BANJARMASINPOST.CO.ID, PARINGIN- Di tengah duka mendalam setelah ditinggalkan anak lak-lakinya, Fahnur, ayah dari Syarif Fadilah, relawan Damkar di Desa Kupang, Kecamatan Lampihong, Kabupaten Balangan Kalimantan Selatan nampak tegar usai sehari memakamkan sang anak.
Syarif Fadilah merupakan anak kedua dari Fahnur yang gugur saat menjalankan bantuan kemanusiaan untuk memadamkan kebakaran yang terjadi di wilayah Hulu Sungai Utara pada Senin (6/7/2026) siang.
Ia menjadi korban dalam kecelakaan lalu lintas di Desa Tampang, Kecamatan Lampihong, saat menuju ke lokasi kebakaran.
Nyawanya tak selamat dalam kecelakaan tersebut, sementara temannya yang berada pada mobil yang sama mengalami luka berat hingga patah tulang.
Meski menyatakan ikhlas dunia akhirat, Fahnur tak kuasa menahan air matanya saat tahu sang anak telah tiada. Ia menangis ketika melihat tubuh sang anak yang sudah tak bernyawa di RSUD Datu Kandang Haji Balangan.
Baca juga: Sosok Dewi Petugas Kebersihan Banjarmasin Korban Tabrak Lari, Berhasil Sekolahkan Anak Hingga ke UI
Baca juga: Sosok Anggota Pemadam yang Meninggal di Kebakaran Panangkalaan HSU, Dikenal Aktif di BPK
"Ini sudah takdir Allah SWT, ulun terima dunia akhirat, Anak ulun gugur saat handak membantu orang," ungkap Fahnur saat ditemui di rumahnya, Selasa (7/7/2026).
Syarif dikenal sebagai anak yang memang suka membantu orang lain, bahkan sudah lama bergabung sebagai relawan kebakaran, mengikuti jejak kakak laki-lakinya.
Di usianya yang masih muda, bahkan baru kelas tiga SMA, Syarif menjadi remaja yang bisa diandalkan untuk membantu sesama, termasuk untuk keluarga.
Syarif juga dikenal sebagai anak yang menurut dengan orangtua, dan bercita-cita ingin membahagiakan kedua orangtuanya.
Ibu Syarif mengetahui kondisi sang anak saat sudah di rumah sakit, dan langsung memeluk tubuh anaknya yang terbaring di ranjang UGD.
Setelah selesai urusan di rumah sakit, dan memastikan kondisi Syarif, jenazahnya dibawa ke rumah duka di Desa Tampang, kemudian dikebumikan pada hari yang sama, saat sore hari.
Banyak orang yang berkunjung dan mengutarakan duka cita. Banyak yang merasa kehilangan, baik itu para keluarga, relawan Damkar hingga rekan satu sekolahnya dan para guru.
Fahnur juga menceritakan firasat sebelum sang anak tiada. Dimana beberapa hari sebelumnya, Syarif yang menjalani masa magang dan biasa menyembunyikan status WhatsApp dari keluarga, hari itu membuka pengaturan privasinya.
Sang ibu melihat status WhatsApp Syarif dengan foto mengenakan rompi kerja, dan saat itu, sang ibu pun merasa bangga, namun juga bertanya-tanya dengan tulisan yang menjadi caption pada foto tersebut.
"Di status WhatsApp itu dia menulis bisakah saya membahagiakan kedua orangtua saya. Setelah melihat tulisan itu, mamanya bertanya kenapa dengan Syarif, tidak seperti biasanya," cerita Fahnur.
Kemudian, di hari kepergian Syarif, almarhum ungkap Fahnur juga tidak seperti biasanya, dengan memberikan senyuman yang berbeda kepada ibunya saat pergi. Sang ibu pun berkata kalau saat itu Syarif terlihat tampan.
"Sebelum pergi itu dia senyum kepada mamanya, kata mamanya, bungasnya Syarif, ternyata itu senyum terakhirnya," kata Fahnur.
Jasad Syarif kini telah disemayamkan di alkah keluagra tepat di belakang rumahnya. Selama tiga hari usai pemakaman, ada warga yang bergantian membacakan Al Quran di sisi makam.
Meninggalnya sang anak, membuat Fahnur ingin hal tersebut menjadi pembelajaran untuk para relawan, khususnya di Balangan. Ia bahkan menyampaikan pesan kepada ketua Damkar yang membina anaknya agar ke depannya lebih mengutamakan keselamatan diri sendiri, kemudian menyelamatkan orang lain.
Selain itu Fahnur juga berpesan agar relawan Damkar menjalankan tugas sesuai SOP, tanpa menyalahi aturan yang ada dan tidak membiarkan orang yang bukan dibidangnya menggantikan petugas yang semestinya.
(banjarmasinpost.co.id/isti rohayanti)