Pangeran yang Tak Pernah Menjadi Raja: Perpisahan Neymar Menandai Akhir dari Era yang Tak Terpenuhi
Aurora Nightingale July 07, 2026 02:00 PM

Saat Neymar terjatuh di atas rumput Stadion MetLife, New Jersey, dengan air mata mengalir di wajahnya, jutaan warga Brasil di seluruh dunia menyadari kenyataan pahit yang sama. Mimpi Piala Dunia milik Selecao berakhir dengan kekalahan menyakitkan 2-1 dari Norwegia, sekaligus menutup perjalanan internasional salah satu talenta sepak bola paling berbakat — namun juga paling tak terpenuhi — dalam sejarah modern.

“Saya sudah berusaha, tapi sekarang semuanya berakhir. Saya memulai di sini, dan saya menutupnya di sini,” ujar Neymar. Ucapannya terdengar menyentuh, meski tak seindah puisi yang mungkin pantas ia dapatkan. Pada tahun 2010, Neymar menjalani debutnya bersama tim nasional Brasil melawan Amerika Serikat di stadion yang sama. Enam belas tahun kemudian, Stadion MetLife menjadi saksi penampilan terakhirnya dengan seragam kuning legendaris itu. Ia sempat mencetak gol penalti di menit-menit akhir melawan Norwegia, menambah koleksi gol internasionalnya menjadi rekor 80 dari 129 penampilan, namun saat itu nasib Brasil sudah tak bisa diselamatkan. Untuk sesaat di Barcelona, Neymar tampak ditakdirkan menuju keabadian sepak bola.

Bersama Lionel Messi dan Luis Suarez, ia membentuk salah satu trio penyerang paling mematikan yang pernah ada. Namun sejak kepergiannya dari Camp Nou pada tahun 2017, kariernya perlahan kehilangan arah dan momentum.

Cedera berulang, keputusan karier yang sering dipertanyakan, serta kegagalannya untuk tampil konsisten di panggung terbesar sepak bola membuat Neymar tidak pernah benar-benar memenuhi potensi luar biasa yang dimilikinya sejak muda. Tersingkirnya Brasil di perempat final Piala Dunia 2018 oleh Belgia, serta kampanye Copa America yang mengecewakan pada 2015, menjadi momen-momen penentu dalam karier internasionalnya yang jarang mencapai ekspektasi publik.

Pada usia 34 tahun, daftar prestasi besar Neymar mencakup gelar Liga Champions 2015 bersama Barcelona dan medali emas Olimpiade di Rio 2016 — pencapaian yang patut dihargai, tapi terasa sederhana untuk pemain yang dulu diharapkan menjadi penguasa dunia sepak bola.

Dalam banyak hal, Neymar tetap menjadi pangeran yang tak pernah menjadi raja. “Dia akan dikenang sebagai pesepak bola hebat yang datang ke Eropa, dan sebelum itu, ia sudah memamerkan bakatnya di Brasil. Saat di Barcelona, dia tampil luar biasa. Saat di PSG, dia juga tampil baik,” ujar mantan rekan setimnya di Paris Saint-Germain, Zlatan Ibrahimovic.

“Namun saya pikir orang-orang juga akan mengatakan bahwa dia seharusnya bisa berbuat lebih banyak karena semua orang berharap dia memenangkan Ballon d’Or, tapi itu tidak pernah terjadi.”

Kampanye Piala Dunia Brasil berakhir karena Norwegia memang tampil lebih baik. Namun kekalahan itu juga mencerminkan sejauh apa Brasil telah menyimpang dari prinsip-prinsip yang dahulu menjadi ciri khas permainan mereka. Menghadapi kehadiran fisik Erling Haaland yang luar biasa, Carlo Ancelotti memilih pendekatan hati-hati dan defensif dengan mengandalkan serangan balik. Strategi itu justru berbalik menjadi bumerang.

Brasil hanya menguasai 30 persen penguasaan bola — angka yang luar biasa rendah untuk sebuah tim yang selama puluhan tahun dikenal sebagai penguasa permainan berbasis penguasaan bola. Kontras ini sangat mencolok dibandingkan tim Brasil masa lalu yang gemar menekan lawan dengan dominasi bola dan gaya menyerang tanpa rasa takut.

Ancelotti memang dikenal sebagai salah satu pelatih terbesar dalam sejarah sepak bola, namun melawan Norwegia, pendekatan pragmatisnya justru membuat Brasil kehilangan jati dirinya.

Pelatih asal Italia itu juga membuat keputusan yang mahal pada momen krusial. Ketika Brasil mendapatkan penalti, Vinicius sempat memegang bola sebelum akhirnya memberikannya kepada Bruno Guimaraes. Ancelotti kemudian menjelaskan bahwa urutan penendang penalti telah ditentukan berdasarkan data sebelum pertandingan, dan Vinicius memang tidak masuk dalam daftar penendang utama. Kekalahan ini juga menyingkap masalah yang lebih dalam dalam sepak bola Brasil. Selama bertahun-tahun, negara ini selalu mampu melahirkan penyerang tengah kelas dunia. Kini, absennya sosok nomor 9 sejati semakin terasa. Tantangan ke depan bukan hanya mencari penerus Neymar, tetapi juga menemukan kembali esensi yang membuat Brasil dulu begitu istimewa.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.