Kolaborasi RI-India Revitalisasi Candi Prambanan, Dispar DIY Optimis Tingkatkan Kunjungan Wisata
Hari Susmayanti July 08, 2026 10:04 AM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemerintah India secara resmi menyatakan komitmennya untuk ikut campur tangan dalam proyek mahabesar merevitalisasi ratusan candi perwara di kompleks situs warisan dunia, Candi Prambanan. Menghadapi intervensi fisik berskala internasional yang berpotensi mengubah wajah kunjungan wisata ini, Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah menyiapkan skenario matang agar perputaran ekonomi dan kenyamanan pelancong tidak terganggu.

Kepala Dinas Pariwisata DIY, Imam Pratanadi, memandang proyek lintas negara ini sebagai momentum emas bagi keberlanjutan pariwisata (heritage tourism) di Yogyakarta. 

Meski menyambut baik rencana tersebut, Imam memberikan garis bawah yang tegas yakni pemugaran tidak boleh melenceng dari standar pelestarian cagar budaya dunia.

"Bantuan dari Pemerintah India merupakan bentuk kerja sama internasional yang sangat bernilai karena India memiliki pengalaman panjang dalam konservasi cagar budaya. Namun, prinsip utama yang kami pegang adalah bahwa setiap upaya pemugaran harus tetap berada dalam koridor kaidah pelestarian, mengikuti rekomendasi para ahli, serta mengacu pada ketentuan nasional dan standar UNESCO. Pelestarian Candi Prambanan bukan hanya menjaga bangunannya, tetapi juga menjaga nilai sejarah, budaya, dan daya tarik pariwisata untuk generasi mendatang," tegas Imam, Rabu (8/7/2026).

Rencana pemugaran ini bukan sekadar wacana baru. Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengungkap bahwa Perdana Menteri (PM) India, Narendra Modi, telah menaruh minat mendalam pada Candi Prambanan sejak satu setengah tahun yang lalu. Pada Rabu (8/7/2026), PM Modi bahkan dijadwalkan terjun langsung meninjau mahakarya arsitektur berusia lebih dari seribu tahun tersebut.

Fokus revitalisasi dari Pemerintah India tidak menyentuh tiga candi utama yang sudah selesai dipugar, melainkan menyasar ratusan candi-candi kecil atau candi perwara di area kompleks yang selama ini belum terbangun utuh.

Sebagai catatan, dari total sekitar 200 candi perwara yang mengelilingi candi utama, Pemerintah Indonesia baru berhasil merevitalisasi enam di antaranya.

"Mereka (Pemerintah India) sangat tertarik karena ini merupakan salah satu candi Hindu terbesar ya yang ada, dengan tiga candi utama dan dua ratusan perwara," ungkap Fadli di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, sehari sebelumnya.

Baca juga: Perdana Menteri India Hendak Kunjungi Candi Prambanan, 2.690 Personel Gabungan Disiagakan

Pengerjaan fisik skala masif pada lebih dari 190 sisa candi perwara tentu akan memakan waktu dan berpotensi memunculkan area-area tertutup di dalam kompleks Prambanan. 

Hal ini memunculkan kekhawatiran terkait menurunnya kenyamanan wisatawan domestik maupun mancanegara yang berwisata.

Menyikapi hal ini, Dispar DIY tidak menampik kemungkinan adanya imbas di sektor pariwisata pada fase awal pengerjaan. Namun, Imam optimistis efek kejut tersebut dapat diredam dengan strategi pengalihan arus dan manajemen kawasan.

"Dalam jangka pendek, apabila terdapat pembatasan akses pada area tertentu selama proses pekerjaan, kemungkinan akan ada penyesuaian pola kunjungan. Namun kami optimistis dampaknya dapat diminimalkan melalui pengaturan alur wisata, penyediaan informasi yang baik, serta promosi destinasi alternatif di DIY. Dalam jangka panjang, keberhasilan konservasi justru akan memperkuat citra Prambanan sebagai destinasi warisan budaya dunia yang terawat sehingga meningkatkan daya tarik wisata," urainya.

Lebih lanjut, Imam memastikan pihaknya telah memikirkan langkah teknis mitigasi bersama pihak pengelola kawasan. Hal ini bertujuan agar wisatawan yang jauh-jauh datang ke Yogyakarta tidak pulang dengan kekecewaan akibat terganggu proyek.

"Kami memahami potensi tersebut. Oleh karena itu, diharapkan pengelola kawasan bersama instansi terkait akan mengatur tahapan pekerjaan agar tidak mengganggu pengalaman wisata secara signifikan. Antisipasi yang dilakukan antara lain pengaturan jalur kunjungan, pemasangan informasi yang jelas, peningkatan kualitas pelayanan wisata, serta promosi destinasi lain di sekitar kawasan seperti Ratu Boko, Candi Plaosan, dan desa-desa wisata di sekitarnya sehingga wisatawan tetap memperoleh pengalaman yang optimal," papar Imam.

Magnet Baru Promosi Wisata Global

Di balik tantangan tersebut, Dispar DIY justru melihat proyek pengerjaan candi oleh India ini sebagai bahan bakar promosi gratis yang luar biasa di mata dunia internasional.

"Ya. Kolaborasi internasional seperti ini memperkuat kepercayaan dunia terhadap komitmen Indonesia dalam melestarikan warisan budaya. Hal tersebut dapat menjadi nilai tambah dalam promosi pariwisata, terutama untuk menarik wisatawan mancanegara yang memiliki minat pada budaya dan heritage tourism. Selain itu, kerja sama ini juga membuka peluang pertukaran pengetahuan, penelitian, dan promosi bersama," kata Imam.

Tidak hanya sebatas menghitung laba dari tiket masuk wisata, pelibatan negara asing dalam pelestarian ini diyakini akan memberikan multiplier effect (efek ganda) yang menyentuh akar kehidupan masyarakat Yogyakarta.

"Manfaatnya tidak hanya pada sektor pariwisata, tetapi juga pelestarian budaya, peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang konservasi, penguatan kerja sama internasional, serta keberlanjutan ekonomi masyarakat sekitar. Cagar budaya yang terawat akan memberikan manfaat sosial, edukatif, dan ekonomi dalam jangka panjang," tambahnya mengakhiri rincian dampak proyek tersebut.

Mengenai kepastian kapan alat berat dan tim ahli konservasi akan mulai bekerja di lapangan, Dispar DIY menyatakan masih menunggu garis komando dari pemerintah pusat.

"Untuk jadwal pelaksanaan fisik, kami belum mendapatkan informasi," pungkas Imam. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.