Ada kalanya manusia perlu berjalan lebih lambat, berhenti, beristirahat, atau memilih jalan berbeda
Jakarta (ANTARA) - Sebuah kalimat sederhana terkadang mampu membuat seseorang bangkit dari keterpurukan, kembali bekerja setelah mengalami kegagalan, atau menemukan keberanian untuk mengambil keputusan yang selama ini tertunda.
Maka dari itu, motivator sebenarnya tidak terbatas pada profesi tertentu. Orang tua dapat menjadi motivator bagi anak-anaknya. Guru memainkan peran serupa bagi siswa di sekolah. Teman, pemimpin, dan orang-orang terdekat juga dapat membangkitkan semangat seseorang melalui percakapan sehari-hari.
Tujuan motivasi pada dasarnya baik karena dari situ semangat dibangkitkan, pola pikir diperluas, lalu seseorang didorong mengambil tindakan untuk mencapai tujuan, keinginan, atau harapan. Narasi yang disampaikan biasanya juga bersifat universal dari yang menjadi positif, tekun, rajin, rendah hati, berkualitas, bermanfaat, sampai hidup bahagia.
Masalah terjadi ketika kehidupan yang kompleks diringkas menjadi kalimat-kalimat yang terlalu sederhana.
Sebab ada narasi yang terdengar sangat positif, tetapi justru tanpa disadari diam-diam berpotensi menyesatkan jika tidak diterangkan secara lebih luas dan bijaksana.
Persoalan semakin rumit ketika kalimat bombastis sengaja dipilih untuk mendapatkan perhatian lebih besar dengan menawarkan bayangan hasil yang fantastis.
Salah satu ungkapan yang sangat populer adalah “kalau orang lain bisa, pasti bisa”.
Orang lain tentu dapat menjadi teladan. Kemampuan, kebiasaan, dan perjalanan hidup seseorang dapat menjadi sumber pembelajaran. Namun, tidak semua manusia berdiri pada titik awal yang sama.
Bakat, kesehatan, usia, sumber daya, lingkungan, kesempatan, situasi, dan kondisi setiap orang berbeda. Kompetensi tertentu juga tidak otomatis dimiliki semua manusia.
Ada orang yang memperoleh kesempatan pada waktu yang tepat. Ada yang harus menunggu jauh lebih lama. Sebagian memiliki dukungan kuat, sedangkan lainnya menjalani perjalanan dengan sumber daya sangat terbatas.
Kalimat yang lebih masuk akal adalah bahwa keberhasilan orang lain membuka kemungkinan bahwa seseorang juga dapat mencapai sesuatu, bahkan mungkin melampauinya.
Potensi terbaik
Setiap pribadi mempunyai kelebihan dan kekurangan. Tugas terpenting adalah berjuang dan menampilkan potensi terbaik. Tetapi perjuangan tidak menjamin hasil yang sama bagi semua orang.
Hal serupa berlaku pada ungkapan “semua orang bisa kaya”. Kekayaan berupa uang dan harta tidak lahir dari satu faktor. Kesempatan, pertemuan dengan orang yang tepat, waktu, kesehatan, sumber daya, lingkungan, persaingan, dukungan keluarga, hingga kondisi ekonomi dan politik nasional ikut mempengaruhi perjalanan seseorang.
Perubahan teknologi, pasar, dan permintaan juga dapat menentukan nasib sebuah usaha. Bisnis yang tumbuh pada satu masa mungkin kehilangan pasar beberapa tahun kemudian. Sebaliknya, perubahan teknologi dapat membuka kesempatan ekonomi yang sebelumnya tidak pernah tersedia.
Banyak orang dapat diarahkan dan dilatih untuk meningkatkan kondisi ekonominya. Namun, peningkatan kesejahteraan tidak serta-merta berarti seluruh manusia akan menjadi kaya dan memiliki harta berlimpah.
Mungkin persoalannya terletak pada tujuan yang sejak awal dibuat terlalu sempit. Kehidupan ekonomi seolah hanya memiliki satu puncak bernama kaya. Padahal, kondisi ekonomi yang membaik, kehidupan yang lebih layak, dan kesejahteraan yang meningkat merupakan pencapaian penting.
Setiap orang memiliki kesempatan untuk meningkatkan kondisi ekonominya, tetapi tingkat pencapaiannya dapat berbeda. Narasi lain yang sering terdengar adalah “orang menjadi miskin karena pola pikirnya”.
Kalimat tersebut tampak sederhana, tetapi membawa konsekuensi yang tidak ringan. Pola pikir manusia sangat kompleks. Kondisi dan kemampuan otak seseorang dapat berbeda dengan manusia lainnya. Ada orang yang lahir dengan keterbatasan tertentu.
Pengalaman masa lalu, pendidikan, lingkungan, dan kejadian yang sedang dialami turut membentuk cara seseorang memandang kehidupan.
Menyebut kemiskinan semata-mata sebagai akibat pola pikir berisiko mengabaikan berbagai keadaan tersebut. Lebih jauh, orang miskin dapat dianggap sebagai penyebab tunggal atas kondisi ekonominya sendiri.
Pola pikir positif dan berkembang tetap penting. Cara berpikir mempengaruhi keputusan, tindakan, dan kemungkinan hasil. Namun, pola pikir bukan satu-satunya penentu keadaan ekonomi seseorang.
Oleh karena itu, ajakan membangun pikiran positif semestinya disertai pemahaman tentang kompleksitas kehidupan. Hidup dapat dijalani secara maksimal tanpa harus terus-menerus merasa gagal karena belum mencapai standar keberhasilan orang lain.
Kehidupan bukan mesin
Ada pula ungkapan bahwa jika seseorang sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, semesta akan mewujudkannya.
Keinginan yang kuat memang dapat membuat tindakan lebih terarah. Tujuan yang jelas membantu seseorang menjaga fokus dan kegigihan. Namun, kesungguhan menginginkan sesuatu juga dapat berubah menjadi nafsu membabi buta.
Jika semesta dimaknai sebagai Tuhan, persoalannya menjadi lebih dalam. Dalam keyakinan keagamaan, manusia memiliki keinginan, tetapi Tuhan memiliki pengetahuan dan rancangan yang melampaui pemahaman manusia. Tidak setiap keinginan pribadi merupakan pilihan terbaik.
Kehidupan bukan mesin otomatis yang bekerja berdasarkan kekuatan keinginan. Keinginan dapat ditumbuhkan menjadi kerinduan yang lebih jernih. Tujuan dan hati dibersihkan.
Kepercayaan terhadap kebaikan dibangun. Dari sana muncul keselarasan antara niat, tindakan, dan penerimaan terhadap hasil yang mungkin berbeda dari rencana semula.
Ungkapan “tidak ada yang tidak mungkin” juga membutuhkan konteks. Jika ditujukan kepada Tuhan sesuai dengan konsep banyak agama, kalimat tersebut dapat dipahami. Namun, manusia tetap merupakan makhluk dengan keterbatasan.
Sejarah memang menunjukkan banyak hal yang dahulu dianggap mustahil akhirnya dapat dicapai. Ilmu pengetahuan berkembang. Teknologi berubah. Kemampuan manusia terus diperluas.
Namun, mengakui adanya batas bukan berarti kehilangan keberanian. Manusia dapat terus mencoba berbagai kemungkinan sambil tetap menyadari keterbatasannya.
Kalimat “kegagalan hanyalah batu loncatan menuju sukses” juga tidak selalu berjalan sesuai kenyataan. Kegagalan jelas dapat memberikan pelajaran berharga, tetapi tidak seluruh kegagalan berakhir pada keberhasilan seperti yang diharapkan.
Kegagalan dapat menjadi sumber pembelajaran. Dari sana, kesempatan menuju keberhasilan mungkin tetap terbuka. Nilai terpentingnya terletak pada kemampuan mengambil pelajaran dan terus memperbaiki kualitas diri.
Pandangan serupa diperlukan ketika mendengar anjuran untuk hanya bergaul di lingkungan positif. Lingkungan yang mendukung pertumbuhan memang memberikan banyak manfaat. Teladan dan kebiasaan baik dapat mempengaruhi kehidupan seseorang.
Namun, pembagian lingkungan menjadi positif dan negatif secara kaku dapat mendorong kebiasaan menghakimi.
Di lingkungan yang dianggap positif terdapat teladan. Di lingkungan yang dinilai negatif dapat ditemukan pelajaran dan tantangan. Kewaspadaan, kekuatan mental, dan kemampuan menjaga diri tentu diperlukan.
Namun, empati kepada orang yang sedang mengalami kesulitan tidak seharusnya hilang hanya karena orang tersebut tampak negatif. Setiap manusia mungkin membawa pelajaran.
Ungkapan “kalau gagal berarti kurang berusaha” juga mengabaikan kenyataan bahwa kemampuan berusaha dipengaruhi banyak keadaan. Kondisi fisik, mental, pikiran, lingkungan, dan sumber daya menentukan seberapa jauh seseorang mampu bergerak.
Proses dan usaha sangat penting. Namun, hasil tidak selalu sebanding dengan usaha. Kegagalan bahkan dapat menjadi proses yang membentuk kualitas diri. Pelajaran yang diperoleh mungkin tidak menghasilkan keberhasilan seperti rencana awal, tetapi dapat mengubah cara seseorang menjalani kehidupan berikutnya.
Pola serupa
Begitu pula nasihat untuk terus melangkah, tidak lelah, dan tidak menyerah karena keberhasilan mungkin tinggal sebentar lagi. Ketekunan dan keuletan merupakan perilaku yang bernilai. Namun, tujuan hidup tidak selalu harus dipertahankan tanpa perubahan.
Ada saat ketika strategi perlu diganti. Usaha yang terus merugi mungkin harus ditutup. Karier dapat berubah. Sebuah perjalanan terkadang perlu dihentikan.
Berhenti tidak selalu identik dengan kegagalan. Mengubah arah juga tidak selalu berarti menyerah. Keputusan semacam itu dapat lahir dari kepekaan, refleksi, dan keberanian untuk jujur terhadap keadaan.
Kebijaksanaan justru terletak pada kemampuan mengetahui kapan harus melanjutkan, kapan berhenti, dan kapan mengubah arah.
Narasi bahwa semua hasil adalah cerminan diri membawa persoalan yang tidak kalah besar. Manusia tentu memiliki peran dan tanggung jawab terhadap keputusan serta tindakannya. Namun, banyak hal berada di luar kendali pribadi.
Situasi, lingkungan, tindakan orang lain, kondisi masyarakat, pengalaman masa lalu, dan sejarah turut membentuk kehidupan.
Jika seluruh hasil dianggap sebagai cerminan diri, orang miskin dapat dianggap menciptakan kemiskinannya sendiri. Orang sakit dinilai menarik penyakitnya. Korban musibah seolah bertanggung jawab atas musibah yang menimpanya.
Pandangan seperti itu mudah kehilangan empati. Pilihan yang lebih masuk akal adalah berusaha menjadi pribadi terbaik dan menampilkan potensi secara maksimal. Proses perlu diperjuangkan, sedangkan hasil diterima dengan rasa syukur dan keikhlasan.
Hal yang sama berlaku pada keyakinan bahwa pikiran positif pasti mendatangkan hasil positif. Hubungan antara cara berpikir dan hasil memang ada, tetapi hubungan tersebut bukan kepastian.
Berpikir positif dapat meningkatkan peluang seseorang menjalani hidup secara lebih baik. Namun, pikiran tidak mengendalikan tindakan seluruh manusia atau setiap kejadian di dunia.
Sebaik apa pun pikiran seseorang, tetap mungkin ada orang yang memperlakukannya dengan buruk. Keadaan dapat berubah tanpa diminta. Rencana dapat gagal karena faktor yang sama sekali tidak pernah diperhitungkan.
Yang dapat dijaga adalah pikiran dan tindakan pribadi. Hasil tertentu tidak pernah sepenuhnya dapat dijamin.
Berbagai narasi motivasi yang berpotensi menyesatkan umumnya memiliki pola serupa. Kendali individu dilebih-lebihkan. Keinginan pribadi ditempatkan sebagai pusat kehidupan. Kompleksitas diabaikan. Satu faktor seperti pola pikir atau keyakinan dianggap mampu menentukan segalanya.
Lalu muncul kata-kata pasti seperti pasti sukses, pasti kaya, pasti berhasil. Uang, kelimpahan harta, dan kesuksesan akhirnya ditempatkan sebagai ukuran tertinggi pencapaian manusia.
Motivasi seharusnya tidak menjual kepastian yang tidak dapat diberikan kehidupan. Kata-kata penyemangat tetap diperlukan, tetapi perlu disampaikan dengan empati dan kebijaksanaan.
Motivasi yang sehat bukan sekadar membuat seseorang terus berlari. Ada kalanya manusia perlu berjalan lebih lambat, berhenti, beristirahat, atau memilih jalan berbeda.
Memperbaiki kualitas pribadi jauh lebih penting daripada terus mengejar hasil fantastis yang dijanjikan sebuah kalimat.
Sebab kehidupan yang baik tidak selalu ditandai oleh kekayaan berlimpah atau keberhasilan yang terlihat dari luar. Ketenangan, kedamaian, kualitas diri, kemampuan memberi manfaat, dan kebahagiaan juga memiliki nilai.
Dari situlah motivasi bisa berlaku secara manusiawi yakni untuk membangkitkan keberanian dalam berusaha tanpa menciptakan kesombongan bahwa seluruh hasil dapat dikendalikan.
Harapan tetap dijaga. Usaha tetap dilakukan. Kualitas diri terus diperbaiki. Sementara hasil, dengan segala kemungkinan dan misterinya, diterima sebagai bagian dari kehidupan.
*) A Roni Kurniawan adalah praktisi pendidikan, trainer/educator di Yamjaya, dan pengembang Metode Edukasi Praktis berbasis Psikologi pada Rumah Belajar Bersama (Rbebe).





