Bupati Magelang Dorong Pertanian Berbasis Sains
Hari Susmayanti July 07, 2026 09:14 AM

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Bupati Magelang Grengseng Pamuji mendorong lahirnya generasi petani muda yang mengelola pertanian berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

Menurutnya, tantangan pertanian saat ini tidak lagi bisa dihadapi hanya dengan mengandalkan pengalaman turun-temurun, tetapi harus didukung riset, data, dan inovasi.

Hal tersebut disampaikan Grengseng saat meninjau Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Tegalrejo sekaligus menggelar saresehan bersama petani dan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Senin (6/7/2026).

Dalam kunjungannya, Grengseng mengapresiasi inovasi yang dilakukan penyuluh pertanian Tegalrejo.

Salah satunya keberhasilan membudidayakan tanaman kembang kol di kawasan berketinggian sekitar 400 meter di atas permukaan laut (mdpl), padahal komoditas tersebut umumnya tumbuh optimal di wilayah sekitar 1.000 mdpl.

Menurutnya, keberhasilan tersebut membuktikan bahwa inovasi dan penerapan ilmu pengetahuan mampu membuka peluang baru bagi pengembangan sektor pertanian di Kabupaten Magelang.

"Terobosan seperti ini harus terus dikembangkan karena bisa menjadi peluang bagi petani, terutama generasi muda, untuk menghasilkan komoditas bernilai ekonomi tinggi," ujar Grengseng.

Ia menegaskan, keberhasilan pembangunan sektor pertanian tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga komunikasi yang erat antara petani dan penyuluh pertanian.

"Komunikasi antara PPL dan petani tidak perlu terlalu formal. Yang penting terjalin dengan baik sehingga persoalan di lapangan bisa cepat dicarikan solusi," katanya.

Grengseng menilai perubahan iklim, keterbatasan air, hingga menurunnya kualitas tanah menjadi tantangan yang harus dijawab melalui pendekatan ilmiah.

Baca juga: Surplus Neraca Perdagangan DIY Hingga Mei 2026 Mencapai 187,78 Juta Dollar AS

Karena itu, petani muda didorong meninggalkan pola bertani yang hanya mengandalkan kebiasaan tanpa memahami kondisi lahan secara terukur.

"Kalau lahan mengalami kekurangan air, tanaman apa yang paling sesuai harus ditentukan berdasarkan ilmu pengetahuan. Tidak bisa hanya berpegang pada pakem lama tanpa mengetahui parameter yang sebenarnya," tegasnya.

Ia juga meminta Balai Penyuluhan Pertanian bertransformasi menjadi pusat pengembangan inovasi pertanian.

Menurutnya, BPP tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyuluhan, tetapi juga menjadi laboratorium lapangan yang menghasilkan data, kajian, dan standar operasional budidaya yang dapat diterapkan petani.

"Dari hasil penelitian dan uji coba itu nantinya bisa disusun SOP yang menjadi pedoman petani. Dengan begitu, risiko gagal panen dapat ditekan karena setiap langkah budidaya didasarkan pada data dan hasil kajian," jelas Grengseng.

Sementara itu, Kepala Tim Kerja Penyuluh Pertanian Kecamatan Tegalrejo, Nourma Widyaningsih, mengatakan pihaknya siap mendukung arah kebijakan tersebut meski saat ini terjadi perubahan status kelembagaan penyuluh pertanian.

Sejak 1 Januari 2026, seluruh Penyuluh Pertanian Lapangan telah berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) di bawah Kementerian Pertanian RI.

Meski demikian, kata Nourma, komitmen mendampingi petani di Kabupaten Magelang tetap menjadi prioritas.

"Kami tetap mengabdi untuk mendampingi petani dan memajukan sektor pertanian di Kabupaten Magelang. Kolaborasi dengan pemerintah daerah tetap berjalan kuat demi mewujudkan ketahanan pangan daerah," ujarnya.

Menurut Nourma, kunjungan Bupati menjadi momentum penting bagi pengembangan BPP Tegalrejo sebagai pusat data pertanian sekaligus laboratorium inovasi.

Saat ini, BPP Tegalrejo telah mulai membangun sistem pengelolaan data pertanian yang terintegrasi.

Selain itu, lahan di kompleks BPP juga dikembangkan menjadi Kebun Laboratorium Klinik Agribisnis yang dimanfaatkan sebagai lokasi demonstrasi, konsultasi, hingga edukasi bagi petani.

"Kami terus menata kebun laboratorium agar menjadi tempat belajar, konsultasi, dan pengembangan inovasi yang mudah diakses petani. Harapannya, BPP benar-benar menjadi pusat layanan pertanian berbasis ilmu pengetahuan," pungkasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.