Vape Tidak Lebih Aman dari Rokok! Dokter Ingatkan Bahaya Radang Paru hingga Asma Pada Anak 
Anita K Wardhani July 08, 2026 10:38 AM

Banyak orang tua beranggapan rokok elektronik atau vape lebih aman dibandingkan rokok konvensional karena asapnya tidak terlalu pekat dan aromanya tidak menyengat.

Padahal, anggapan tersebut tidak benar.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Respirologi sekaligus Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Cynthia Centauri, Sp.A., Subsp.Respi.(K), menegaskan bahwa vape tetap menghasilkan polutan yang dapat merusak saluran pernapasan anak.

Bahkan, paparan vape dapat meningkatkan risiko infeksi saluran napas, memicu asma, hingga menyebabkan radang paru.

Vape Tetap Menghasilkan Zat Berbahaya

Menurut dr. Cynthia, hingga kini masih banyak masyarakat yang menganggap vape sebagai pilihan yang lebih aman dibandingkan rokok biasa.

Padahal, keduanya sama-sama menghasilkan zat yang dapat mengiritasi saluran napas.

"Nah, ternyata kalau saat ini mungkin di gambar-gambarnya, vape lebih aman dari perokok biasa, salah sekali, ya, ternyata sama, dua-duanya sama-sama merusak," ujarnya dalam media briefing virtual, Selasa (7/7/2026).

Ia menjelaskan, asap vape tetap mengandung nikotin serta berbagai zat kimia yang dapat memicu peradangan pada saluran pernapasan.

Meski kandungan logam berat pada vape tidak sebanyak rokok konvensional, kadar nikotinnya justru dapat sangat tinggi.

Selain itu, proses pemanasan cairan vape juga menghasilkan berbagai senyawa yang berpotensi membahayakan kesehatan paru.

Anak Tak Perlu Mengisap Langsung  Tetap Terpapar

Menurut dr. Cynthia, bahaya vape tidak hanya dialami oleh orang yang menggunakannya.

Akibatnya, anak tetap terpapar meski tidak berada tepat di samping orang yang sedang mengisap vape.

Menurutnya, kondisi tersebut dikenal sebagai third-hand smoke atau paparan asap tangan ketiga.

Paparan ini sering kali tidak disadari karena tidak terlihat oleh mata.

Risiko Gangguan Pernapasan Meningkat

ILUSTRASI SESAK NAPAS - BAGI jutaan orang, aktivitas sederhana seperti berjalan kaki atau naik tangga bisa menjadi perjuangan berat akibat sesak napas yang membatasi ruang gerak mereka.
ILUSTRASI SESAK NAPAS - BAGI jutaan orang, aktivitas sederhana seperti berjalan kaki atau naik tangga bisa menjadi perjuangan berat akibat sesak napas yang membatasi ruang gerak mereka. (dok. Nakita/Ipoel)

Dr. Cynthia mengatakan paparan asap rokok maupun vape dapat mengganggu mekanisme pertahanan alami saluran napas.

Rambut-rambut halus pada saluran napas yang berfungsi menyaring kotoran menjadi rusak sehingga virus dan bakteri lebih mudah menyebabkan infeksi.

Selain itu, produksi lendir meningkat sehingga saluran napas menjadi lebih mudah mengalami penyumbatan.

Anak yang terus-menerus terpapar juga lebih berisiko mengalami batuk berulang, asma, bronkitis, hingga pneumonia.

Efek Jangka Panjang Vape Masih Terus Diteliti

Menurut dr. Cynthia, rokok konvensional sudah lama diketahui meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis karena telah diteliti selama puluhan tahun.

Sementara itu, vape masih tergolong produk yang lebih baru sehingga dampak jangka panjangnya masih terus dipelajari.

Meski demikian, bukan berarti vape aman digunakan.

"Tapi kalau vape, karena masih baru beredar, kita belum tahu apakah nanti di kemudian hari juga akan menunjukkan serupa, bisa saja, ya, bukan berarti lebih aman," katanya.

Karena itu, ia mengimbau orang tua tidak menggunakan rokok maupun vape di sekitar anak demi melindungi kesehatan paru mereka sejak dini.

Menurut dr. Cynthia, mengurangi paparan asap rokok dan vape merupakan salah satu langkah penting untuk mencegah gangguan pernapasan yang dapat berdampak hingga anak dewasa.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.