SURYAMALANG.COM, BANYUWANGI - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Banyuwangi menghadirkan fasilitas keselamatan baru berupa panic button di puncak Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen.
Sarana penunjang keselamatan darurat bagi para pendaki ini memiliki desain unik yang menyerupai bilik telepon umum zaman dulu.
Fasilitas yang ditargetkan mulai aktif sepenuhnya pada Juli 2026 tersebut dirancang untuk mempercepat respons evakuasi petugas ketika terjadi kondisi kedaruratan di atas bibir kawah.
Di dalam bilik panic button tersebut, terdapat sebuah tombol darurat yang bisa dipencet oleh para pengunjung.
Fasilitas keselamatan ini juga turut dilengkapi dengan perangkat speaker dan kamera CCTV.
Baca juga: Terbukti Pengurus RW di Surabaya Tarik Pungutan Rp1,5 Juta ke Pendatang Tanpa Izin Lurah, Minta Maaf
Setelah tombol panic button ditekan, pengunjung yang berada di atas bibir kawah bisa langsung berkomunikasi dengan petugas jaga secara dua arah.
Melalui CCTV yang terpasang, petugas di pos bawah juga dapat melihat langsung wajah pendaki yang sedang berkomunikasi.
Keunggulan utama dari alat ini adalah sistem transmisinya yang tidak bergantung pada operator lokal.
"Panic button ini aktif menghubung dengan satelit. Jadi, ada atau tidak ada sinyal selular, tetap bisa dipakai," kata Kepala Seksi V BKSDA Banyuwangi Dwi Sugiarto, Senin (7/7/2025) sore sekitar pukul 17.00 WIB.
Harapannya, keberadaan fasilitas baru ini akan mempercepat respons petugas ketika terjadi kondisi darurat di lapangan.
Pihak pengelola menyadari tidak semua pengunjung TWA Kawah Ijen mencatat nomor darurat pos jaga yang bisa dihubungi ketika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.
Dengan memencet tombol panic button, pengunjung bisa langsung meminta bantuan medis atau evakuasi saat memerlukannya.
Baca juga: Petani di Tuban Terbang Pakai Drone, Gegara Akses Menuju Persawahan Sulit Dijangkau
Petugas pun bisa dengan cepat merespons, sehingga hal-hal buruk akibat keterlambatan penanganan dapat diantisipasi sedini mungkin.
Selain menerima laporan, bilik ini juga memiliki fungsi interaktif sebaliknya.
"Selain untuk meminta bantuan, sarana ini juga bisa dipakai untuk memberi pengumuman dari pos jaga di Paltuding ke pengunjung yang ada di bibir kawah," tambah Dwi.
Dwi menyebutkan, saat ini fisik panic button telah terpasang di salah satu titik bibir TWA Kawah Ijen.
Akan tetapi untuk sementara fasilitas tersebut belum bisa dipergunakan secara luas oleh publik sebab masih dalam tahap penyempurnaan teknis.
"Kami masih proses finalisasi. Harapannya bulan ini sudah bisa dipakai," katanya.
Baca juga: 2 Pimpinan BGN Rangkap Jabatan di Pertamina Dilaporkan ICW, Mahfud MD: Dilarang MK Malah Ditambah
Di sisi lain, pihak BKSDA menyadari keberadaan alat publik di area terbuka seperti ini memiliki risiko tinggi untuk disalahgunakan oleh oknum pendaki yang iseng.
Maka dari itu, keberadaan kamera CCTV dan speaker sebagai sarana komunikasi dua arah menjadi sangat krusial.
Dengan adanya komunikasi dua arah serta kemampuan petugas melihat wajah pelapor secara langsung, risiko tindakan iseng atau laporan palsu semacam itu diharapkan bisa diminimalisir dengan efektif.