Fakta Menarik Tentang Swiss, Negara Paling Indah di Dunia
Joko Widiyarso July 07, 2026 02:08 PM

TRIBUNJOGJA.COM - Jika membicarakan tentang negara Swiss, pasti identik dengan keindahan alam Pegunungan Alpen yang menarik banyak orang untuk berkunjung ke negara tersebut.

Negara federal yang terdiri atas 26 kanton ini tidak hanya terkenal dengan keindahan alamnya, tetapi juga termasuk salah satu negara yang paling layak huni di dunia menurut penilaian Economist Intelligence Unit (EIU). Penilaian tersebut didasarkan pada tingkat stabilitas ekonomi, pelayanan kesehatan, budaya, lingkungan, pendidikan, dan infrastruktur.

Karena berbentuk negara federal dan terbagi menjadi 26 kanton, setiap kanton memiliki wewenang untuk mengatur wilayahnya masing-masing. Mulai dari undang-undang, sistem pendidikan, hingga bahasa yang digunakan, setiap kanton dapat memiliki perbedaan sesuai dengan kebijakan wilayahnya.

Jika banyak orang mengira pajak di negara maju seperti Swiss tergolong tinggi, ternyata berdasarkan data yang disajikan oleh Tax Foundation Switzerland dalam International Tax Competitiveness Index, Swiss dinyatakan sebagai salah satu negara dengan nominal pajak yang relatif bersahabat dan sebanding dengan fasilitas yang diberikan pemerintah kepada masyarakatnya.

Namun masih banyak beberapa fakta menarik yang jarang orang ketahui tentang negara ini, mungkin tidak bisa dirasakan di negara seperti Indonesia ini, simak penjelasanya berikut ini.

1. Digitalisasi Gereja

Pada Agustus 2024 masyarakat umat kristiani di dunia sempat digegerkan dengan adanya eksperimen digital yang ada di gereja Peter yang berada kota Lucerne, Swiss.

pasalnya teolog kapel Marco Schmid bekerja sama dengan Immersive Realities Research Lab menciptakan teknologi AI yang memberikan kesempatan kepada pengunjung atau jemaat gereja untuk berdialog dengan replika Yesus.

Proyek yang menyimpan berbagai macam komentar ini dinamakan “Deus in Machina”, secara gambaran proyek ini berupa teknologi AI yang ada di dalam bilik pengakuan dosa sehingga pengunjung biasa berdialog dengan AI tersebut dengan berbagai bahasa yang ada di dunia.

AI ini tidak menggantikan Tuhan, tidak membunyikan doa-doa sakramental, tetapi sebagai simbolis bentuk perenungan hubungan teknologi ketuhanan.

Proyek ini berjalan selama dua bulan dan berhenti beroperasi pada bulan Oktober 2024, selama dua bulan tersebut telah menarik kurang lebih 1000 pengunjung.

Tema percakapan yang disampaikan dengan avatar tersebut juga sangat bergam, bukan soal teologi agama, melainkan soal permasalahan hidup yang benar-benar sering dirasakan manusia pada umumnya, seperti putus cinta, kesepian dan juga kematian.

2. Jasa Teman Bagi Lansia

Salah satu fenomena yang sedang banyak dibicarakan oleh banyak orang di berbagai belahan dunia adalah adanya jasa untuk menjadi seorang teman di negara Swiss, meskipun jasa ini dapat digunakan untuk berbagai kalangan, tetapi kebanyakan yang memakai jasa ini adalah dari kalangan lansia.

Berdasarkan laporan resmi yang disampaikan oleh organisasi lansia terbesar di Swiss yaitu Pro Senectute, menyebutkan bahwa 160.000 orang berusia diatas 62 tahun di Swiss yang hidup dalam kondisi kesepian yang konstan.

Dengan adanya hal tersebut jasa ini sangat ramai di kalangan lansia bahkan menjadi salah satu pekerjaan dengan gaji yang tergolong tinggi.

Terdapat dua platform besar yang terkenal di kalangan orang Swiss mengenai jasi ini, yaitu Private Care dan Carpevia.

Website resmi
Website resmi "Private Care" jasa mendampingi lansia di Swiss (Tribun Jogja)

Platform Private Care dalam website resminya menyebutkan bahwa jasa ini sudah berdiri sejak tahun 2008 dan sudah memiliki 100 karyawan. Jasa ini menyalurkan tenaga spesialis Spitex (layanan rawat rumah) yang mencakup perawatan medis sekaligus pendampingan harian resmi, seperti konsultasi pribadi, perawatan untuk Lansia, perawatan profesional, bantuan tugas rumah tangga & kehidupan sehari-hari.

Platform selanjutnya bernama Carpevia Zurich, di dalam website resminya menyebutkan bahwa platform ini menyediakan jasa pendamping pribadi, mendukung para lansia dalam kehidupan sehari-hari dan waktu luang. 

Tarif yang diberikan untuk jasa ini juga tergolong tinggi, yakni sebesar CHF 80 per jam atau setara Rp1,4 juta - Rp1,5 juta/jam tergantung kurs.

3. Pendapatan Tertinggi di Dunia

Sebagai salah satu negara dengan kualitas layak huni yang tinggi, penilaian tersebut bukan tanpa dasar yang pasti. Salah satu bukti dari kesejahteraan masyarakat Swiss adalah rata-rata gaji atau upah bekerja mereka yang tinggi.

Berdasarkan data terbaru dari Survei Struktur Upah Swiss (LSE) yang dirilis oleh Kantor Statistik Federal (BFS), upah kotor bulanan median di Swiss saat ini telah mencapai CHF 7.024 per bulan, atau sekitar Rp125 juta - Rp130 juta per bulan sesuai kurs saat ini.

20260707 - Federal Statistical Office atau Badan Pusat Statistik Swiss
Laporan rata-rata gaji masyarakat Swiss dari website Federal Statistical Office atau Badan Pusat Statistik Swiss

Berdasarkan data terbaru dari Kantor Statistik Federal Swiss (BFS) melalui Survei Angkatan Kerja Swiss (SAKE) yang dirilis Juni 2026, median pendapatan kotor tahunan masyarakat Swiss yang bekerja penuh waktu pada tahun 2025 sudah menyentuh angka CHF 87.000 (atau sekitar Rp1,5 Miliar per tahun).

20260707 - laman resmi Federal Statistical Office atau Badan Pusat Statistik Swiss
Laporan rata-rata gaji pertahun masyarakat Swiss dari website Federal Statistical Office atau Badan Pusat Statistik Swiss

Jika dilihat dari angka tersebut memang terlihat sangat tinggi, apalagi jika dilihat menggunakan sudut pandang mata uang rupiah.

Meskipun gaji atau upah masyarakat disana tergolong tinggi, hal tersebut juga sesuai dengan biaya hidup yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari, bahkan kebutuhan masyarakat Swiss bisa mencapai 2 sampai 3 kali lipat harga kebutuhan di Indonesia.

Salah satu contohnya adalah harga sewa apartemen di sana cukup mahal jika dilihat dari sudut pandang rupiah, harga sewa apartemen mulai dari 20 juta - 30 juta perbulan sesuai dengan jumlah kamar dan fasilitas yang diberikan.

Sedangkan di Indonesia harga sewa apartemen mulai dari 2,5 juta sampai 5 juta perbulan. Namun lagi-lagi hal ini tergantung perspektif, dengan harga sewa apartemen yang tinggi tersebut masih masuk akal jika gaji yang diterima masyarakat Swiss tinggi, jika dihitung dengan rata-rata gaji yang mereka terima, pengeluaran mereka untuk sewa tempat tinggal sekitar 20 sampai 30 persen dari gaji yang mereka terima selama satu bulan.

Jika harga sewa apartemen disana tergolong mahal tidak membeli rumah saja untuk tempat tinggal?

lagi-lagi menurut data resmi dari Kantor Statistik Federal Swiss (BFS) mengenai kondisi perumahan, Swiss merupakan negara dengan mayoritas penduduk sebagai penyewa (di atas 60 persen). Bahkan di kanton perkotaan seperti Jenewa dan Zurich, angka penyewa rumah tangga melesat hingga lebih dari 80-85 persen karena rendahnya tingkat kepemilikan properti pribadi di wilayah tersebut. 

Jika dilihat dari alasan masyarakat Swiss lebih memilih tinggal di apartemen sangat beragam dan masuk akal, pasalnya jika masyarakat Swiss hendak membeli rumah, harga properti di sana sangat melambung tinggi,.

Selain itu jika Anda memiliki rumah dan tinggal di dalamnya, pemerintah akan mengenakan pajak atas "nilai sewa fiktif" (Imputed Rental Value / Eigenmietwert). Artinya, pemilik rumah dikenakan pajak tambahan seolah-olah mereka menerima uang sewa dari diri mereka sendiri. 

4. Undang-Undang Melindungi Hewan Peliharaan

20260707 - Situs Fedlex
Situs Fedlex yaitu platform resmi pemerintah federal Swiss untuk publikasi hukum.

Salah satu hal yang menarik lainya dari negara Swiss adalah perlindungan terhadap hewan peliharaan yang diatur dalam sebuah undang-undang yang bisa diakses oleh masyarakat umum.

Jadi ketika Anda berkunjung ke negara Swiss jangan sampai sembarangan memberi makan hewan yang ada di jalan, karena hewan-hewan tersebut bisa jadi mempunyai pemilik dan dilindungi oleh hukum resmi.

Pemerintah Swiss memandang hewan sebagai makhluk hidup yang memiliki perasaan dan martabat, bukan sekadar properti. Oleh karena itu, aturan memelihara hewan di sana sangat ketat. 

Jika Anda bingung, peraturan seperti apa yang bisa diberikan kepada hewan peliharaan? ternyata banyak sekali undang-undang yang mengatur tentang hewan disana.

Dikutip dari situs  resmi pemerintah federal Swiss untuk publikasi hukum yaitu  Fedlex, peraturan mengenai hewan peliharaan sangat beragam, mulai dari larangan memelihara hewan sosial seperti marmut, ikan mas, dan juga burung betet sendirian tanpa pasangan, peraturan bagi pemilik anjing, sampai undang-undang yang mengatur martabat hewan.

5. Sebagian Besar Menggunakan Bahasa Jerman

Seperti yang sempat disinggung dalam paragraf pembuka, Negara Swiss merupakan bentuk federal yang memiliki banyak kanton, setiap kanton berhak memiliki kebijakan sendiri yang disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing.

Begitupun mengenai bahasa yang mereka gunakan sehari-hari, secara resmi negara Swiss memiliki 4 bahasa resmi yang digunakan oleh warganya, yaitu Jerman, Perancis, Italia, dan Romansh.

Fakta uniknya lebih dari 60 persen persen masyarakat Swiss menggunakan bahasa jerman sebagai bahasa sehari-hari mereka.

Tetapi bahasa Jerman yang digunakan sedikit berbeda dengan bahasa Jerman yang asli, masyarakat Swiss tidak berbicara menggunakan bahasa Jerman standar (Hochdeutsch), melainkan menggunakan bahasa Swiss-Jerman (Schwiizertüütsch), yang merupakan kumpulan dialek lokal dengan pengucapan dan kosakata yang sangat berbeda dari bahasa Jerman di negara Jerman. 

(MG ABIL PRAMUDYA)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.