Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Tumpukan telur terlihat berjejer rapi di toko Agen Beras Luvenia yang berlokasi di Jalan Purnawirawan Raya No. 37, Gedong Meneng, Kecamatan Rajabasa, Kota Bandar Lampung.
Baca juga: Harapan Pedagang Telur di Bandar Lampung Terkait Rencana Penetapan HET Baru
Dodi Saputra, pemilik Toko Agen Beras Luvenia mendukung rencana pemerintah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) telur ayam ras sebesar Rp24.000 per kilogram yang mulai berlaku pada 15 Juli 2026.
Menurut Dodi, kebijakan tersebut dapat menciptakan persaingan usaha yang lebih sehat karena harga jual telur menjadi lebih seragam di tingkat pedagang.
"Bagus, saya mendukung. Jadi semua pedagang bisa sama harganya. Sekarang kan harganya enggak tentu, ada yang jual Rp23.000, bahkan ada yang Rp22.000 per kilogram," kata Dodi saat ditemui, Selasa (7/7/2026).
Saat ini, Dodi mengaku masih menjual telur ayam ras dengan harga Rp22.500 per kilogram, lebih rendah dibandingkan rencana HET yang akan diberlakukan pemerintah.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat keuntungan pedagang menjadi sangat tipis karena harus menyesuaikan harga dengan kompetitor di sekitar toko.
"Kalau HET Rp24.000 diterapkan, justru menguntungkan kami. Masih ada margin keuntungan. Kalau sekarang tipis sekali karena pesaing di sekitar sini juga jualnya segitu. Kalau kita enggak ikut turunkan harga, pembeli bisa pindah," ujarnya.
Selain mendukung kebijakan tersebut, Dodi memastikan pasokan telur di tokonya hingga kini masih aman.
Ia mengatakan, stok telur yang dijual berasal dari sejumlah peternakan dari PT Bergen dan wilayah Pringsewu, dengan distribusi yang berjalan lancar.
"Stok aman. Telur kami dari Berhen dan Pringsewu. Harga dari kandang juga masih normal, jadi pasokan sejauh ini tidak ada kendala," jelasnya.
Dodi optimistis penerapan HET dapat memberikan kepastian harga bagi pedagang sekaligus menciptakan iklim usaha yang lebih adil.
Dengan adanya batas harga yang sama, menurutnya, persaingan tidak lagi hanya bertumpu pada perang harga, tetapi juga pada pelayanan kepada pelanggan.
"Kalau semua harganya sama, persaingan jadi lebih sehat. Pedagang juga masih bisa untung dan pembeli tetap mendapatkan harga yang wajar," tutupnya.
(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)