Tribunjogja.com Yogyakarta - Kasus penganiayaan dan pembacokan yang melibatkan geng pelajar di Yogyakarta kembali berkembang.
Setelah sebelumnya polisi mengamankan tiga tersangka utama yakni MY, LA, dan AF, serta satu tersangka RS yang berperan sebagai fasilitator kabur ke Cilacap, kini polisi memburu tersangka tambahan berinisial T (Taufik).
Taufik diduga sebagai pendana utama yang menyediakan dana untuk kaburnya para tersangka ke Cilacap. Ia kini berstatus DPO bersama tiga tersangka lain yakni Martino alias Tino, M (Maja), dan F (Farel).
PS Kanit 3 Satreskrim Polresta Yogyakarta, Ipda Gara Kinarta Immanuel Purbo, menyebutkan bahwa dalam proses pelarian tersangka ke Cilacap, ada pihak yang mendanai. Dana tersebut disediakan oleh Taufik.
“Dalam proses larinya tersangka ke Cilacap itu ada pihak-pihak yang membantu seperti yang menyewa mobil dan yang memberikan akomodasi berupa uang ketika mereka berangkat,” jelas Gara, Selasa (7/7/2026).
Informasi penyidik menyebutkan Taufik tidak memiliki pekerjaan tetap, namun masih bergaul satu geng dengan para tersangka.
Sebanyak 21 adegan rekonstruksi diperagakan oleh para tersangka. Rekonstruksi dilakukan untuk mengungkap kronologi penganiayaan disertai pembacokan terhadap AA (17), seorang pelajar anggota geng sekolah lain.
Peristiwa terjadi di Jalan Yos Sudarso, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Minggu dini hari (17/5/2026).
Fakta rekonstruksi menunjukkan AA tewas akibat bacokan senjata tajam yang dilakukan tersangka Lutfi (Lupek).
Dalam rekonstruksi, dua tersangka dihadirkan yakni Muhammad Yusuf (MY) dan Lutfi (L).
Sementara tersangka AF yang berstatus anak berhadapan hukum (ABH) tidak dihadirkan, dan beberapa tersangka DPO diperagakan oleh pemeran pengganti.
Rekonstruksi dimulai dari pertemuan korban dan pelaku di Jalan Magelang hingga ke TKP di Jalan Yos Sudarso, depan SMA Negeri 3 Yogyakarta.
Adegan tambahan menunjukkan korban terjatuh di depan Gereja HKBP Jogja.
Korban kemudian dibawa menggunakan ambulans menuju RS Panti Rapih.
“Dalam adegan tadi jelas terlihat korban menerima bacokan satu kali tepat pada dada atas bagian kanan. Dalam perjalanan ke rumah sakit, korban sudah meninggal dunia,” ungkap Gara.
Awal Pertemuan
Kronologi bermula ketika para tersangka bertemu korban di simpang Borobudur Plaza. Tersangka MY bertanya: “Sekolah ngendi kowe?” (sekolah mana kamu). Korban bergeming dan melaju.
Di simpang Pingit, pertanyaan kembali dilontarkan. Korban menjawab singkat: “Kepo,” lalu melaju ke arah bundaran Ditlantas Polda DIY.
Sesampainya di Jalan Yos Sudarso, motor korban ditendang, lalu penganiayaan dan pembacokan terjadi.
Proses Penyidikan
Saat ini polisi telah mengamankan empat tersangka: tiga pelaku utama dan satu fasilitator kabur. Sementara empat tersangka lain masih berstatus DPO.
“Jika tiga DPO belum tertangkap sampai tahap dua, berkas akan kami split. Tiga tersangka yang sudah ada akan didahulukan untuk proses penyidikan dan pelimpahan ke kejaksaan,” jelas Gara.
Rekonstruksi turut dihadiri jaksa dari Kejari Kota Yogyakarta, tim penasihat hukum, serta keluarga korban. Salah satu anggota keluarga korban menangis histeris saat menyaksikan jalannya rekonstruksi. (hda)
• Realita Geng Pelajar di Jogja: Pola Rekrutmen, Peran Senior, Transaksi Uang dan Markas Khusus