TRIBUNJOGJA.COM - Bagi banyak orang, cokelat identik dengan Hari Valentine.
Tak sedikit yang menjadikan makanan manis ini sebagai hadiah untuk orang tersayang setiap 14 Februari.
Namun, tahukah kamu bahwa cokelat juga memiliki hari perayaan tersendiri yang dirayakan secara global?
Setiap tanggal 7 Juli, masyarakat di berbagai negara memperingati Hari Cokelat Sedunia (World Chocolate Day).
Peringatan ini menjadi momen untuk mengenang perjalanan panjang cokelat, mulai dari bahan pangan yang digunakan oleh peradaban kuno hingga berkembang menjadi salah satu makanan favorit di dunia.
Meski bukan hari libur resmi, Hari Cokelat Sedunia telah dirayakan sejak 2009.
Banyak orang memanfaatkannya dengan menikmati berbagai olahan cokelat, membagikan hadiah berbahan cokelat, hingga mengenal lebih jauh sejarah di balik makanan yang digemari tersebut.
Pemilihan tanggal 7 Juli diyakini berkaitan dengan momen ketika cokelat mulai dikenal di Eropa sekitar tahun 1550.
Saat itu, biji kakao yang berasal dari kawasan Amerika Tengah mulai diperkenalkan kepada masyarakat Eropa.
Dari sinilah cokelat perlahan berkembang menjadi komoditas yang semakin populer hingga akhirnya menyebar ke berbagai belahan dunia.
Meski demikian, alasan pemilihan tanggal tersebut belum memiliki bukti sejarah yang benar-benar pasti.
Akan Tetapi, tanggal 7 Juli tetap diterima secara luas sebagai Hari Cokelat Sedunia dan diperingati setiap tahun oleh para pencinta cokelat di berbagai negara.
Jika membayangkan cokelat saat ini, yang terlintas mungkin adalah cokelat batangan, kue, es krim, atau minuman hangat dengan rasa manis. Padahal, bentuk awal cokelat sangat berbeda.
Sejarah mencatat bahwa cokelat berasal dari biji pohon kakao (Theobroma cacao) yang telah dibudidayakan selama ribuan tahun di wilayah Amerika Tengah dan sebagian Amerika Selatan.
Peradaban kuno seperti Olmec, kemudian dilanjutkan oleh Maya dan Aztec, dipercaya menjadi kelompok pertama yang mengolah biji kakao menjadi minuman.
Berbeda dengan cokelat modern, minuman tersebut memiliki cita rasa pahit karena belum dicampur gula.
Masyarakat saat itu biasanya menambahkan rempah-rempah, cabai, atau bahan alami lainnya untuk memperkaya rasa. Selain dikonsumsi sehari-hari, minuman kakao juga digunakan dalam berbagai upacara adat dan keagamaan.
Bahkan, bagi bangsa Aztec, biji kakao memiliki nilai yang sangat tinggi hingga pernah digunakan sebagai alat pembayaran dalam kegiatan perdagangan.
Hal ini menunjukkan bahwa kakao bukan sekadar bahan makanan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan budaya yang penting.
Perjalanan cokelat mulai berubah ketika bangsa Eropa mengenal tanaman kakao dari kawasan Amerika pada abad ke-16.
Minuman cokelat yang semula bercita rasa pahit kemudian mengalami berbagai penyesuaian agar lebih sesuai dengan selera masyarakat Eropa.
Rasa pahit yang sebelumnya mendominasi mulai dipadukan dengan gula, vanila, hingga susu sehingga menghasilkan cita rasa yang lebih manis.
Seiring berkembangnya teknologi pengolahan pangan, cokelat tidak lagi hanya disajikan sebagai minuman, tetapi juga diolah menjadi berbagai bentuk makanan.
Perkembangan industri pada abad ke-19 semakin mempercepat popularitas cokelat.
Berbagai produsen mulai menciptakan cokelat batangan, praline, hingga aneka kudapan yang kini mudah ditemukan di berbagai negara. Dari sinilah cokelat berkembang menjadi salah satu makanan yang dinikmati oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Popularitas cokelat ternyata bukan hanya karena rasanya yang lezat. Dalam berbagai budaya, cokelat juga sering dikaitkan dengan hadiah, perayaan, hingga simbol kasih sayang.
Tak heran jika makanan ini kerap hadir dalam momen spesial seperti ulang tahun, Natal, maupun Hari Valentine.
Namun, Hari Cokelat Sedunia mengingatkan bahwa perjalanan cokelat jauh lebih panjang daripada sekadar menjadi hadiah.
Di balik setiap batang cokelat yang dinikmati saat ini, terdapat sejarah ribuan tahun yang melibatkan peradaban kuno, perdagangan antarnegara, hingga perkembangan industri makanan dunia.
Selain memiliki sejarah yang panjang, cokelat juga menyimpan sejumlah fakta menarik yang mungkin belum banyak diketahui.
Salah satunya adalah perbedaan antara dark chocolate, milk chocolate, dan white chocolate.
Dark chocolate mengandung persentase padatan kakao yang lebih tinggi sehingga memiliki cita rasa yang cenderung pahit.
Sementara itu, milk chocolate dibuat dengan tambahan susu dan gula sehingga rasanya lebih manis dan lembut.
Berbeda dari keduanya, white chocolate tidak mengandung padatan kakao, melainkan terbuat dari mentega kakao, gula, dan susu.
Karena itulah, sebagian orang berpendapat bahwa white chocolate bukanlah cokelat dalam arti yang sama dengan dark maupun milk chocolate.
Meski begitu, produk ini tetap diakui sebagai salah satu olahan kakao dalam industri pangan.
Fakta menarik lainnya, kakao yang menjadi bahan utama cokelat berasal dari pohon Theobroma cacao.
Nama ilmiah tersebut berasal dari bahasa Yunani yang berarti "makanan para dewa" (food of the gods).
Nama ini diberikan oleh ahli botani asal Swedia, Carl Linnaeus, sebagai bentuk penghargaan terhadap nilai dan manfaat tanaman kakao.
Julukan tersebut menunjukkan bahwa sejak dahulu kakao telah dianggap sebagai komoditas yang sangat berharga.
Tak hanya memiliki sejarah yang panjang, cokelat juga kerap dikaitkan dengan suasana hati.
Tak sedikit orang yang memilih menikmati sepotong cokelat ketika sedang merasa lelah, penat, atau kurang bersemangat.
Lalu, Benarkah Cokelat dapat Membantu Memperbaiki Mood?
Menurut penelitian, terutama dark chocolate mengandung berbagai senyawa seperti flavonoid, theobromine, serta sedikit kafein.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kandungan tersebut berpotensi memberikan manfaat bagi kesehatan apabila dikonsumsi dalam jumlah yang wajar, di antaranya membantu menjaga fungsi pembuluh darah dan mendukung kesehatan otak.
Selain itu, mengonsumsi cokelat juga dapat merangsang pelepasan beberapa zat kimia di otak, seperti dopamin dan serotonin, yang berkaitan dengan rasa senang.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa efek tersebut umumnya bersifat sementara dan tidak dapat dijadikan sebagai cara utama untuk mengatasi stres maupun gangguan suasana hati.
Oleh karena itu, cokelat tetap dianjurkan untuk dikonsumsi secukupnya sebagai bagian dari pola makan yang seimbang.
Menariknya, Hari Cokelat Sedunia tidak hanya menjadi momen untuk menikmati aneka olahan cokelat, tetapi juga dimanfaatkan oleh banyak orang untuk mengenal lebih jauh sejarah makanan ini.
Di sejumlah negara, peringatan tersebut dirayakan dengan berbagai cara, mulai dari membagikan cokelat kepada keluarga atau teman, mencicipi hidangan berbahan dasar kakao, hingga mengikuti festival atau kegiatan bertema cokelat.
Meskipun bentuk perayaannya berbeda-beda, tujuannya tetap sama, yaitu mengapresiasi perjalanan panjang cokelat yang telah menjadi bagian dari budaya kuliner dunia.
Kini, cokelat hadir dalam beragam bentuk, mulai dari minuman, kue, biskuit, es krim, hingga berbagai camilan yang mudah ditemukan di berbagai negara.
Di balik cita rasanya yang manis, tersimpan sejarah ribuan tahun yang melibatkan peradaban kuno, perdagangan antarwilayah, hingga perkembangan industri pangan modern.
Jadi, jika selama ini cokelat hanya identik dengan Hari Valentine, kini ada fakta menarik lain yang bisa diketahui.
Setiap 7 Juli, masyarakat di berbagai belahan dunia turut memperingati Hari Cokelat Sedunia sebagai bentuk apresiasi terhadap sejarah dan perjalanan salah satu makanan yang paling digemari hingga saat ini.
Bukan sekadar makanan penutup atau hadiah untuk orang terkasih, cokelat juga menjadi bagian dari warisan budaya dan kuliner.
(MG-Mayumi Cinta Mahesi)