Taman Suropati dan 6 Patung Lambang Perdamaian Negara-negara ASEAN
Alfa Pratomo July 07, 2026 05:34 PM

Taman Suropati bukan hanya paru-paru Kota Jakarta. Taman ini juga simbol perdamaian negara-negara Asia Tenggara.

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---


Intisari-Online.com - Sejarah Indonesia mencatat, pada awal abad ke-19, pusat kota Batavia yang awalnya berada di utara sekarang kawasan Kota Tua) bergeser ke wilayah yang lebih selatan. Perpindahan itu dilakukan karena pusat kota Batavia saat itu sudah terlalu padat, kumuh, dan menjadi sarang malaria dan kolera.

Gubernur Jenderal Willem Herman Daendels kemudian memelopori pemindahan pusat pemerintahan ke arah selatan yang disebut Weltevreden (sekarang mencakup area Gambir hingga Lapangan Banteng). Karena para pejabat dan ekspatriat Eropa ikut pindah juga, maka kebutuhan akan kawasan perumahan baru yang sehat dan layak pun meningkat tajam.

Pemerintah kolonial Belanda kemudian membeli lahan di Menteng dan Gondangdia untuk membangun perumahan bernama Nieuw Gondangdia. Kawasan ini dirancang menggunakan konsep Kota Taman (Garden City) yang sedang populer di Eropa saat itu.

Konsep itu memadukan hunian asri dengan ruang terbuka hijau yang luas, jalan yang lebar, serta sistem drainase yang matang. Menteng sendiri disebut sebagai kawasan permukiman terencana (modern housing estate) pertama di Indonesia.

Perancangan awal kawasan Menteng digarap oleh arsitek Belanda P.A.J. Moojen pada 1910, yang kemudian disempurnakan oleh F.J. Kubatz. Untuk mengawasi pembangunan, dibentuklah perusahaan konstruksi N.V. de Bouwploeg (kantornya kini menjadi Masjid Cut Meutia).

Taman Suropati sebagai oase Menteng

Di tengah lalu lalang orang dan kendaran serta panasnya cuaca, di tengah kawasan Menteng berdiri sebuah ruang terbuka hijau yang rindang dan menyegarkan. Ruang terbuka hijau bernama Taman Suropati.

Tempat yang sekarang identik sebagai tempat berkumpulnya kominitas-komunitas seni, tempat olahraga, dan lainnya ini rupanya menyimpan cerita sejarah yang panjang. Cerita itu merentang sejak zaman kolonial hingga riwayat diplomasi negara-negara di Asia Tenggara.

Sejarah Taman Suropati berawal pada awal abad ke-20 ketika pemerintah kolonial Hindia Belanda mulai mengembangkan kawasan Menteng sebagai tuinstad (kota taman) modern pertama di Indonesia. Pada 1920, sebuah lapangan berbentuk melingkar dibangun di titik pertemuan beberapa jalan utama Menteng.

Lapangan ini awalnya diberi nama Burgemeester Bisschopplein (Lapangan Walikota Bisschop) untuk menghormati G.J. Bisschop, Walikota Batavia pertama yang menjabat pada periode 1916–1920. Sejak awal, taman ini tidak hanya berfungsi sebagai paru-paru kota, tetapi juga pusat visual wilayah Menteng yang mewah.

Setelah Indonesia merdeka, nama taman ini berubah menjadi Taman Suropati, diambil dari nama Untung Suropati, pahlawan nasional asal Bali yang gigih melawan VOC pada abad ke-17.

Pada 21-22 Juli 1984, Jakarta menjadi tuan rumah pertemuan para menteri luar negeri negara-negara ASEAN ke-17. Sebagai bentuk kenang-kenangan dan simbol solidaritas regional, kawasan Taman Suropati dipilih untuk menampung karya seni dari para seniman terkemuka di Asia Tenggara. Sebanyak enam patung kontemporer abstrak yang melambangkan semangat persatuan didirikan di sini.

Enam patung tersebut mewakili enam negara anggota ASEAN saat itu. Indonesia menampilkan patu"Perdamaian" (Peace) karya Sunaryo; sementara Malaysia dengan patung "Pertumbuhan" karyaAwang Haji Latif Aspar.

Kemudian ada Filipina yangmenampilkan patung "Kelahiran Kembali" karya Solomon de Sapitula, sedangkan Singapura menghadirkan patung "Semangat ASEAN" karya Ng Eng Teng. Thailand punya patung"Persaudaraan" karya Nonthivathn Chandhanaphalin, sementara Brunei Darussalam dengan patung "Keharmonisan" karya Haji Awang bin Sitai.

Untuk Brunei Darusalam patungnya diresmikan menyusul setelah bergabung dengan ASEAN.

Sejak momen monumental itulah, Taman Suropati sering disebut sebagai "Taman ASEAN". Patung Tugu Perdamaian ASEAN menjadi simbol harmoni di taman tersebut.

Di antara deretan karya seni tersebut, salah satu yang paling mencolok dan sering disebut sebagai "Tugu Perdamaian ASEAN" adalah patung bertajuk "Peace" (Perdamaian) mahakarya seniman asal Bandung bernama Sunaryo. Patung ini memiliki arsitektur brutalisme-abstrak yang megah, tersusun dari balok-balok batu andesit gelap yang kokoh.

Jika diperhatikan, struktur patung ini sengaja dibuat saling bertumpu, mengunci, dan menopang satu sama lain. Filosofi di balik bentuk geometris ini sangat mendalam. Filosofinya adalah perdamaian dan stabilitas di Asia Tenggara tidak dapat berdiri sendiri.

Perdamaian hanya bisa dicapai jika negara-negara, dalam hal ini negara-negara Asia Tenggara, saling mendukung dan menjaga keseimbangan. Kehadiran Tugu Perdamaian ini mengubah fungsi Taman Suropati dari sekadar peninggalan tata kota kolonial menjadi ruang publik yang memuat pesan global.

Di Taman Suropati perdamaian dunia dirajut. Ini sekaligus menegaskan bahwa Jakarta bukan hanya ibu kota administrasi Indonesia. Lebih dari itu, Jakarta adalah "Ibu Kota Diploasi" Asia Tenggara.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.