Dilema Pedagang Ayam di Bandar Lampung Menjelang Penerapan HET Baru
Robertus Didik Budiawan Cahyono July 07, 2026 05:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Rencana Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pertanian untuk menerapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) ayam hidup senilai Rp19.500 per kilogram mulai 15 Juli 2026 menuai respons yang beragam dari para pedagang ayam di Pasar Kangkung, Bandar Lampung. 

Baca juga: Harga Ayam Kampung di Bandar Lampung Bervariasi, Tergantung Ukuran Fisik yang Diingini

Meski berniat baik untuk menstabilkan harga, kebijakan ini dinilai belum tentu efektif menurunkan harga daging ayam bersih di tingkat eceran.

Pantauan di Pasar Kangkung, Teluk Betung, Bandar Lampung menunjukkan bahwa harga daging ayam saat ini sebenarnya sedang mengalami tren penurunan. 

Dedi, salah seorang penjual ayam potong di Pasar Kangkung, mengungkapkan bahwa harga ayam hidup di tingkat pedagang saat ini berada di angka Rp23.000 per kilogram, turun dari yang sebelumnya Rp25.000 per kilogram. 

“Ayam bersih Rp30.000 per kilogram itu untuk ukuran ayam 1,1 kg dan ayam fillet turun dari Rp53.000 menjadi Rp48.000 per kilogram,” ungkap Dedi saat ditemui di lapak miliknya Selasa (7/7/2026).

Menanggapi rencana pemerintah yang akan mematok harga ayam hidup maksimal Rp19.500, Dedi mengaku sangat mendukung jika hal tersebut bisa meringankan beban masyarakat.

"Kalau masalah pemerintah, yang penting rakyatnya emak makmur aja sih, simpel aja. Lebih bagusnya harga memang turun, kalau bisa lebih turun lagi," ujar Dedi sambil mengecek handphone miliknya.

Namun, Dedi juga menambahkan bahwa fluktuasi harga ini sangat bergantung pada stok pedagang. 

Penurunan harga yang terjadi saat ini bahkan sudah berlangsung selama kurang lebih dua minggu akibat penyesuaian pasar.

Untuk stok ayam, Dedi menyebutkan saat ini stok masih terbilang aman dan tidak terjadi kelangkaan.

“Stok masih aman, pembeli juga masih aman, untuk untung ya sedikit tapi cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” jelasnya.

Sikap yang lebih kritis datang dari Raswati, ia meragukan keefektifan HET Rp19.500 tersebut jika patokan tersebut adalah harga di tingkat kandang (pusat), bukan harga patokan bersih di tingkat pengecer.

Menurut Raswati, jika harga dari pusat atau kandang sudah menyentuh Rp19.500, maka harga tersebut terhitung masih tinggi. 

Pasalnya, ayam tersebut harus melewati broker, distributor, hingga ke tukang jagal (pemotong) sebelum sampai ke lapak pedagang pasar. 

Tiap rantai distribusi pasti akan mengambil margin keuntungan sekitar Rp2.000 hingga Rp3.000 per kilogram.

Saat ini, Raswati menjual ayam bersih seharga Rp32.000 per kilogram, dengan modal pembelian ayam hidup sekitar Rp25.000 per kilogram.

"Pemerintah kan tidak langsung ke pengecer. Kalau dari pusat sana sudah Rp19.500, diambil broker turun ke pemotong, ya nggak mungkin lah (tetap murah). Pasti tinggi harganya sampai ke kita," jelas Raswati sambil memotong bagian demi bagian ayam jualannya.

Selain rantai distribusi, Raswati juga berharap nantinya saat HET tersebut ditetapkan, angka Rp.19.500 lah yang diterima oleh pedagang di pasar.

“Semoga harga Rp19.500 yang kita terima, agar harganya masih terjangkau di kantong masyarakat,” tutupnya.

Para pedagang di Pasar Kangkung berharap, jika pemerintah benar-benar ingin menerapkan HET, intervensi harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir agar harga yang sampai ke tangan emak-emak benar-benar terjangkau tanpa mencekik keuntungan pedagang kecil.

(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.