Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Tari Rahmaniar
TRIBUNFLORES.COM, LABUAN BAJO - Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Manggarai Barat akan menempatkan petugas selama 24 jam di kawasan kontainer sampah Pelabuhan Labuan Bajo.
Kebijakan itu diambil untuk menghentikan aktivitas pemilahan sampah di lokasi yang dinilai menjadi penyebab kawasan tersebut berubah menyerupai tempat pembuangan akhir.
Berdasarkan pantauan TribunFlores.com, Selasa (7/7/2026), botol-botol bekas telah dipilah dan dikumpulkan. Namun, kardus serta berbagai jenis limbah lainnya masih berserakan di sekitar kontainer sehingga mengganggu kebersihan kawasan pelabuhan.
Kepala DLHK Kabupaten Manggarai Barat, Vinsen Gande, mengatakan pihaknya telah menyediakan tiga kontainer di area yang disiapkan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) untuk menampung sampah dari kapal wisata. Namun, saat musim liburan atau high season, volume sampah sering kali melebihi kapasitas.
Baca juga: Usaha Hidroponik Will da Costa Tumbuh Bersama Pariwisata Labuan Bajo Manggarai Barat NTT
Menurut Vinsen, persoalan utama bukan terletak pada tingginya volume sampah, melainkan aktivitas pemilahan yang dilakukan setelah sampah dimasukkan ke dalam kontainer.
"Seharusnya sampah dari kapal langsung dimasukkan ke dalam kontainer. Tetapi yang terjadi, sampah diambil kembali oleh pemilah, dibawa ke sekitar kontainer, lalu dipilah di lokasi. Setelah dipilah, banyak yang ditinggalkan begitu saja sehingga area menjadi berantakan," kata Vinsen, Selasa (7/7/2026).
Ia mengaku sempat turun langsung ke lokasi hingga sekitar pukul 00.00 Wita untuk memantau kondisi tersebut. Saat itu, ia menemukan karung, kardus, dan sisa hasil pemilahan sampah menumpuk di sekitar kontainer hingga menyulitkan truk pengangkut melakukan manuver.
"Kalau malam itu tidak diangkut, saya sudah minta besok paginya semua hasil pemilahan itu kami angkut ke kantor. Untungnya malam itu juga mereka bersihkan," ujarnya.
Baca juga: Hari Laut Sedunia di Labuan Bajo Diperingati dengan Pungut Sampah di Hulu Mbeliling
Untuk mengatasi persoalan tersebut, DLHK akan menempatkan petugas siang dan malam di kawasan kontainer sampah. Setiap kapal yang membuang sampah akan didata identitasnya, sedangkan volume sampah akan dicatat sebelum dimasukkan ke dalam kontainer.
Selain itu, DLHK melarang aktivitas pemilahan sampah di kawasan pelabuhan.
"Semua sampah harus langsung masuk ke kontainer. Tidak boleh lagi ada pemilahan di lokasi. Kalau memang ada sampah yang bisa didaur ulang, prosesnya dilakukan setelah sampah tiba di TPA," ujar Vinsen.
Selama ini, pengangkutan sampah dilakukan setiap malam hingga pukul 03.00 Wita. Dalam satu malam, tiga kontainer dapat dikosongkan hingga tiga kali. Meski demikian, keesokan harinya kontainer kembali penuh, bahkan sampah kerap meluber ke luar.
DLHK menduga tidak seluruh sampah yang dibuang ke kontainer berasal dari kapal wisata yang baru selesai berlayar. Berdasarkan hasil pemantauan, kapal wisata umumnya baru kembali ke pelabuhan pada sore hingga malam hari.
"Kami menduga ada sampah yang dikumpulkan dari tempat lain, kemudian dibawa sekaligus ke pelabuhan. Kalau hanya sampah hasil perjalanan kapal dalam sehari, volumenya tidak mungkin sebanyak itu," kata Vinsen.
Selain persoalan pengelolaan sampah, DLHK juga menyoroti rendahnya kepatuhan pembayaran retribusi pelayanan persampahan oleh kapal wisata.
Dari sekitar 849 kapal yang terdata, baru sekitar 300 kapal yang rutin membayar retribusi setiap bulan.
"Artinya, masih ada sekitar 500 kapal yang belum membayar. Kami juga tidak tahu ke mana sampah dari kapal-kapal itu dikelola," ujarnya.
Karena itu, DLHK meminta dukungan KSOP agar proses penerbitan clearance kapal turut disertai pengecekan pembayaran retribusi sampah. DLHK juga akan menyerahkan daftar kapal yang masih menunggak sebagai bahan pengawasan bersama.
Sementara itu, seorang pedagang di sekitar lokasi, Kolekta Diah, mengaku tumpukan sampah mengganggu aktivitas berdagang. Meski demikian, menurut dia, hingga kini belum ada lokasi lain yang dapat digunakan sebagai tempat penampungan sampah.
"Tidak ada pilihan tempat lain selain di situ yang kosong. Pendapatan kami paling Rp 30.000 per hari," ujarnya.