Laporan Wartawan TribunJatim.com, Pramita Kusumaningrum
TRIBUNJATIM.COM, PONOROGO - Masyarakat di Kabupaten Ponorogo, Magetan, dan Pacitan, Jawa Timur kini diharapkan semakin mudah memperoleh Minyakita dengan harga sesuai ketentuan pemerintah.
Upaya tersebut dilakukan Perum Bulog Cabang Ponorogo melalui penyaluran rutin minyak goreng bersubsidi ke sejumlah pasar tradisional setiap pekan.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas pasokan sekaligus mengendalikan harga Minyakita di tingkat pedagang. Distribusi dilakukan secara berkala agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi di tengah tingginya permintaan minyak goreng.
Selain memperkuat stok di pasar tradisional, Bulog juga memperketat pengawasan terhadap pedagang mitra. Seluruh mitra diwajibkan menjual Minyakita sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp15.700 per liter.
Pedagang yang terbukti menjual Minyakita di atas HET tidak hanya mendapat peringatan, tetapi juga berisiko kehilangan status sebagai mitra Bulog.
Kebijakan tersebut diterapkan untuk memastikan program pemerintah benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Pantauan TribunJatim.com di Pasar Legi Ponorogo, Jalan Soekarno Hatta, Kelurahan Banyudono, Kecamatan/Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Selasa (7/7/2026), menunjukkan distribusi Minyakita kembali dilakukan sebagai bagian dari jadwal penyaluran rutin dua kali dalam sepekan.
Baca juga: Jaga Daya Beli Warga Trenggalek, Bulog Tulungagung Gelontorkan 6,5 Ton Beras SPHP ke Pasar Basah
Pimpinan Cabang Bulog Ponorogo, Budiwan Susanto, mengatakan distribusi Minyakita dilakukan dua kali dalam seminggu agar stok di pasar tetap tersedia dan masyarakat bisa membeli minyak goreng sesuai HET.
“Dengan adanya dropping dua kali seminggu, harapan kami masyarakat bisa mendapatkan harga yang sesuai HET karena ketersediaan mencukupi," ungkap Pimpinan Cabang Bulog Ponorogo, Budiwan Susanto, Selasa siang.
Khusus di Pasar Legi Ponorogo, terdapat 27 pedagang yang menerima pasokan Minyakita. Total distribusi mencapai 18.000 liter setiap pekan.
Sementara itu, di seluruh wilayah Kabupaten Ponorogo terdapat 49 pedagang mitra Bulog yang menerima jatah Minyakita dengan total penyaluran mencapai 20.640 liter per pekan.
“Kalau total di Kabupaten Ponorogo ada 49 pedagang yang mendapatkan jatah Minyakita. Dengan dropping per minggu 20.640 liter. Tidak hanya di Pasar Legi, tetapi juga Pasar Sawoo maupun Pulung,” tegasnya.
Secara keseluruhan, Bulog Cabang Ponorogo menyalurkan sekitar 57.000 liter Minyakita setiap pekan ke pasar-pasar tradisional di Kabupaten Ponorogo, Magetan, dan Pacitan.
“Ini untuk menjaga ketersediaan pasokan sekaligus kestabilan harga sesuai HET (Harga Eceran Tertinggi) yang ditetapkan pemerintah,” tambahnya.
Budiwan menjelaskan, distribusi minyak goreng kemasan bersubsidi tersebut dilakukan dua kali dalam sepekan di 16 pasar tradisional yang tersebar di tiga kabupaten.
Di Kabupaten Ponorogo, penyaluran dilakukan ke Pasar Legi, Pasar Sawoo, dan Pasar Pulung.
Sementara di Kabupaten Magetan, distribusi menyasar Pasar Sayur, Pasar Gorang Gareng, Pasar Plaosan, Pasar Mangge, dan Pasar Parang.
Adapun di Kabupaten Pacitan, Minyakita didistribusikan ke Pasar Minulyo, Pasar Arjosari, Pasar Arjowinangun, Pasar Tulakan, Pasar Nawangan, Pasar Ngadirojo, Pasar Punung, dan Pasar Gondosari.
Dari total sekitar 57.000 liter Minyakita yang disalurkan setiap pekan, sebanyak 20.640 liter dialokasikan untuk Ponorogo, 22.800 liter ke Magetan, dan 13.560 liter ke Pacitan.
Menurutnya, terdapat ratusan pedagang yang telah menjadi mitra Bulog dalam penyaluran Minyakita di tiga wilayah tersebut. Rinciannya sebanyak 49 pedagang di Ponorogo, 83 pedagang di Magetan, dan 92 pedagang di Pacitan.
Untuk mencegah pelanggaran harga, setiap toko mitra Bulog dipasangi stiker yang mencantumkan harga jual resmi Minyakita sebesar Rp15.700 per liter.
"Jika ada pedagang menjual di atas HET bisa dicopot dari mitra Bulog. Jadi jangan sampai dijual di atas HET,” papar Ihya.
Salah seorang pedagang di Pasar Legi Ponorogo, Hamim Mustofa, mengaku menerima dropping sebanyak 27 karton Minyakita. Ia memastikan tetap menjual minyak goreng tersebut sesuai harga yang telah ditetapkan pemerintah.
“Ndak berani mbak jual di atas HET. Banyak yang cari Minyakita ini. Cepat habis dibanding minyak goreng lain,” pungkas Hamim saat ditemui di lapaknya.