TRIBUNSORONG.COM - Maskapai Associated Mission Aviation (AMA) menyatakan menghentikan sementara pelayanan penerbangan di Papua pasca-pembakaran pesawat dan penembakan pilot asal Amerika Serikat Nicholas Geosselin oleh Kelompok Kriminal Bersenjata.
Diketahui, pesawat pilatus milik maskapai Associated Mission Aviation dibakar dan sang pilot Nicholas Geosselin ditembak oleh Kelompok Kriminal Bersenjata di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan pada Kamis (2/7/2026) pagi.
Pesawat AMA PK-RY yang terbang dari Bandara Wamena mendarat di Bandara Ipedeheik, sekitar pukul 06.47 WIT.
Ketika pesawat mendarat, segerombolan anggota KKB langsung melakukan penyerangan dan membakar pesawat.KKB juga menembak pilot pesawat hingga tewas.
Ketujuh penumpang yang seluruhnya merupakan Orang Asli Papua (OAP) selamat dalam peristiwa tersebut.
Baca juga: Anggota KKB Kodap III Ilaga Ditangkap Satgas Damai Cartenz, Ini Perannya dalam Penembakan
Baca juga: Kronologi Pembakaran SD Yapis Waghete oleh KKB: Masuk Lewat Belakang, Kerugian Capai Rp2 M
Pemberhentian pelayanan penerbangan ini dilakukan karena saat ini keluarga besar Maskapai AMA sedang berduka atas meninggalnya pilot Nicholas Gosselin. "Iya benar, seluruh aktivitas penerbangan kami hentikan sementara karena masih dalam keadaan berduka atas meninggalnya pilot kami Nicholas Gosselin," kata Direktur Utama PT AMA Bob Kayadu kepada Kompas.com pada Senin (6/7/2026) malam.
Bob Kayadu menambahkan, keputusan untuk kembali beroperasi akan diputuskan pada rapat yang akan digelar pada Sabtu mendatang.
"Untuk kembali beroperasinya akan kami putuskan pada Sabtu mendatang. Saat ini seluruh aktivitas di kantor dan penerbangan juga kita hentikan," tuturnya.
Baca juga: Satgas Damai Cartenz Tangkap Pria Paruh Baya Diduga Perantara Senjata KKB di Sarmi
Dirinya menyebut, pembakaran pesawat dan penembakan pilot membawa duka yang sangat dalam bagi keluarga besar maskapai AMA.
"Selama 67 tahun 4 bulan melayani di Papua, pembakaran pesawat dan penembakan pilot ini adalah yang paling tragis sehingga kami merasa luka yang begitu dalam.
Kami membutuhkan waktu untuk mengobati hati kami yang luka," jelasnya.
"Kami berdoa agar mereka yang melakukan itu disadarkan oleh Tuhan dan bertobat. Itu harapan kami," katanya. (TribunSorong.com/*)