Belgia Menang, Amerika Kalah, Netizen Makassar Hancurkan Trump 
AS Kambie July 07, 2026 02:12 PM

TRIBUN-TIMUR.COM - “Goooollllll.....  hancurkan si trump…!” teriak seorang amat terpelajar, Rahmat Muhammad.  Dia bukan manusia bisa. Dia seorang doktor. Doktor sosiologi.

Teriakan Dr Rahmat Muhammad itu memang tidak terdengar banyak orang. Tapi teriakan ini menjangkau benak banyak orang.

Teriakan itu tidak dilantunkan melalui verba. Kalimat itu diteriakkan di Group WhatsApp yang dihuni beberapa dosen dan mahasiswa S3 Sosiologi Universitas Hasanuddin, Selasa pagi, 7 Juli 2026.

Bisa dipastikan, teriakan itu diupload di menit-menit awal pertandingan Amerika Serikat vs Belgia.

Dua kata menarik dalam kalimat yang didengungkan di WhatsApp itu: hancurkan dan si trump.

Memasuki injury time, komentator RRI, yang menyiarkan langsung pertandingan itu berteriak, “Ohh… Balogun hanya menendang angin…!” Tak lama berselang, Bolagun ditarik keluar, setelah menendang angin. Romelu Lukaku dimasukkan dan mencetak gol ke-4 Belgia pada menit 90+3. Trump pun hancur.

Bukan Timnas Amerika yang hancur. Seperti kata amat terpelajar itu. Yang hancur, seperti komentar banyak orang, adalah kesombongan Trump.

Padahal Trump tak ikut berlari di lapangan. Dia tak ikut menendang angin.  Yang kalah adalah Tim Nasional Amerika Serikat.

Para pemain yang berlari, berkeringat, dan berjuang di lapangan. Namun begitulah sepak bola bekerja sebagai fenomena sosial.

Ia jarang berhenti pada skor. Ia berubah menjadi cerita. Belgia melawan Amerika berubah menjadi Belgia melawan Trump.

Seperti Argentina dulu sering berubah menjadi Messi. Portugal menjadi Ronaldo. Brasil menjadi joga bonito. Belanda menjadi Total Football.

Tetapi teriakan di WhatsApp itu tidak lahir di ruang kosong.

“Hancurkan si Trump...!” Bukan sekadar dukungan untuk Belgia. Bukan pula kebencian terhadap sebelas pemain Amerika Serikat yang sedang berlari di lapangan.

Ada wacana mendahului.

Menjelang pertandingan, nama Folarin Balogun menjadi pusat perhatian. Isu mengenai campur tangan Donald Trump agar Balogun dapat bermain menjadi percakapan publik.

Sepakbola yang awalnya hanya tentang taktik tiba-tiba berubah menjadi tentang kekuasaan. Balogun tidak lagi sekadar striker. Ia berubah menjadi simbol.

Di sinilah arena sepakbola berubah. Pierre Bourdieu menyebutnya sebagai pertarungan modal simbolik. Seseorang yang memiliki kekuasaan politik dapat membawa pengaruhnya melampaui ruang formal. Tetapi kekuasaan simbolik selalu memiliki lawan: opini publik.

Dan di era digital, lawannya adalah jutaan manusia yang memegang ponsel. teriakan netizen.

"Hancurkan si Trump!" Sebuah kalimat sederhana yang menjadi bentuk kecil dari perlawanan simbolik itu.

Amerika yang kalah. Tetapi Trump yang dibicarakan.

Piala Dunia selalu lebih besar daripada sepakbola. Karena yang bertanding bukan hanya kaki. Tetapi juga imajinasi manusia.

Negara membawa bendera. Bendera membawa sejarah. Sejarah membawa ingatan. Dan ingatan membawa emosi.

Kalau Joachim Klement, ekonom Jerman, membaca Piala Dunia melalui ekonomi, populasi, institusi, dan statistik.

Netizen membaca Piala Dunia 2026 lebih ngeri lagi. Menunjukkan variabel lain yang jauh lebih sulit dihitung.

Sebuah pertandingan selalu hidup dalam kepala jutaan orang yang menontonnya. Karena itu rumus kita mungkin perlu diperluas: 

Prestasi sepakbola menjelaskan hasil pertandingan. Tetapi makna sepakbola menjelaskan mengapa manusia begitu peduli terhadap hasil pertandingan.

Belgia mengalahkan Amerika. Tetapi di sebuah grup WhatsApp kecil di Makassar, seseorang merasa sesuatu yang lebih besar baru saja terjadi. Bukan Amerika yang hancur. Yang runtuh adalah simbol yang ia bawa sendiri ke dalam pertandingan.

Teriakan “Goooollllll... hancurkan si Trump...!” di sebuah grup WhatsApp kecil itu memang tampak sederhana. Dan mungkin tidak semua penghuni grup itu membacanya.

Ia hanya jahitan hurut kurang dari 50 abjad. Tidak ada suara. Tidak ada tribun. Tidak ada puluhan ribu manusia berdiri bersamaan. Tidak ada gemuruh stadion. Tetapi secara sosiologis, yang terjadi tidak jauh berbeda dengan ribuan pendukung yang berteriak di belakang gawang.

Dan itu tetap masuk dalam collective effervescence yang disebut Émile Durkheim. Ledakan emosi bersama. 

Saat individu-individu yang terpisah kehilangan kesendiriannya dan melebur dalam perasaan kolektif. 

Dulu, Durkheim melihatnya dalam ritual keagamaan. Manusia berkumpul. Bernyanyi bersama. Berdoa bersama. Bergerak dalam ritme yang sama. Tubuh berbeda, tetapi rasa menjadi satu.

Sepakbola kemudian mengambil bentuk yang sama. Stadion menjadi ruang ritual modern. Nyanyian suporter menjadi mantra. Jersey menjadi simbol identitas. Gol menjadi ledakan emosional.

Tetapi Piala Dunia 2026 menunjukkan arena baru. Manusia tidak harus lagi berada di stadion untuk mengalami peleburannya. Grup WhatsApp pun menjadi tribun. Emoji menjadi tepuk tangan. Huruf kapital menjadi teriakan. 

Pesan berantai menjadi gelombang suara. Sebuah layar kecil berubah menjadi arena sosial.

Ketika seorang akademisi menulis "Hancurkan si Trump!" yang muncul bukan sekadar komentar pertandingan. Ia sedang mengirim simbol. Dan simbol itu disambut oleh ingatan kolektif orang lain: tentang politik Amerika, tentang perang, tentang Iran, tentang kekuasaan, tentang figur Trump.

Dalam hitungan detik, pertandingan Belgia melawan Amerika Serikat tidak lagi hanya berlangsung di lapangan. 

Ia menjalar keluar stadion. Masuk ke rumah. Masuk ke warung kopi. Masuk ke ruang percakapan kecil bernama Grup WhatsApp.

Betul. Kalau kembali ke "laptop" besar serial Habitus Sepakbola Dunia, di sinilah kelemahan membaca sepak bola hanya memakai satu lensa terlihat jelas.

Jika hanya memakai kacamata struktur negara ala Joachim Klement, maka secara logika Paman Sam seharusnya menjadi kandidat juara hampir setiap Piala Dunia. Bahkan bukan hanya 2026 karena menjadi tuan rumah.

Mengapa? Karena hampir semua variabel struktural dimiliki Amerika. Ekonomi terbesar dunia. Universitas terbaik. Teknologi olahraga maju. Sport science sangat berkembang. Industri hiburan dan olahraga bernilai raksasa. Infrastruktur stadion luar biasa. Budaya kompetisi sangat kuat. Sistem olahraga kampus yang tidak dimiliki banyak negara.

Kalau sepak bola hanya persoalan kapasitas struktural, Amerika seharusnya menjadi "Brasil modern".  Tetapi faktanya tidak.

Mengapa? Karena Klement baru membaca modal. Ia belum cukup membaca bagaimana modal itu berubah menjadi habitus.

Di sinilah pentingnya Pierre Bourdieu dihadirkan. Amerika memiliki modal ekonomi sepakbola. Tetapi selama puluhan tahun, habitus olahraga Amerika bukan sepakbola. Energi kolektif bangsa itu lebih banyak mengalir ke National Football League, National Basketball Association, dan Major League Baseball.

Anak-anak Amerika tidak tumbuh dengan mimpi yang sama seperti anak Brasil. Di Brasil, bola adalah jalan hidup. Di Argentina, sepakbola adalah identitas. Di Belanda, sepakbola adalah cara berpikir. Di Spanyol, sepakbola adalah filosofi. Di Amerika, sepakbola masih lama menjadi "salah satu cabang olahraga". Itulah perbedaan struktur dan habitus.

Lalu hadirkan Emile Durkheim. Masuk lagi ke collective effervescence, energi kolektif. Maka semakin jelas bahwa Piala Dunia bukan hanya membutuhkan pemain hebat. Sepakbola membutuhkan bangsa yang ikut "bermain". Sebuah gol harus menggetarkan jutaan manusia. Sehelai jersey harus membawa memori. Semasa pertandingan harus terasa seperti pertaruhan identitas..

Brasil punya. Argentina punya. Maroko memperlihatkannya.  Belgia menampakkannya. Dan, Amerika memiliih memperlihatkan yang lain!

Kekalahan terbesar Amerika adalah kegagalan asumsi bahwa negara kuat otomatis melahirkan sepakbola kuat. Negara bisa membangun stadion. Negara bisa membangun akademi. Negara bisa membeli teknologi. Tetapi negara tidak bisa mencetak sejarah dalam sehari. Karena sepakbola tidak hanya membutuhkan sistem yang kuat. Sepakbola membutuhkan jiwa kolektif yang percaya bahwa permainan itu adalah bagian dari dirinya.

Tapi skor boleh 4-1. Belgia melaju ke babak 8 besar, tapi Amerika tetap menang. Menang “melawan” FIFA. Menang melawan hukuman kartu merah, kendati Balogun hanya masuk lapangan menendang angin. Trump tetap (merasa) menang. Memenangkan diri sebagai pengintervensi terkuat di dunia. Tapi netizen, yang amat terpelajar itu, telah menghancurkannya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.