaikan harga Pertamax, biaya bahan bakar untuk satu motor bertambah sekitar Rp12.000 setiap minggu atau mencapai Rp48.000 dalam sebulan.
Beban itu menjadi semakin berat karena di rumahnya terdapat dua sepeda motor yang sama-sama menggunakan Pertamax. Artinya, hanya untuk menutup selisih kenaikan harga BBM, keluarga Aji harus mengeluarkan tambahan sekitar Rp96.000 setiap bulan.
Nominal tersebut mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang. Namun, bagi Aji yang mengandalkan gaji sebagai karyawan swasta, tambahan pengeluaran hampir seratus ribu rupiah setiap bulan terasa sangat membebani, terlebih ketika kebutuhan pokok lain juga ikut mengalami kenaikan.
"Buat saya tambahan biaya transport Rp96.000 per bulan terasa sekali, Mas. Apalagi gaji enggak seberapa. Dan sudah beberapa tahun terakhir ini enggak ada kenaikan gaji," curhat Aji Hermanto dengan nada sedih saat ditemui TribunStyle.com di SPBU Klodran, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah.
Meski harga Pertamax melonjak tajam dan banyak pengguna kendaraan memilih beralih ke Pertalite demi menghemat pengeluaran, Aji justru mengambil keputusan berbeda. Ia mengaku tetap bertahan menggunakan Pertamax meski harus merogoh kocek lebih dalam.
Alasannya sederhana. Ia lebih mengutamakan kondisi mesin sepeda motornya yang sejak awal sudah terbiasa mengonsumsi Pertamax. Baginya, menghemat biaya sesaat tidak sebanding dengan risiko yang mungkin muncul jika harus mengganti jenis bahan bakar.
"Saya lebih kasihan sama sepeda motor saya daripada dompetku. Laa biasane ngombe (biasanya minum) Pertamax, ganti Pertalite, yo mesakno (ya kasihan)," ujarnya sambil tersenyum tipis.
Usai mengisi penuh tangki motornya, Aji pun menyalakan mesin dan perlahan meninggalkan SPBU Klodran. Di tengah suara mesin yang mulai menjauh, ia tetap membawa satu kegelisahan yang kini dirasakan banyak pengguna Pertamax: memilih tetap menjaga performa kendaraan, tetapi harus rela melihat isi dompet semakin cepat menipis setiap kali harga BBM naik.
Baca juga: Harga Pertamax Naik, Pesepeda Motor di Solo Rame-rame ganti Pertalite, Apa Efek Buruknya ke Mesin?
Terlepas dari curhat sedih Aji Hermanto tentang dampak kenaikan harga Pertamax, sebenarnya ada kabar gembira turunnya harga BBM Pertamina mulai 1 Juli 2026 . Sayangnya jenis BBM yang harganya turun tidak berkaitan langsung dengan kebutuhan Aji Hermanto. Karena harga yang turun bukan Pertamax, namun BBM non subsidi untuk kendaraan diesel. Dan hingga hari ini Senin 6 Juli 2026 di seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum atau SPBU masih diberlakukan penurunan sejumlah harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi .
Seperti diketahui, PT Pertamina Patra Niaga menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite yang berlaku mulai Rabu 1 Juli 2026. Sementara itu, Pertamax dan Pertamax Green 95 harganya tetap.
Harga Pertamax Turbo untuk wilayah dengan PBBKB 5 persen (termasuk DKI Jakarta dan sekitarnya) kini dijual Rp19.300 per liter, turun dari sebelumnya Rp20.750 per liter.
Lalu, Dexlite kini dibanderol Rp19.700 per liter, melemah dari Rp23.000 per liter. Pertamina Dex saat ini dijual Rp21.150 per liter, turun dari sebelumnya Rp24.800 per liter.
Adapun, harga Pertamax tidak mengalami perubahan dan tetap dijual Rp16.250 per liter. Begitu juga dengan Pertamax Green 95 yang bertahan di level Rp17.000 per liter.
Untuk harga BBM subsidi jenis Pertalite dan Bio Solar tidak mengalami perubahan atau tetap. Rinciannya, Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan Bio Solar di angka Rp6.800 per liter.
Warga Boyolali Jawa Tengah Tak Terpengaruh Turunnya Harga Solar Non Subsidi
Windarti, seorang warga Boyolali Jateng tak terpengaruh ramainya penurunan harga BBM Solar Non subsidi. Karena dia tetap pakai Pertamax walaupun harganya naik Rp 4.000 menjadi Rp 16.250 sejak 10 Juni 2026.
Walaupun selisih harganya nyaris menyentuh angka Rp4.000 per liter dari harga sebelumnya, masih banyak pelanggan yang tetap memakai Pertamax karena mengakui kualitasnya.
Windarti, warga Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, adalah salah satu konsumen yang tetap menggunakan Pertamax.
Wanita yang bekerja di kantin kantor ini merasa performa motornya lebih bagus ketika diisi Pertamax dibanding Pertalite.
"(Motor terasa) lebih nyaman pakai Pertamax," ujar Windarti kepada TribunStyle.com pada Jumat, 3 Juli 2026.
Selain faktor kualitas, Windarti juga mempunyai alasan lain mengapa setia menggunakan Pertamax.
Ia menyadari mobilitasnya sehari-hari tidak terlampau tinggi sehingga penggunaan Pertamax untuk motornya tidak boros.
Sehari-hari, Windarti mempunyai rutinitas mengantar anaknya sekolah lalu bekerja di tempat yang tak jauh dari rumah.
"Paling cuma nganter anak sekolah, terus ke sini (tempat kerja)," imbuhnya.
Windarti mengaku biasanya membeli Pertamax sesuai kemampuannya saja dan tak harus full tank.
"Biasanya Rp20 ribu aja," tambah Windarti.
Fenomena ganti ke BBM Pertalite sejak harga BBM Pertamax naik drastis menjadi Rp 16.250 sejak 10 Juni 2026 melanda para pengendara motor di Kota Solo, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri di Jawa Tengah bahkan hingga Ponorogo Jawa Timur.
"Laa gimana mas, sudah enggak kuat beli Pertamax. Terpaksa balik ke Pertalite, walo was-was efeknya ke mesin," curhat Hariyanto kepada TribunStyle.com saat mengisi BBM di SPBU Banyuanyar Kota Solo Jawa Tengah akhir Juni 2026 lalu.
"Memang, efek domino harga Pertamax naik bikin antrean Pertalite panjang mengular, mulai dari SPBU di Ponorogo hingga Wonogiri, Sukoharjo sampai Kota Solo," kata Gendon, seorang driver mobil travel rute Ponorogo - Kota Solo.
Lalu jika harga Pertamax naik sehingga Anda beralih ke Pertalite, apakah efeknya langsung menurunkan performa mesin kendaraan?
Jawabannya bisa iya, bisa tidak. Jika mesin sudah terbiasa pakai Pertamax lalu mendadak beralih ke Pertalite, memang penurunan performa langsung terasa. Namun jika dari awal 'minum' Pertalite, tidak otomatis terasa.
Dan bukan berarti mesin kendaraan akan cepat rusak. Yang terpenting adalah cara penggunaan dan perawatan mobil atau motor agar tetap sesuai dengan spesifikasi mesin.
Pertalite memiliki nilai oktan (RON) 90. Bahan bakar ini ideal untuk mesin dengan rasio kompresi sekitar 9:1 hingga 10:1.
Jika kendaraan memang direkomendasikan menggunakan Pertalite, Anda tidak perlu khawatir. Jika pabrikan mewajibkan Pertamax (RON 92) atau lebih tinggi, sebaiknya tetap gunakan Pertamax. Memaksa memakai Pertalite berisiko menyebabkan knocking (ngelitik), tenaga turun, dan konsumsi BBM menjadi lebih boros dalam jangka panjang.
Usahakan mengisi BBM saat indikator masih sekitar seperempat tangki. Kebiasaan membiarkan tangki hampir kosong dapat membuat endapan di dasar tangki ikut tersedot ke sistem bahan bakar.
Filter udara yang kotor membuat pembakaran tidak sempurna sehingga mesin terasa berat dan konsumsi BBM meningkat. Periksa secara berkala, terutama jika sering melewati jalan berdebu.
Mesin yang rutin diservis akan tetap efisien meski menggunakan BBM dengan oktan sesuai rekomendasi. Beberapa komponen yang perlu diperhatikan:
Akselerasi mendadak dan putaran mesin terlalu tinggi membuat konsumsi BBM meningkat serta suhu mesin lebih tinggi. Berkendaralah secara halus agar pembakaran lebih efisien.
Oli yang sesuai spesifikasi pabrikan membantu mengurangi gesekan mesin sehingga performa tetap optimal dan konsumsi bahan bakar lebih hemat.
Mengisi BBM di SPBU resmi membantu memastikan kualitas bahan bakar tetap terjaga dan meminimalkan risiko kontaminasi air atau kotoran.
Bolehkah Sesekali Mencampur Pertalite dan Pertamax?
Boleh. Mencampur Pertalite dan Pertamax tidak akan merusak mesin secara langsung. Campuran tersebut hanya menghasilkan nilai oktan di antara keduanya.
Namun, jika kendaraan Anda direkomendasikan menggunakan RON 92 atau lebih tinggi, sebaiknya jangan menjadikan campuran ini sebagai kebiasaan. Tetap gunakan BBM sesuai rekomendasi pabrikan untuk menjaga performa dan usia mesin.
Beralih ke Pertalite karena harga Pertamax naik tidak akan menjadi masalah apabila kendaraan memang dirancang menggunakan RON 90. Namun, bila spesifikasi kendaraan mengharuskan Pertamax atau BBM beroktan lebih tinggi, tetap gunakan jenis tersebut agar mesin terhindar dari knocking, performa tetap optimal, dan komponen mesin lebih awet.
Untuk pengguna kendaraan modern dengan rasio kompresi tinggi, menghemat biaya BBM dengan turun oktan sering kali tidak sebanding dengan potensi penurunan performa dan biaya perawatan yang mungkin muncul di kemudian hari.
Aceh, Sumatera Utara, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, dan Lampung
Pertalite: Rp10.000 per liter
Biosolar: Rp6.800 per liter
Pertamax: Rp16.650 per liter
Pertamax Turbo: Rp19.750 per liter
Dexlite: Rp20.150 per liter
Pertamina Dex: Rp21.650 per liter
Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau
Pertalite: Rp10.000 per liter
Biosolar: Rp6.800 per liter
Pertamax: Rp17.000 per liter
Pertamax Turbo: Rp20.150 per liter
Dexlite: Rp20.550 per liter
Pertamina Dex: Rp22.100 per liter
Free Trade Zone (FTZ) Sabang
Pertalite: Rp10.000 per liter
Biosolar: Rp6.800 per liter
Pertamax: Rp15.250 per liter
Dexlite: Rp18.450 per liter
FTZ Batam
Pertalite: Rp10.000 per liter
Biosolar: Rp6.800 per liter
Pertamax: Rp15.500 per liter
Pertamax Turbo: Rp18.350 per liter
Dexlite: Rp18.700 per liter
Pertamina Dex: Rp20.100 per liter
DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur
Pertalite: Rp10.000 per liter
Biosolar: Rp6.800 per liter
Pertamax: Rp16.250 per liter
Pertamax Turbo: Rp19.300 per liter
Pertamax Green 95: Rp17.000 per liter
Dexlite: Rp19.700 per liter
Pertamina Dex: Rp21.150 per liter
Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur
Pertalite: Rp10.000 per liter
Biosolar: Rp6.800 per liter
Biosolar Nonsubsidi: Rp19.600 per liter
Pertamax: Rp16.250 per liter
Pertamax Turbo: Rp19.300 per liter
Dexlite: Rp19.700 per liter
Pertamina Dex: Rp21.150 per liter
Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur
Pertalite: Rp10.000 per liter
Biosolar: Rp6.800 per liter
Pertamax: Rp16.650 per liter
Pertamax Turbo: Rp19.750 per liter
Dexlite: Rp20.150 per liter
Pertamina Dex: Rp21.650 per liter
Kalimantan Selatan dan Kalimantan Utara
Pertalite: Rp10.000 per liter
Biosolar: Rp6.800 per liter
Pertamax: Rp17.000 per liter
Pertamax Turbo: Rp20.150 per liter
Dexlite: Rp20.550 per liter
Pertamina Dex: Rp22.100 per liter
Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Barat
Pertalite: Rp10.000 per liter
Biosolar: Rp6.800 per liter
Pertamax: Rp16.650 per liter
Pertamax Turbo: Rp19.750 per liter
Dexlite: Rp20.150 per liter
Pertamina Dex: Rp21.650 per liter
Maluku dan Maluku Utara
Pertalite: Rp10.000 per liter
Biosolar: Rp6.800 per liter
Pertamax: Rp16.650 per liter
Dexlite: Rp20.150 per liter
Papua
Pertalite: Rp10.000 per liter
Biosolar: Rp6.800 per liter
Pertamax: Rp16.650 per liter
Pertamax Turbo: Rp19.750 per liter
Dexlite: Rp20.150 per liter
Papua Barat dan Papua Barat Daya
Pertalite: Rp10.000 per liter
Biosolar: Rp6.800 per liter
Pertamax: Rp16.650 per liter
Dexlite: Rp20.150 per liter
Pertamina Dex: Rp21.650 per liter
Papua Selatan, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan
Pertalite: Rp10.000 per liter
Biosolar: Rp6.800 per liter
Pertamax: Rp16.650 per liter
Dexlite: Rp20.150 per liter.
TribunStyle.com | Tim Konten | Febriana Nur Insani