Viral Injak Kepala Kerbau, Jokowi: Itu Adat, Jangan Dipolitisasi
Darwin Sijabat July 08, 2026 11:11 AM

 

TRIBUNJAMBI.COM -  Presiden ke-7 RI, Joko Widodo atau Jokowi, akhirnya buka suara demi meredam polemik panas di jagat digital terkait aksinya menginjak kepala kerbau saat menerima gelar kehormatan adat di Lampung, Sabtu (27/6/2026). 

Narasi yang beredar liar di media sosial sempat mengaitkan ritual tersebut sebagai simbolisasi politik untuk 'menginjak kepala banteng', logo Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang pernah menaunginya.

Ditemui langsung di kediamannya di Solo, Jawa Tengah, pada Selasa (7/7/2026), Jokowi dengan tegas menepis spekulasi miring tersebut. 

Ia menyatakan kehadirannya di Istana Kedatun Keagungan semata-mata demi menghormati warisan budaya luhur.

Ayah dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ini menyayangkan sikap sebagian pihak yang hobi mengaitkan segala hal dengan tensi politik praktis, padahal ritual di Lampung tersebut murni urusan adat istiadat lokal.

"Itu kan bentuk penghormatan dari masyarakat adat di Lampung, bentuk penghormatan dari Istana Kedatuan dan saya merasa terhormat diberikan penghargaan," ujar Jokowi meluruskan substansi acara.

Jokowi mengingatkan bahwa kekayaan kultural Nusantara yang majemuk harus dijaga kesuciannya dari kepentingan kubu-kubuan. 

Publik diimbau untuk lebih dewasa dalam memandang kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.

Baca juga: Analis Beberkan Misi Safari Jokowi: Demi Selamatkan Gibran dan Kaesang

Baca juga: Sandingi Modi, Prabowo: Demokrasi Memang Rumit Tapi Sistem Terbaik

"Jangan semua hal ditarik ke ranah politik, sering gak sambung. Terus menghargai adat istiadat, terus menghargai kearifan lokal, terus menghargai kebudayaan, budaya kita karena ya budaya kita ini sangat beragam sekali," tegasnya menyerukan persatuan.

Sambil Terkekeh, Sebut Ritual Sudah Berlangsung Ratusan Kali

Jokowi pun menganggap tuduhan yang mengaitkan kepala kerbau dengan simbol banteng moncong putih sebagai hal yang mengada-ada dan tidak relevan dengan sejarah kebudayaan di Lampung. 

Sambil terkekeh santai, ia meluruskan fakta sejarah ritual tersebut di hadapan para wartawan.

"Hehehe itu ritual adat, sekali lagi itu ritual adat yang sudah tidak sekali dua kali, udah ratusan kali dilakukan," seloroh Jokowi santai.

Melalui klarifikasi resmi ini, Jokowi berharap masyarakat tidak lagi terprovokasi oleh tafsir-tafsir liar di media sosial. 

Ia menegaskan, ritual injak kepala kerbau harus dipandang secara jernih sebagai khazanah dan kekayaan budaya Nusantara yang wajib dihormati bersama, bukan justru dipolitisasi sebagai simbol perendahan politik.

PDIP Soroti Prosesi Injak Kepala Kerbau

Ketua DPP PDI Perjuangan Guntur Romli menjadi salah satu pihak yang memberikan tanggapan terhadap momen tersebut.

Guntur mengatakan dirinya tidak mengetahui secara pasti maksud dari prosesi adat tersebut. Namun, ia menilai hewan yang digunakan dalam ritual adat seharusnya tetap mendapat perlakuan yang dihormati.

"Saya juga tidak tahu kalau maksudnya seperti itu, tapi biasanya kalau hewan yang dikurbankan itu dihormati loh, mau dengan acara adat sekalipun, bukan diinjak seperti itu," ujar Guntur.

Baca juga: Pengamat Ungkap Isu Ijazah Palsu Jokowi Berisiko Jadi Bumerang bagi PDIP

Baca juga: Jawaban Kaesang Usai Kader PSI Desak Lantik Jokowi Jadi Ketua Dewan Pembina

Ia juga membandingkan dengan sejumlah tradisi lain yang memperlakukan hewan kurban dengan penghormatan tertentu.

Menurut Guntur, tindakan meletakkan kaki di atas kepala kerbau dapat menimbulkan persepsi berbeda di masyarakat.

"Sikap Jokowi yang menginjak kakinya di atas kepala kerbau/sapi itu bentuk kesombongan, tapi biarkan rakyat yang menilai," katanya.

Meski demikian, Guntur menegaskan bahwa kerbau tidak memiliki kaitan dengan simbol PDI Perjuangan. Menurutnya, lambang partainya adalah banteng, bukan kerbau maupun sapi.

"Lagi pula logo PDI Perjuangan itu banteng, bukan kerbau, bukan sapi. Banteng itu satwa yang dilindungi yang tidak mungkin dijadikan kurban atau tumbal," tegasnya.

PDIP: Jokowi Masa Lalu Partai

Berbeda dengan Guntur, Ketua DPP PDI Perjuangan Komarudin Watubun mengaku tidak mempermasalahkan prosesi adat yang dilakukan Jokowi tersebut.

Menurut Komarudin, PDIP tidak perlu memberikan respons lebih jauh karena hewan yang diinjak bukanlah banteng yang menjadi simbol partainya.

"Karena bukan banteng. Kecuali yang diinjak kepala banteng, pasti kita berurusan," ujar Komarudin.

Ia juga menilai Jokowi kini bukan lagi bagian dari PDI Perjuangan sehingga aktivitas politik maupun sosial Jokowi tidak perlu selalu dikaitkan dengan partai.

"Tapi bagi saya, Jokowi itu masa lalu PDI Perjuangan. Jadi apa pun aktivitas beliau, saya tidak mau menanggapi karena bukan lagi bagian dari partai kan," jelasnya.

PSI Sebut Bagian dari Prosesi Adat

Sementara itu, PSI memberikan penjelasan berbeda mengenai viralnya foto Jokowi tersebut.

Ketua DPP PSI Bestari Barus menyebut prosesi meletakkan kaki di kepala kerbau merupakan bagian dari adat budaya Lampung yang dilakukan saat Jokowi menerima gelar kehormatan.

"Kenapa posisinya seperti itu? Itu kan adat budaya kita gitu, bagian daripada adat budaya. Dan enggak mungkin Pak Jokowi kemudian melakukan hal-hal yang di luar daripada adat budaya tersebut," ujar Bestari.

Menurut dia, tindakan Jokowi tidak seharusnya ditafsirkan sebagai simbol politik. Ia menilai pihak yang mengaitkan prosesi tersebut dengan hal lain justru tidak menghargai budaya lokal.

Bestari menegaskan tidak ada unsur kesengajaan dari Jokowi karena prosesi tersebut merupakan bagian dari rangkaian adat yang dipandu oleh tokoh masyarakat Lampung.

Tokoh Adat Jelaskan Makna Ritual

Tokoh adat Lampung Pepadun, Suttan Seghayo Dipuncak Nur Mawardi Harirama, juga memberikan penjelasan mengenai makna prosesi tersebut.

Menurut Mawardi, ritual meletakkan ujung kaki di atas kepala kerbau merupakan bagian dari tradisi adat Lampung Pepadun dan tidak berkaitan dengan kepentingan politik.

"Pemotongan kerbau merupakan simbol tingginya status sosial dalam masyarakat adat Pepadun. Karena itu, bagi keluarga yang mampu, setiap siklus kehidupan biasanya ditandai dengan penyembelihan kerbau," kata Mawardi.

Ia menjelaskan, prosesi tersebut memiliki makna filosofis sebagai simbol pengendalian diri, bukan bentuk penghinaan terhadap hewan.

"Menempatkan jari kaki di atas kepala kerbau bermakna menghilangkan sifat-sifat binatang dalam diri, seperti sombong, iri, dengki, tamak, dan sifat buruk lainnya. Jadi tidak ada hubungan dengan politik," jelasnya.

Mawardi menyebut prosesi tersebut merupakan bagian dari Begawi Cakak Pepadun atau Munggah Bumi, yakni upacara adat yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Lampung Pepadun.

Ia juga menjelaskan penggunaan karpet merah di lokasi acara tidak memiliki kaitan dengan simbol politik tertentu, melainkan bagian dari tata ruang adat di Kedaton Keagungan Lampung.

"Memang di Kedatun Keagungan karpetnya merah semua. Di tangga, jalan menuju museum, semuanya menggunakan karpet merah. Jadi bukan ditujukan kepada kelompok tertentu," tuturnya.

Baca juga: Presiden Prabowo Disarankan Melawat ke Iran Pasca Kematian Ali Khamenei

Baca juga: Emas Antam Turun Rp2.641.000, 8/7/2026 Perhiasan di Jambi Diprediksi Rp8,6 Juta per Mayam

Baca juga: Sandingi Modi, Prabowo: Demokrasi Memang Rumit Tapi Sistem Terbaik

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.