TRIBUNWOW.COM - Presiden FIFA, Gianni Infantino, kembali menjadi sorotan dunia pasca kontroversi yang mewarnai Piala Dunia 2026.
Gianni Infantino mendapat desakan untuk mundur dari jabatannya oleh sejumlah lapisan masyarakat dan organisasi kemanusiaan.
Tak hanya didesak lengser, Infantino juga dilaporkan ke Komite Etik FIFA atas dugaan melanggar kode etik karena kedekatannya dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Mengutip Sky Sports pada Selasa (7/7/2026), desakan itu muncul setelah FIFA mengizinkan Folarin Balogun, tetap tampil saat menghadapi Belgia di Piala Dunia 2026.
Pasalnya, penyerang Amerika Serikat tersebut mendapat kartu merah setelah menginjak pergelangan kaki pemain Bosnia, Achilles Muharemovic pada Kamis (2/7/2026).
Namun, Giovanni Infantino diduga masih memberi izin kepada Balogun untuk tetap bermain pada laga selanjutnya.
Baca juga: Sosok Mikel Merino: Bintang Spanyol Asal Arsenal, Beri Petaka Ronaldo & Portugal di Piala Dunia 2026
Keputusan tersebut menuai kritik dari sejumlah pihak, termasuk pemimpin Partai Liberal Demokrat Inggris, Sir Ed Davey.
"Infantino harus pergi. Di mana pun diselenggarakan, Piala Dunia adalah milik para penggemar," ujar Ed Davey, dikutip dari Sky Sports pada Selasa (7/7/2026).
Meski demikian, mundur disebut bukan menjadi pilihan bagi Infantino.
Presiden FIFA berusia 56 tahun itu telah memimpin organisasi sepak bola dunia selama satu dekade dan dikabarkan akan kembali mencalonkan diri pada pemilihan presiden FIFA tahun depan.
Menurut laporan Sky Sports, peluang Infantino untuk mempertahankan jabatannya sangat besar.
Ia disebut telah mengantongi dukungan dari konfederasi sepak bola Asia (AFC), Afrika (CAF), dan Amerika Selatan (CONMEBOL).
Sebanyak 211 asosiasi anggota FIFA memiliki hak suara dalam pemilihan presiden.
Sementara itu, gabungan suara dari AFC, CAF, dan CONMEBOL mencapai 111 suara, jumlah yang dinilai cukup untuk mengamankan kemenangan Infantino.
Bahkan, Infantino diperkirakan akan menjadi satu-satunya kandidat sehingga berpeluang kembali terpilih secara aklamasi.
Baca juga: Setelah Singkirkan Portugal, Aksi Penyerang Spanyol Lamine Yamal ke Cristiano Ronaldo Jadi Sorotan
Di sisi lain, FIFA menegaskan bahwa keputusan terkait status Folarin Balogun sepenuhnya berada di tangan Komite Disiplin FIFA yang bersifat independen.
Mereka menyebut Infantino tidak terlibat dalam keputusan yang membatalkan sanksi larangan bermain satu pertandingan terhadap Balogun.
Namun, kontroversi yang menimpa Infantino tidak berhenti di situ.
Menurut ESPN pada Selasa (7/7/2026), organisasi hak asasi manusia FairSquare mengajukan permohonan penyelidikan terhadap Infantino atas dugaan pelanggaran kode etik FIFA.
Laporan tersebut dipicu oleh tindakan Infantino yang memberikan FIFA Peace Prize atau penghargaan tokoh perdamaian kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Dalam acara tersebut, Infantino memuji Trump sebagai sosok yang dinilai berperan dalam berbagai upaya perdamaian dunia.
"Inilah yang kami harapkan dari seorang pemimpin.
Anda pantas mendapatkan Penghargaan Perdamaian FIFA pertama atas tindakan Anda dalam mencapai apa yang Anda raih.
Anda selalu dapat mengandalkan dukungan saya, Bapak Presiden," kata Infantino.
Baca juga: FIFA Izinkan Pemain Amerika Serikat Balogun Tampil meski Kartu Merah, Belgia Ajukan Protes
Pernyataan tersebut kemudian memicu kritik dari FairSquare.
Organisasi tersebut menilai tindakan Infantino bertentangan dengan prinsip netralitas yang harus dijunjung FIFA.
"Pemberian penghargaan semacam ini kepada seorang pemimpin politik yang sedang menjabat merupakan pelanggaran jelas terhadap kewajiban netralitas FIFA," tulis FairSquare dalam laporannya.
Hingga kini, Komite Etik FIFA belum memberikan tanggapan terkait laporan tersebut.
FIFA juga belum mengonfirmasi apakah laporan yang diajukan FairSquare telah diterima secara resmi.
(TribunWow.com/Peserta Magang Universitas Sebelas Maret/Meyra)