Investor Muda Kalsel Pilih Bertahan, Curhat di Medsos saat IHSG Lesu
Irfani Rahman July 07, 2026 08:52 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN- Euforia investasi saham yang sempat ramai di kalangan mahasiswa kini mulai berubah wajah. Di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu terakhir, grup-grup diskusi media sosial (medsos) para investor muda yang dulu dipenuhi rekomendasi saham dan tangkapan layar keuntungan, kini lebih sering diwarnai keluhan karena portofolio yang terus memerah.

Diketahui IHSG pada pekan kedua Juli ini masih membutuhkan katalis ekonomi yang positif untuk dapat bangkit ke level di atas 6.000. Beberapa analis menilai, pasar saham masih dalam bayang-bayang fluktuasi nilai tukar rupiah dan arus modal asing yang belum solid.

Di tengah kondisi tersebut, sebagian memilih bertahan sambil menunggu pasar kembali pulih. Namun tak sedikit pula yang mulai pasrah, menghentikan transaksi, bahkan menghapus aplikasi investasi setelah mengalami kerugian yang cukup besar.

Ketua Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Aditya Firdaus, mengatakan dinamika tersebut sangat terasa di komunitas investor mahasiswa.

Menurutnya, kondisi grup investor kini jauh berbeda dibanding saat pasar sedang bergairah.

“Dulu sering saling merekomendasikan saham yang dibeli dan saling memamerkan keuntungan. Sekarang banyak yang pasif dan ada juga yang curhat kerugian. Tapi ada juga yang sedang mengumpulkan modal untuk mencari kesempatan kalau IHSG rebound,” ujarnya, Kamis (2/7).

Aditya sendiri mulai mengenal investasi saham sejak 2023 dan mulai serius bertransaksi pada 2024. Meski kondisi pasar sedang lesu, ia mengaku tidak panik karena sejak awal memilih menjadi investor jangka panjang.

Baginya, penurunan IHSG justru membuka peluang membeli saham berkualitas dengan harga yang lebih murah.

“Saya melihat ini sebagai kesempatan. Memang ada beberapa saham yang saya jual untuk mengamankan modal agar kerugiannya tidak semakin dalam, tetapi secara umum saya tetap fokus mencari saham yang fundamentalnya bagus,” katanya.

Menurut Aditya, penurunan pasar merupakan siklus yang wajar dalam dunia investasi. Tantangan terbesar justru bagaimana seorang investor mampu mengendalikan emosinya agar tidak mengambil keputusan secara terburu-buru.

Pengalaman serupa juga dirasakan mahasiswa FEB ULM lainnya, Dani, yang sudah mulai ‘bermain’ saham sejak masih duduk di bangku SMA pada usia 16 tahun.

Ia mengakui kondisi pasar saat ini membuat nilai portofolionya masih tertekan.

Akibatnya, semangat untuk memantau pergerakan pasar pun ikut menurun dibanding sebelumnya. “Mood memang jadi tidak stabil sehingga sekarang transaksi lebih pasif,” katanya.

Meski demikian, Dani memilih tidak menjual saham yang dimilikinya. Sebaliknya, ia justru melakukan average down terhadap saham-saham yang menurutnya masih memiliki fundamental yang baik.

Ia menilai kondisi pasar saat ini lebih tepat dihadapi dengan kesabaran dibanding kepanikan.

Di dalam grup investor mahasiswa, lanjut Dani, diskusi tetap berjalan meski nuansanya berubah.

Kini pembahasan lebih banyak diisi analisis penyebab pelemahan IHSG, saling berbagi kerugian, hingga mencari saham yang dinilai menarik ketika pasar mulai pulih.

“Beberapa memang memilih berhenti sementara dan wait and see. Tapi teman-teman juga saling menyemangati supaya tetap bertahan,” ujarnya.

Bagi Dani, kondisi pasar yang sedang lesu justru menjadi pengalaman berharga bagi investor muda. (sul)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.