TRIBUNNEWS.COM - Amerika Serikat dan Iran kembali melancarkan serangan setelah menandatangani Nota Kesepahaman untuk mengakhiri perang pada 17–18 Juni lalu.
Dalam pernyataan yang diunggah pada Rabu (8/7/2026) pukul 08.44 WIB, Pasukan Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan telah menyelesaikan gelombang serangan baru terhadap Iran pada 7 Juli.
CENTCOM menyebut militer AS berhasil menghantam lebih dari 80 target Iran menggunakan amunisi presisi sebagai respons langsung atas serangan terbaru Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Pasukan AS menyerang sistem pertahanan udara Iran, jaringan komando dan kendali, situs radar pantai, kemampuan rudal antikapal, serta lebih dari 60 kapal kecil Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di dalam dan sekitar Selat Hormuz.
Serangan tersebut disebut dilakukan untuk melemahkan kemampuan Iran dalam melancarkan serangan terhadap perdagangan internasional yang melintasi koridor pelayaran tersebut.
CENTCOM menambahkan bahwa Iran baru-baru ini menyerang tiga kapal komersial yang melintasi selat tersebut, yakni M/T Al Rekayyat berbendera Kepulauan Marshall, M/T Wedyan berbendera Arab Saudi, dan M/T Cyprus Prosperity berbendera Liberia.
Baca juga: Inggris Klaim Iran Kembali Lakukan Serangan di Selat Hormuz, Total 3 Kapal Jadi Korban
"Agresi yang tidak beralasan oleh pasukan Iran merupakan pelanggaran gencatan senjata yang jelas dan berbahaya serta merusak kebebasan navigasi," tulis CENTCOM dalam pernyataannya.
Sementara itu, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran, sebuah badan komando militer gabungan yang mengoordinasikan angkatan bersenjata Iran, mengatakan akan memberikan tanggapan keras atas serangan AS tersebut.
"Amerika Serikat melakukan agresi terang-terangan dengan menargetkan lokasi-lokasi di Iran selatan," ungkap Khatam al-Anbiya dalam pernyataan yang dikutip Iran International.
"Angkatan bersenjata akan memberikan respons keras dan tidak akan pernah menerima campur tangan dalam pengelolaan Selat Hormuz."
"Satu-satunya jalur aman bagi pelayaran kapal adalah jalur yang telah ditentukan oleh Iran."
Tak lama kemudian, Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengatakan sirene dibunyikan dan mengimbau warga serta penduduk untuk tetap tenang dan menuju tempat aman terdekat.
Seorang sumber regional mengatakan kepada CNN bahwa beberapa sekutu di kawasan telah mengirimkan pesan kepada Amerika Serikat dan Iran dalam upaya mencegah eskalasi lebih lanjut serta menjaga gencatan senjata.
Militer Kuwait juga mengatakan sistem pertahanan udaranya menghadapi serangan rudal dan drone.
Suara ledakan yang terdengar berasal dari sistem pertahanan udara Kuwait yang mencegat ancaman tersebut.
Baca juga: AS Serang Iran di Tengah Prosesi Pemakaman Ali Khamenei, Ledakan Terdengar di Dekat Selat Hormuz
Staf Umum Angkatan Darat Kuwait mengimbau warga dan penduduk untuk mengikuti instruksi keamanan dan keselamatan yang dikeluarkan oleh pihak berwenang.
Sementara itu, juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengatakan sebuah drone MQ-9 milik Amerika Serikat ditembak jatuh di Khormoj, Provinsi Bushehr, Iran.
Menurut media pemerintah Iran, Brigjen Hossein Mohabi mengatakan drone tersebut menjadi sasaran sistem pertahanan udara IRGC setelah apa yang disebutnya sebagai agresi udara AS sebelumnya.
Terbaru, Garda Revolusi Iran mengatakan bahwa mereka telah menyerang 85 situs militer AS di Bahrain dan Kuwait setelah menuduh Amerika Serikat melanggar gencatan senjata dengan serangan udara di Iran selatan.
IRGC mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa serangan AS bertujuan untuk menutupi prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei yang tewas di Irak, dan mengatakan AS memandang jumlah peserta sebagai tanda lebih lanjut dari kekalahannya.
Mengutip NBC News, serangan terbaru ini memunculkan pertanyaan mengenai keberlanjutan kesepakatan jangka panjang untuk mengakhiri perang yang dimulai oleh AS dan Israel pada 28 Februari.
Presiden Donald Trump dan para pejabat Iran menandatangani nota kesepahaman pada pertengahan Juni yang memulai periode 60 hari untuk menegosiasikan kesepakatan baru.
Utusan khusus Trump, Steve Witkoff, dan menantunya, Jared Kushner, melakukan perjalanan ke Doha, Qatar, pekan lalu untuk mengadakan pembicaraan dengan mediator Qatar.
Baca juga: Menlu Iran: Negosiasi untuk Kesepakatan Akhir Tak akan Dimulai jika Ancaman AS Terus Berlanjut
Namun, keduanya tidak bertemu langsung dengan negosiator Iran yang juga berada di Doha.
Salah satu isu paling sulit yang masih dinegosiasikan adalah kemungkinan pembatasan program nuklir Iran dan persediaan uranium yang diperkaya.
Pembicaraan tampaknya terhenti pekan ini karena Iran tengah menggelar rangkaian upacara pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan pembuka perang.
Mojtaba Khamenei, putranya yang berusia 56 tahun, diangkat sebagai penggantinya pada Maret, tetapi hingga kini belum muncul di depan publik maupun mengeluarkan pernyataan audio sejak menjabat sebagai pemimpin tertinggi.
Peti jenazah Khamenei dipajang pada Selasa di Qom, pusat studi keagamaan Iran.
Para pejabat Iran mengatakan prosesi pemakaman akan berlanjut pada Rabu di Irak, yang menjadi lokasi dua tempat suci paling penting bagi umat Syiah.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang berada di Najaf, Irak, untuk menghadiri upacara pemakaman, dilaporkan kembali ke Teheran setelah serangan AS terhadap Iran, menurut media pemerintah.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)