Malioboro Tak Hanya untuk Wisata, Nol Koma 'Kesatu' Hidupkan Kembali Ruang Seni
Yoseph Hary W July 07, 2026 05:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM - Kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta akan kembali menjadi ruang perjumpaan para pelaku seni dan budaya melalui gelaran O, Nol Koma #1 bertajuk "Ruang Awal, Ruang Bersama" pada 10 Juli 2026. 

Digagas oleh komunitas Malioboro Classical Jogja, acara ini dihadirkan untuk menghidupkan kembali semangat Malioboro sebagai ruang kreatif yang selama puluhan tahun melahirkan banyak seniman, sastrawan, musisi, hingga budayawan.

Musik hingga seni sastra

Berbagai pertunjukan musik, pembacaan puisi, sastra, hingga aktivitas seni rupa akan digelar sepanjang kawasan Titik Nol Kilometer. Tak hanya menjadi panggung apresiasi, penyelenggara ingin menjadikan kegiatan ini sebagai ruang regenerasi yang mempertemukan pengalaman seniman senior dengan semangat generasi muda.

Steering Committee O, Nol Koma #1, Agus "Dayak" Imron, mengatakan kegiatan tersebut lahir dari kegelisahan sejumlah pelaku seni yang merasa identitas Malioboro sebagai ruang belajar dan ruang kebudayaan mulai memudar di tengah perkembangan kawasan yang semakin berorientasi pada aktivitas ekonomi.

"Yang ingin kami hadirkan adalah roh Malioboro. Jalan ini bukan sekadar kawasan bisnis atau tempat nongkrong, tetapi ruang publik, ruang belajar, bahkan kawah candradimuka yang selama puluhan tahun melahirkan banyak tokoh seni dan budaya," ujarnya dalam konferensi pers , Senin (6/7/2026) sore.

Menurut Agus, pengelolaan Malioboro semestinya tidak hanya berfokus pada penataan fisik kawasan, tetapi juga memperhatikan sejarah serta nilai budaya yang telah membentuk kawasan tersebut.

"Kalau pengelolaan Malioboro memahami sejarahnya, tentu komunikasi antara pemerintah, pengelola, dan komunitas seni bisa berjalan lebih baik. Kami hanya ingin memberi warna agar Malioboro tetap hidup sebagai ruang kebudayaan," katanya.

Ia menilai banyak generasi muda saat ini belum mengetahui besarnya peran Malioboro dalam perjalanan kesenian Indonesia. Padahal, kawasan tersebut pernah menjadi tempat lahir berbagai komunitas seni dan sastra, termasuk Persada Studi Klub (PSK) yang dipimpin penyair legendaris Umbu Landu Paranggi.

Hidupkan memori kolektif tentang Malioboro 

"Banyak anak Gen Z sekarang tidak tahu bahwa Malioboro pernah melahirkan tokoh-tokoh hebat. Sejarah itu harus dikomunikasikan kembali agar memori kolektif tentang Malioboro tidak hilang," ucapnya.

Agus berharap kegiatan ini menjadi awal sinergi yang lebih kuat antara pemerintah dengan komunitas seni dalam menghidupkan kembali denyut kebudayaan di Malioboro.

"Kami sengaja melibatkan Wali Kota Yogyakarta sebagai bentuk sinergi. Harapannya, komunikasi dengan komunitas-komunitas seni yang selama ini tumbuh di Malioboro bisa terus berlanjut sehingga kawasan ini tetap memiliki jiwa, bukan hanya aktivitas ekonomi," jelasnya.

Selain pertunjukan seni, O, Nol Koma #1 juga akan ditandai dengan peresmian simbolik Monumen Umbu Landu Paranggi oleh Wali Kota Yogyakarta. Tokoh yang dikenal sebagai Presiden Malioboro itu menjadi figur pertama dalam program memorial budaya yang akan terus dikembangkan pada penyelenggaraan berikutnya.

Monumen tersebut nantinya tidak hanya menjadi penanda sejarah, tetapi juga dilengkapi kode QR yang menghubungkan pengunjung dengan arsip digital berisi dokumentasi, karya, serta perjalanan hidup Umbu Landu Paranggi. Program memorial budaya itu dirancang untuk mengenalkan tokoh-tokoh yang berperan besar dalam perkembangan seni, budaya, dan kehidupan intelektual Yogyakarta.

Koordinator Kepenyairan O, Nol Koma #1, Feri Ludiyanto, mengatakan pembacaan puisi dalam acara ini juga dirancang sebagai upaya membangun kembali ingatan kolektif tentang Malioboro melalui karya sastra.

Ia menjelaskan para penyair muda dilibatkan untuk mempelajari sekaligus membaca kembali karya-karya Umbu Landu Paranggi beserta para penyair sezamannya.

"Kami mengumpulkan penyair-penyair muda yang mungkin sempat terputus dengan jejak Umbu. Mereka kami ajak meriset karya-karyanya, kemudian membacakannya bersama karya generasi sekarang," katanya.

Rangkaian pembacaan puisi akan dimulai pukul 14.00 WIB secara berpindah dari depan Gedung Bank BPD DIY menuju kawasan Titik Nol Kilometer. Delapan penyair akan terlibat bersama kelompok studi sastra yang membina anak-anak usia sekolah dasar hingga sekolah menengah, sementara para penyair senior akan tampil di panggung utama.

Untuk masyarakat

Menurut Feri, konsep tersebut sengaja dirancang agar masyarakat tidak hanya menikmati pertunjukan, tetapi juga diajak mengingat kembali sejarah kebudayaan Malioboro.

"Harapan kami ruang-ruang ini menjadi ruang untuk menghadirkan kembali memori. Artefak boleh hilang, tetapi ingatan jangan. Dari memori itulah lahir mimpi-mimpi besar dan semangat untuk meneruskan perjalanan kebudayaan," ujarnya.

Sementara pembacaan puisi akan melibatkan Doni Haryo, Sekartaji Ayuwangi, Luwi Darto, Dinar Roos bersama Pak Yan, Ahmad Jalidu, Piwulang Sastra, Silvia Anggreni Purba, Dewi Wapah, Menik Sithik, dan Daniel Godan, serta didukung kolaborasi berbagai komunitas seni rupa.

Melalui kegiatan tersebut, penyelenggara berharap Malioboro kembali dipahami sebagai ruang budaya yang terbuka bagi siapa saja, sejalan dengan status kawasan itu sebagai bagian dari Sumbu Filosofi Yogyakarta yang telah ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO pada 2023. Nama O, Nol Koma sendiri dipilih untuk menggambarkan bahwa setiap perjalanan besar selalu berawal dari sebuah titik kecil.(nto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.