IDAI Ingatkan Polusi Udara Tak Cuma Ganggu Paru-paru, Bisa Juga Picu Risiko Kanker
GH News July 08, 2026 02:11 PM
Jakarta -

Polusi udara pada anak tak hanya berdampak pada saluran pernapasan, tetapi juga dapat mengganggu hampir seluruh organ tubuh, bahkan meningkatkan risiko kanker. Hal ini diungkapkan dokter spesialis anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Cynthia Centauri, SpA(K), Subsp Resp.

"Dampak polusi udara sebetulnya tidak terbatas di saluran pernapasan, tapi sebetulnya terjadi sistemik dari ujung kepala sampai ujung kaki. Semua sistem tubuh kita bisa terganggu," kata dr Cynthia dalam konferensi pers, Selasa (7/7/2026).

Menurutnya, paparan polusi udara dapat mengubah sistem kekebalan tubuh, memicu stres oksidatif, serta menyebabkan kerusakan pada saluran dan sel-sel pernapasan. Dampaknya juga tidak hanya terbatas pada paru-paru.

"Bisa mengenai masalah di jantung, pembuluh darah, memicu kanker, mengganggu saraf, kemudian juga faktor-faktor pembekuan darah ataupun mengganggu saturasi atau kadar oksigen darah," ujarnya.

Selain itu, dr Cynthia mengatakan paparan polusi pada ibu hamil juga dapat memengaruhi janin sejak masih berada di dalam kandungan. Akibatnya, bayi berisiko lahir dengan berat badan rendah, lahir prematur, hingga mengalami gangguan fungsi paru sejak lahir.

Di sisi lain, ia menambahkan, beban paparan polusi pada anak berasal dari berbagai sumber, baik di dalam maupun di luar rumah. Kondisi rumah yang lembap dan berjamur, asap dari aktivitas memasak tanpa ventilasi yang memadai, keberadaan perokok, renovasi rumah, hingga pembakaran sampah di sekitar lingkungan dapat meningkatkan paparan polusi.

Selain itu, polusi yang dihirup anak selama perjalanan menuju sekolah maupun di lingkungan sekolah juga turut berkontribusi terhadap total paparan yang diterima setiap hari.

"Jadi kita melihat beban polusi itu tidak hanya melihat bagaimana dia tinggal, apakah ruangan atau posisi rumahnya itu di daerah yang berpolusi atau tidak, bagaimana tetangganya atau di dalam rumahnya sendiri, apakah ada yang sedang renovasi, bagaimana tetangganya, apakah ada misalnya tempat pembakaran sampah di sekitarnya," ucapnya.

"Di rumah sendiri misalnya kalau mau masak, tapi kemudian asapnya mencemari lingkungan rumah, tidak ada ex-host atau misalnya bukan merupakan dapur terbuka, atau ada perokok, ada bocoran karena jamur misalnya di dalam rumah lebak, atau sepanjang transportasi mau ke sekolah atau mobilisasi kemana pun, atau di lingkungan sekolah sendiri," lanjutnya lagi.

Menurutnya, akumulasi paparan tersebut dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan berulang, memicu munculnya asma pada anak yang memiliki bakat penyakit tersebut, maupun memperparah serangan pada penderita asma.

Pada anak yang memiliki penyakit alergi, seperti rinitis alergi, polusi udara juga dapat memperburuk perjalanan penyakit. Kondisi ini berisiko memicu gangguan tidur, mengganggu kemampuan belajar, hingga meningkatkan risiko anak tumbuh menjadi dewasa dengan penyakit paru kronis.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.