‘Kutukan’ Tutankhamun, Sekitar 20 Meninggal, Sekitar 22 Kena Tulah
Moh. Habib Asyhad July 07, 2026 08:34 PM

Kutukan Tutankhamun, begitulah kabar yang beredar mengiringi ditemukannya mumi Raja Tut itu pada 3 Januari 1924. Apa yang sebenarnya terjadi?

Tayang di Kumpulan Kisah Misteri 3 Intisari 2004 dengan judul "Kutukan Tutankhamen"

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Tutankhamun bukanlah firaun besar. Dia naik takhta ketika masih kanak-kanak dan meninggal saat bam berumur 1 8 tahun.

Namun makamnya termasuk yang tidak terusik. Ketika ditemukan oleh tim arkeolog Howard Carter yang dibiayai oleh Lord Carnarvon ke-5, kondisi makam itu masih utuh.

Walaupun demikian, bukan itu yang membuat Tutankhamun termasyhur. Kalau Anda terus mengikuti kisah di bawah ini, Anda akan mengerti mengapa ia menjadi demikian masyhur.

Anjing yang meratapi majikannya

Menjelang tengah malam di sebuah puri di Hampshire, Inggris, seekor anjing tiba-tiba melolong. Lolongannya memelas, tak kunjung henti, sampai seisi rumah terbangun.

Meski sampai dibujuk-bujuk anjing itu tak juga berhenti meratap. Lolongannya berlanjut sampai, ya, sampai hewan malang itu kehabisan tenaga dan tewas tersungkur.

Peristiwa ganjil ini konon terjadi di rumah arkeolog amatir tersohor, George Edward Herbert. Seisi rumah saat itu tentu belum menyadari bahwa saat anjing itu mulai melolong, Herbert yang bergelar Earl of Carnarvon ke-5, sedang menjelang ajal ribuan kilometer dari sana, di sebuah kamar di Hotel Continental, Kairo, Mesir.

Demikianlah, orang-orang berkata bahwa kutukan Firaun Tutankhamun—yang dijuluki Raja Tut oleh para arkeolog—mulai meminta korban.

Carnarvon bukan tidak tahu adanya kutukan para firaun terhadap orang yang berani mengusik makam mereka. Dia peminat fanatik sejarah Mesir, khususnya mengenai zaman para firaun.

Logis saja kalau pengganggu makam para firaun ditakut-takuti dengan kutukan, sebab selain berisi jenazah yang dimumikan, makam mereka juga penuh dengan benda berharga. Sudah ditakut-takuti pun masih saja makam-makam itu dijarah.

Para penggali ketakutan

Bangunan makam Tutankhamun sebenarnya pernah dimasuki penjarah sampai dua kali belum lama setelah Tut meninggal 14 abad SM. Namun para penjarah itu keburu tertangkap, sehingga tidak sempat menimbulkan kerugian besar. Ruang makamnya sendiri belum terjamah.

Ketika Carnarvon masih di Inggris, dia juga sudah diperingatkan. Saat itu ekspedisinya yang terakhir dan terbesar untuk mencari makam Tutankhamun yang konon sarat dengan emas masih dalam tahap perencanaan.

Bahkan dukun Mesir yang paling terkenal masa itu, Pangeran Hamon mengirimkan peringatan tertulis. Bunyinya: “Lord Carnarvon jangan masuk ke makam. Kalau dilanggar berbahaya. Kalau diabaikan dia akan menderita sakit. Tidak bisa sembuh. Kematian akan menimpanya di Mesir.”

Konon dua kali peramal menyatakan Carnarvon akan tewas secara misterius. Ini pun tidak aneh sebab di masa itu ekspedisi ini termasuk berbahaya.

Namun Carnarvon meneruskan juga ekspedisi yang sudah menjadi mimpinya selama bertahun-tahun. Yang ketakutan malah para penggali di situs penggalian Luxor.

Tanggal 17 Februari 1923, setelah belasan tahun menggali secara sistematis di Lembah Makam-makam, akhirnya Carnarvon dan timnya berhasil menembus dinding kamar makam Tutankhamun. Di sana Carnarvon dan mitranya, Howard Carter, orang Amerika mantan penasihat departemen purbakala pemerintah Mesir, menemukan harta karun yang jauh melebihi perkiraan mereka: emas, batu-batu mulia, perhiasan, selain beberapa takhta, kereta, jambangan, dan sebagainya.

Rupanya, kamar makam ini luput dari penjarahan yang banyak menimpa kamar makam firaun lain karena letaknya di bawah tanah dan tertimbun serpihan-serpihan batu saat makam Firaun Ramses VI digali tepat di atasnya.

Peti jenazah mumi Tutankhamun sendiri baru ditemukan 3 Januari 1924. Peti yang terdiri atas tiga lapis itu yang paling dalam dibuat dari emas yang tebal.

Dua lapis peti kayu di luarnya ditatah pakai emas. Di atas kepala mumi terdapat topeng dari emas pula. Semua peti ini ditaruh lagi dalam sarkofagus, peti dari batu.

Di atas makam tertera tulisan yang kalau diterjemahkan artinya: “Maut akan menjemput mereka yang mengusik tidur para Firaun”. Padahal ketika peti jenazah itu ditemukan, Lord Carnarvon si penyandang dana ekspedisi itu sudah meninggal.

Kisah tewasnya begitu sederhana. Dua bulan setelah memasuki kamar makam Tutankhamun, Carnarvon yang tiba-tiba menjadi termasyhur itu terbangun di kamar hotelnya di Hotel Continental, dia mengeluh, “Badan saya sakit sekali.”

Ketika putranya tiba, Carnarvon sudah tidak sadar. Malam itu juga, 5 April 1923, saat putranya sedang beristirahat di kamar sebelah, Carnarvon meninggal. Menurut putranya kemudian, aliran listrik tiba-tiba mati di seluruh Kairo sehingga mereka harus menyalakan lilin.

Gigitan nyamuk di pipi kiri

Kematian Carnarvon ternyata disebabkan oleh gigitan nyamuk di Thebes saat dia meninjau makam yang baru dibuka. Keracunan darah akibat gigitan nyamuk di pipi kirinya itu mendatangkan pelbagai komplikasi seperti radang paru-paru. Namun banyak orang berkata bahwa Carnarvon tewas akibat kena tulah.

Yang aneh, ketika peti jenazah Tutankhamun dibuka, ternyata muminya memiliki bentol di pipi kiri juga, persis di tempat nyamuk menggigit pipi Carnarvon. Akibatnya banyak orang semakin yakin bahwa Carnarvon termakan kutukan Tutankhamun.

Tidak lama setelah kematian Carnarvon, Arthur Mace, arkeolog Amerika yang merupakan salah seorang pemimpin ekspedisi, mengeluh lelah. Lalu tiba-tiba saja dia mengalami koma.

Mace meninggal di Hotel Continental sebelum para dokter sempat memastikan apa yang menimpanya. Ini pun dihubungkan dengan kutukan firaun Mesir.

Begitu mendengar kematian Carnarvon, George Jay Gould, teman dekat Carnarvon, bergegas pergi ke Mesir. Berhubung dia seorang ahli Mesir kuno juga, tentu saja dia tidak melewatkan kesempatan untuk mengunjungi makam firaun yang baru ditemukan itu.

Keesokan harinya dia menderita demam tinggi dan 12 jam kemudian menyusul sahabatnya ke alam baka.

Sementara itu, ahli radiologi Archibald Reid yang memotret mumi Tutankhamun dengan sinar X, mengeluh tubuhnya lemas sehingga dipulangkan ke Inggris. Dia pun meninggal tidak lama kemudian.

“Korban kutukan” masih berjatuhan. Sekretaris pribadi Carnarvon dalam ekspedisi itu, Richard Bethell, ditemukan meninggal di ranjangnya akibat serangan jantung. Industrialis Joel Wool, salah satu orang pertama yang diundang mengunjungi makam pun meninggal karena demam yang tidak diketahui sebabnya.

Dalam masa enam tahun setelah makam Tutankhamun ditemukan, 12 dari mereka yang hadir dalam penemuan itu meninggal. Sementara itu tidak kurang dari 22 orang lain yang ada hubungannya dengan ekspedisi itu, dinyatakan ikut kena tulah pula. Data terbaru menyebut korban kutukan Tutankhamun sekitar 20 orang.

Mereka dianggap meninggal secara tak wajar. Termasuk di antaranya Lady Carnarvon dan saudara tiri almarhum suaminya. Yang terakhir ini bunuh diri setelah sempat menjadi tidak waras.

Salah seorang yang bertahan hidup adalah Howard Carter yang bersama-sama Lord Carnarvon memimpin ekspedisi. Dia baru meninggal tahun 1939 secara wajar.

Padahal orang yang sangat berjasa dalam menemukan makam "Raja Tut" itu sudah sejak tahun 1902 menggali di Lembah Raja-raja di selatan Kairo.

Dianggap masih terus makan korban

Begitupun masih saja beberapa kematian yang terjadi kemudian lagi-lagi dikait-kaitkan dengan kutukan para firaun.

Umpamanya saja tahun 1966, direktur dinas purbakala Mesir, Mohammed Ibraham, diminta pemerintahnya menyelenggarakan pameran harta peninggalan Tutankhamun di Paris. Dia menentang gagasan itu.

Dia bahkan bermimpi akan mengalami musibah kalau membiarkan harta firaun itu meninggalkan Mesir. Namun sia-sia saja dia meyakinkan pemerintahnya. Ketika dia meninggalkan rapat terakhir dengan para pejabat pemerintah di Kairo, Mohammed Ibraham, tertabrak mobil dan tewas.

Sebenarnya bukankah aneh bahwa dia yang kena tulah, bukan pejabat-pejabat pemerintah yang memaksanya mempertontonkan warisan Raja Tut di negara asing?

Tiga tahun kemudian, satu-satunya pengikut ekspedisi Tutankhamun yang masih bertahan dari kutukan firaun itu, Richard Adamson, yang saat itu sudah berumur 70 tahun diwawancarai televisi Inggris. Mantan pengawal Lord Carnarvon itu menyatakan kepada para pemirsa, “Saya tidak percaya sedikit pun perihal mitos kutukan itu.”

Namun begitu dia meninggalkan studio televisi, taksinya bertabrakan sampai tubuhnya terlempar keluar. Sebuah truk lewat beberapa sentimeter saja dari kepalanya, sehingga dia nyaris terlindas.

Orang-orang yang percaya pada kutukan firaun menunjukkan kepadanya bahwa ini untuk ketiga kalinya dia mengalami musibah besar setelah membuat pernyataan seperti itu.

Ketakutan pada kutukan para firaun hidup kembali tahun 1972 ketika topeng emas Tutankhamun dikemas di dalam peti di Kairo siap dikirimkan ke London untuk dipamerkan di British Museum. Orang yang bertugas mengurus pengiriman ini adalah pengganti Mohammed Ibraham, yaitu Dr. Gamal Mehrez. Dia tidak percaya pada kutukan firaun.

“Saya lebih banyak terlibat dengan makam dan mumi para firaun dibandingkan dengan siapa pun juga di dunia,” katanya. “Ternyata saya masih hidup. Semua tragedi yang berhubungan dengan para firaun cuma kebetulan. Saya sama sekali tidak percaya pada kutukan itu.”

Dr. Gamal Mehrez mengawasi dengan saksama pengangkutan benda yang sangat berharga itu dari Museum Kairo ke bandara. Malamnya dia meninggal akibat gangguan peredaran darah. Umurnya 52 tahun.

Orang-orang yang percaya pada kutukan firaun tidak henti-hentinya mengikuti nasib orang-orang yang pernah berhubungan dengan Tutankhamun. Kematian mereka dan nasib malang yang menimpa mereka selalu dikaitkan dengan kutukan.

Termasuk di antaranya, pilot pesawat Inggris yang mengangkut topeng Tutankhamun, Rick Laurie dan juru mesinnya, Ken Parkinson. Konon mereka adalah orang-orang yang sehat walafiat saat mengangkut topeng Tutankhamun.

Sebaliknya, setelah itu setiap tahun Parkinson menderita serangan jantung. Serangan terakhir tahun 1978 malah sampai merenggut nyawanya pada umur 45 tahun.

Kapten pilot Laurie bahkan sudah meninggal dua tahun sebelumnya karena serangan jantung. Umurnya baru 40 tahun.

Salah seorang awak lain, Ian Lansdowne, dalam penerbangan mengangkut peti berisi topeng itu secara bergurau menendang peti itu seraya berkata, “Aku menendang barang paling berharga di dunia.” Kakinya itu kemudian tertimpa tangga sehingga harus digips selama lima bulan.

Dalam perjalanan pulang ke Mesir, para awak pesawat bermain kartu bermejakan peti itu. Mereka juga bergantian duduk di atasnya sambil tertawa-tawa.

Ketika salah seorang di antara mereka menderita dua kali serangan jantung pada umur 39 tahun, hal ini pun langsung dikaitkan dengan kutukan para firaun.

Kuman atau radiasi?

Apakah kematian dan nasib malang yang menimpa orang-orang itu bisa dijelaskan dengan logis?

Adalah Phillip Vandenburg, seorang wartawan yang menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mendalami legenda perihal kutukan para firaun. Dia mengemukakan dua kemungkinan dalam bukunya The Curse of the Pharaohs.

Menurut Vandenburg, makam-makam di dalam piramida merupakan tempat yang sempurna untuk berkembang biaknya bakteri. Setelah berabad-abad, bukan mustahil bakteri di dalamnya berkembang menjadi sangat berbahaya.

Dia juga menunjukkan bahwa orang Mesir kuno sangat ahli mempergunakan racun. Ada racun yang mematikan tanpa harus diminum atau ditelan karena mampu menembus kulit.

Diketahui ada zat-zat beracun yang dipergunakan pada lukisan-lukisan di dalam makam, padahal makam kemudian ditutup sampai kedap udara. Karena itulah dahulu kala penjarah makam biasanya lebih dulu mengebor lubang kecil pada dinding kamar makam untuk memungkinkan udara segar beredar di dalamnya sebelum mereka membobolnya dan masuk.

Pada tahun 1949 Profesor Louis Bulgarini memberi alasan lain. Katanya, “Sangat mungkin orang-orang Mesir kuno mempergunakan radiasi atom untuk melindungi tempat-tempat suci mereka. Bisa saja mereka menutupi lantai makam dengan uranium. Atau makam diberi batu beradioaktif. Batu yang mengandung emas dan uranium sudah ditambang di Mesir 3.000 tahun lalu. Radiasi seperti itu bisa membunuh orang bahkan sampai hari ini.”

Begitulah riwayat kutukan Tutankhamun. Anda boleh percaya, tidak juga boleh.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.