Batik Tak Lagi Kuno, Mahasiswa UC Padukan Wastra Nusantara dengan Gaya Hip Hop Kekinian
Wiwit Purwanto July 07, 2026 07:32 PM

 

SURYA.CO.ID SURABAYA - Limbah kain batik yang lama tersimpan di gudang pengrajin kini mendapatkan kehidupan baru melalui tangan kreatif mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya.

Melalui pendekatan fesyen berkelanjutan, kain tak terjual itu diubah menjadi koleksi streetwear modern yang membawa pesan budaya dan lingkungan.

Karya tersebut menjadi salah satu sorotan dalam Fashionology 2026 di Ciputra World Surabaya. Mengusung tema The Liminal, pameran tugas akhir Program Studi Fashion Product Design and Business Universitas Ciputra ini menampilkan karya 56 mahasiswa tingkat akhir yang lahir dari riset dan eksplorasi berbagai isu, mulai keberlanjutan lingkungan, pelestarian budaya, identitas generasi muda, kesehatan mental, hingga perubahan sosial.

Salah satu karya yang menarik perhatian datang dari Muhammad Atho'illah. Mahasiswa asal Mojokerto itu memilih mengolah limbah deadstock batik dari pengrajin daerah asalnya menjadi koleksi streetwear yang terinspirasi dari budaya hip hop.

Batik katun dan batik print yang sebelumnya tidak terjual dipadukan dengan material jaring menggunakan teknik patchwork dan appliqué. Material tersebut kemudian bertransformasi menjadi jaket, celana denim berpotongan oversize, hingga aksesori dengan karakter streetwear yang kuat.

Baca juga: Gebrakan SSFF 2026, Desainer Surabaya Nekat Sulap Batik Jadi Baju Olahraga Modis Super Nyaman

Menurut Atho'illah, ide tersebut muncul dari keinginannya membantu pengrajin batik lokal sekaligus memperkenalkan warisan budaya Indonesia kepada generasi muda melalui pendekatan yang lebih dekat dengan tren masa kini.

"Karena saya berasal dari Mojokerto, saya memilih berkolaborasi dengan pengrajin batik lokal di sana. Material yang saya gunakan bukan limbah batik kecil atau scrap, melainkan kain batik yang tidak terjual selama usaha mereka berdiri," ujar Atho'illah, Selasa (7/7/2026).

Ia menjelaskan, kain batik tersebut kemudian dikombinasikan dengan material jaring dan dikembangkan melalui desain modern agar memiliki daya tarik bagi konsumen muda.

"Saya ingin masyarakat atau konsumen tertarik menggunakan batik, tetapi dengan tampilan yang lebih modern," katanya.

Atho'illah sengaja menggabungkan unsur budaya hip hop dengan wastra Nusantara untuk menunjukkan bahwa batik mampu beradaptasi dengan perkembangan industri fesyen global.

"Hip hop merupakan tren global yang berasal dari Amerika. Saya ingin mengombinasikannya dengan elemen budaya lokal agar batik dan produk budaya Indonesia tetap relevan dengan tren fesyen saat ini," tuturnya.

Fashionology 2026 Hadirkan Karya Berbasis Riset

Tidak hanya mengangkat isu pemanfaatan limbah tekstil, karya mahasiswa dalam Fashionology 2026 juga membawa berbagai pesan sosial. Sejumlah koleksi menghadirkan gagasan tentang kesehatan mental, akulturasi budaya, hingga inovasi material ramah lingkungan.

Baca juga: Balapan Di Moto 2 2026 Mario Aji Bawa Misi Budaya Indonesia Helm Motif Batik Penuh Makna

Ketua Program Studi Fashion Product Design and Business Universitas Ciputra sekaligus Ketua Fashionology 2026, Yoanita Kartika Sari Tahalele, mengatakan seluruh karya yang dipamerkan merupakan hasil perjalanan panjang mahasiswa selama empat tahun menempuh pendidikan.

"Fashionology 2026 adalah perayaan atas proses, ketekunan, dan transformasi para mahasiswa selama empat tahun belajar," kata Yoanita.

Menurutnya, setiap koleksi tidak sekadar dibuat untuk menghasilkan busana yang menarik secara visual, tetapi juga melalui proses riset dan eksplorasi untuk menghadirkan solusi melalui desain.

"Di balik setiap koleksi terdapat riset, eksplorasi, kreativitas, dan keberanian untuk menawarkan solusi melalui desain. Kami berharap pengalaman ini menjadi bekal bagi para lulusan untuk memasuki dunia profesional dengan percaya diri, membangun jejaring yang lebih luas, serta berkontribusi bagi perkembangan industri fashion Indonesia dan dunia," ujarnya.

Selain memamerkan karya tugas akhir, Fashionology 2026 juga menghadirkan hasil real client project yang dikerjakan 10 mahasiswa semester enam bersama UMKM Batik Reog Ponorogo.

Kolaborasi tersebut menjadi bentuk keterlibatan perguruan tinggi dengan pelaku industri kreatif dalam mendorong inovasi sekaligus memperkuat pemberdayaan ekonomi lokal.

Tahun ini, Fashionology juga memperluas jejaring internasional dengan melibatkan mahasiswa dari lima perguruan tinggi mitra, yakni Tsinghua University (China), Shih Chien University (Taiwan), Manchester Metropolitan University (Inggris), Swinburne University (Australia), serta Tunku Abdul Rahman University of Management and Technology (Malaysia).

Kehadiran mahasiswa internasional tersebut menjadikan Fashionology sebagai ruang pertukaran gagasan mengenai masa depan industri fesyen yang semakin dipengaruhi teknologi, perubahan tren, serta kebutuhan terhadap konsep keberlanjutan.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.